|
Setiap kali aku merindu, muncul ulat di kebun, berjingkat dengan perut melintasi daun jambu. Sebentar juga dia akan menelannya, karena pada hijau daun, mata waktu menitipkan kenangan. Lama ia istirah dalam duka, berkemul dalam air matanya sendiri. Setelah duka didiamkan ia mampu merobek jaring air mata, menjadi kupu-kupu dan terbang ke arahmu. Satu rindu, satu kupu-kupu, mengindahkan hidupmu. Semalam aku merindu, begitu rindu. Tetes air mata beribu, keluar dari mataku, berjingkat dengan perut, menuju daun jambu. Subuh… tumpas sudah daun jambu ribuan ulat menggelantung di tulang-tulang daun yang kurus. Seribu, rindu, seribu kupu-kupu, menderu ke arahmu. Mereka terbang ke kamarmu, menelusup lewat jendela yang kau buka untuk embun, lewat pintu yang kau buka separuh. Menempel pada kaca jendela yang kabur, pada rekahan dinding, cat yang terkelupas, di atas seprei putih yang kau ganti setiap pagi. Seribu rindu, seribu kupu-kupu menyesaki duniamu. Kini kau tahu, kenapa rindu menyiksaku selalu. |
| Cut Ika June 1, 2009 02:46 PM PDT puisi ini indah banget..sampe nangis bacanya...hehehe...4 jempol deh..kok bisa sih nulis dan merangkai kata2 indah...belajar nya gimana tuh??? ;) | ||
| Leave a Comment: |