|
Vloeimans meniup terompetnya dengan lembut, menghasilkan suara yang menenangkan. Tiba-tiba Reijseger membelokkan keseriusan dan kecantikan suara terompet itu dengan gesekan dan juga betotan pada cellonya yang nyeleneh. Goudsmit pun mengekor dengan petikan-petikan gitar yang membuat musik semakin lari dari partitur. Jazz adalah musik kemerdekaan dan ketiganya mengerti benar akan kemerdekaan itu. Mereka tidak hanya membebaskan bunyi dari not-not skor yang tertulis rapi di atas kertas, tapi juga membebaskan alat musik untuk mengeluarkan bunyi semaunya. Rejseger adalah bintang dalam masalah ini. Di tangannya, cello tidak hanya digesek, tapi juga dipetik berdiri seperti kontra bas, dipetik dengan dipangku seperti bas elektrik, dan bahkan menjadi perkusi. Ia juga membuat cellonya seperti hidup, berjalan menaiki anak tangga sambil mengeluarkan bunyi dari benturan antara kaki cello dengan anak tangga. Hanya bertiga dan mereka serasa orkestra lengkap. Cello Reijseger memberi suara musik klasik, trompet Vloeimans memberi atmosfir jazz 1950-an, dan gitar menghadirkan nuansa modern, bahkan rock. Ketiganya memanjakan jiwa bermain kanak-kanak. Maklum, Reijseger adalah penyuka game elektronik yang luar biasa (dari kegemaran ini muncul lagu berjudul Prince of Tiberian) dan Vloeimans adalah fans Harry Potter (sebuah lagu juga lahir dari fanatisme ini). Mengantuk menonton jazz? Oh jangan sampai. Trio ini tak kalah lucu dengan pelawak Trio Patrio. Ketiganya memiliki selera humor yang amat tinggi dan tidak malu untuk mengekspresikannya di atas panggung. Meski demikian, di saat yang sama mereka benar-benar serius memainkan musiknya. Mendengar lagu demi lagu, mendengar mereka memainkan hanya tiga alat musik, membuat kita melambung. Trompet menyediakan permadani atau savanah tempat kenangan berlabuh, sedang cello yang digesek berjuang menyeret kita kembali ke kenangan masa lalu. Fuih... orgasme! |
| Leave a Comment: |