Entry:
centhini
Tuesday, June 21, 2005



empat puluh malam dan satunya hujan

Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
175 halaman

Serat Centhini (Suluk Tambangraras, ditulis pada tahun 1809) adalah kitab Jawa yang paling kontroversial. Di dalamnya ada pelajaran tentang agama Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum santri, tapi ada juga ajaran mistis kejawen. Ada puisi tentang kebijakan moral, tapi juga ada cerita adegan ranjang dan juga sodomi yang paling vulgar dan kelewat batas hingga dituduh porno.

Adalah Elizabeth D. Inandiak, perempuan asal Prancis yang menetap di Indonesia, yang berinisiatif untuk menghadirkan Serat Centhini yang lebih ringkas (dari 4.000 halaman menjadi 173 halaman), lebih mudah dimengerti, namun tetap puitis dan berisi. Ia mengambil adegan pokok, yaitu tentang asal-usul para raja Jawa, pertempuran antara kelompok abangan (Sultan Agung) dan kelompok Islam jalan lurus (Sunan Giri), dan juga drama dalam kamar pengantin selama 40 hari.

Di kamar pengantin itulah, selama 40 hari, Amongraga dan istrinya, Tambangraras, bertukar kata. Amongraga baru menyetubuhi istrinya pada malam ke-40, saat hujan hangat turun dan meruapkan aroma daun teh di pekarangan. Sebelumnya, mereka berdua hanya berdialog dengan telanjang bulat. Amongraga mengajarkan tauhid, shalat, dan juga keindahan batin serta cinta dan senggama kepada Tambangraras. Di balik layar terawang, Centhini, pembantu Raras, duduk bersimpuh menunggu dengan terjaga. Centhinilah yang kemudian mengabarkan tentang adegan dan dialog dalam kamar pengantin itu.

***

tembang 88

Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: "Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya."

Di haluan ranjang, Tambangraras membungkuk dan berkata:
-Oh, Apiku! aku mendengar dan berkenan. Tapi tolong katakan, ketika si kekasih berkata kepada terkasihnya: "Aku terbakar bagimu", siapakah yang terbakar? Apakah si kekasih yang terbakar bagi terkasihnya, atau sang terkasih yang terbakar api kekasihnya?

-Sebenarnya, Dinda, cinta adalah nyala agung yang membakar segalanya.

Di balik sekat berkerawang, Centhini merasakan malam undur diri sebelum pudar.

***

Syair-syair di:

tembang 6

Lalu gong berat bergaung
Dipikul hiruk-pikuk dengung
Sampai gamang asmara
Wangi rambang kusuma
Tajuknya bertahtakan permata
Menghiasi telinga-sayapnya bersaput emas
Yang merindukan kata-kata dari Atas
Hujan kupu-kupu padma mati
Tangisku merenungi langit
Ribuan doa puji sia-sia
O, di ranjang tahta hati
Gelombang biru dan getah putih
Yoni telah mengosongkan pikirannya
Dan menjadi telaga jernih
Di dasarnya lingga dielu-elukan
Hilang kesadaran
Raksasa bermata satu
Sedam malam membatu
Diberkati sang Waktu
Dibanjiri siang hari
Sayang! Kekasihku
Larimu menunjukkan kepada yang fana
Di atas pemuliaan dan celaan
Bahwa tiada pertemuan
Selain penyerahan raga-jiwa

***

tembang 72

Ibu, haruskah cinta diresmikan dengan noda?

***

tembang 81

Jika kau dahagakan air
Air dahagakanmu

***

tembang 100

Tembakan campur asap mesiu
Kilasan bintang gemintang di sela awan
Tumbuh-tumbuhan kehebatan
Hujan di luar musim

Bentangan langit luas di atas
Misbah yang membakar kantuk
Embun menetes ke pasu
Isak pelawak di dalam gua
Bulan dan bintang terusir siang

***

tembang 111

Ada tiga macam rahasia
Rahasianya rahasia
Rahasia Ilahi
Dan rahasia diri sendiri

Rahasia diri sendiri berada di dalam cahaya
Sangat cerah, megah, tanpa kerudung apapun
Meski demikian, ia tak kasat mata

***

Terimakasih buat Opi yang meminjamkan bukunya.

   2 comments

mer
July 12, 2006   02:34 AM PDT
 
wow.. menarik sekali. terimakasih untuk exceprt-nya.
salam kenal.
onelife
June 22, 2005   03:49 PM PDT
 
menarik!
Q, kamu tentunya udah khatam buku ini? gimana? bagus?

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments