Satu kelokan lagi dan aku akan melihat jajaran pohon pinus. Sudah belasan tahun berlalu, tapi aku tahu pasti barisan pinus ada di ujung jalan itu. Pohon-pohon randu yang sudah mulai kering kapuknya dan sudah berduri pokoknya menghalangi pandanganku dari pinus-pinus lurus itu. Tapi aku yakin, ia ada di sana. Di kotaku, di dataran rendah, terlalu sulit untuk melupakan barisan pinus.
Sudah belasan tahun, dan tak ada yang berubah. Di sini waktu berhenti. Jalanan yang kuinjak kini adalah jalan yang kutapak belasan tahun lalu. Diawali dengan jalan aspal yang tak terawat berlubang-lubang, dilanjutkan dengan jalan tanah liat berbatu-batu. Di musim hujan jalanan ini menjadi liat dan menjengkelkan. Kami (aku dan teman-teman) harus harus berkali-kali membuang lempung dari ban sepeda dan sandal jepit yang hampir putus. Di musim panas seperti sekarang ini tanah liat menjadi debu dan daun-daun pinus menjadi kelabu. Tetapi perjalanan yang menjengkelkan ini tak pernah membuatku jera untuk selalu kembali.
Setelah belasan tahun aku kembali di sini. Sendiri... Aneh rasanya kembali menapak jalan ini seorang diri. Begitu sunyi. Kesunyian yang aneh. Bukan kesunyian yang kau cari saat membutuhkan ketenangan. Tapi kesunyian yang begitu kau kenal, seperti sudah kau akrabi sejak bunda melahirkanmu. Mungkin seperti kesunyian di dalam rahim.
Aku sudah sampai di kelokan. Benar, pinus-pinus itu masih berdiri tegak di ujung jalan. Kawan, akhirnya kita bertemu lagi.
Aku duduk melepas capek di jembatan kecil, tepat di kelokan ini. Di bawahku mengalir parit keruh. Dulu kami sering mencuci sepeda yang berantakan terserang lumpur di situ. Kecipak air yang kami mainkan masih terdengar jelas.
Aku jelas tahu kenapa aku kini di sini. Tak mungkin aku menempuh jarak ratusan kilometer kalau tak tahu kenapa. Mustahil kubiarkan matahari siang ini melelehkan tubuhku kalau tak mengerti mengapa. Masalahnya, aku tak tahu apakah ini akan berhasil. Apakah pengorbananku tak sia-sia.
Semua bermula sebulan lalu, ketika aku tidak merasakan apa-apa saat bangun pagi. Tentu, seluruh sel tubuhku masih berfungsi. Bahkan ereksi pagi tak absen. Tapi otakku kosong begitu mata terbuka. Aku lihat langit-langit kamar dan tak ada sesuatupun yang aku pikirkan. Aku tak melamun, tapi sama sekali tidak berpikir. Entah berapa lama aku tak bergerak sedikitpun, sampai aku tak bisa lagi menahan kantung kemihku.
Setelah mandi dan kepala kuyup oleh air dingin, hal itu tak berubah. Juga ketika aku sampai di kantor dan sibuk oleh pekerjaan. Aku mengerjakannya seperti mesin. Aku melihat orang-orang di kantor, dan sepertinya aku tidak berada di tengah-tengah mereka.
Aku seperti hidup dalam gelembung plastik yang besar. Aku bisa melihat orang-orang di sekitarku. Mereka juga bisa melihatku. Tapi mereka begitu asing, seperti berada di dunia yang berbeda. Mereka berbicara tapi tak dapat kudengar, mereka memberi pesan tapi tak sampai kepadaku. Kehampaan itu membuat otakku terasa kosong. Aku tak tahu apa yang kupikirkan, aku tak tahu apa yang kumau, aku tak tahu apa yang harus dilakukan.
Semua terasa hambar, semua terlihat datar.
Sebenarnya, setiap kegelisahan datang, aku selalu teringat sebuah tempat di balik barisan pinus ini. Tempat yang pernah akrab denganku, tapi selalu aku hindari belakangan ini. Tempat bermain saat kecil dan "gua persembunyian" ketika remaja. Di sanalah segala masalah dulu kuendapkan. Ia adalah pasir hisap yang setia menelan semua kegelisahanku.
Ayah yang mengenalkan tempat ini kepadaku.
Suatu siang yang panas. Saat itu aku baru berumur sembilan tahun. Seperti biasa, bunda menyuruhku tidur siang begitu selesai makan. Ia tak mau lagi mendengar aku mengantuk di surau saat mengaji. Siang ini bunda memberi banyak tekanan pada perintah tidur siangnya.
Aku masuk kamar, tapi tak bisa tidur. Mendongkol, karena siang ini aku punya banyak rencana. Kemarin Pak Leman, pembuat sepatu bola, mengatakan akan membuat bola kulit siang ini. Seorang dari Surabaya memesan beberapa buah darinya. Ia berjanji akan menunggu aku untuk mulai membuat sepatu. Tapi dia pasti tak mau menungguku selamanya. Siang ini pandai besi di dekat rumah Kamil akan membuat pacul yang dilapisi kaca agar lempung sawah tak lengket. Itu juga tak bisa kulihat karena acara tidur siang. Ini tak adil, kenapa orang tua tak wajib tidur siang? Bukankah mereka juga butuh istirahat?
Tiba-tiba ayah sudah duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum dan menyuruhku menemuinya di ujung jalan. Ia hanya memintaku untuk tidak ribut. Meski keheranan, aku enggan bertanya. Aku takut satu pertanyaan akan membuatnya membatalkan usaha penggagalan tidur siangku. Aku tak peduli ke mana ia akan membawaku. Aku tak peduli meski ayah tak mungkin mengajakku ke pabrik sepatu Pak Leman atau pandai besi. Yang jelas, aku tidak tidur siang lagi.
Ayah datang membawa sekuter cokelatnya yang masih baru. Ia baru membelinya sepekan lalu, dan masih senang mengendarainya, ke mana saja. Awalnya aku mengira kami akan ke pertokoan, tapi sesampainya di jalan besar ia justru mengambil arah timur. Ia terus membawaku hingga kami melewati rumah sakit. Setelah kantor polisi, ayah mengambil jalan kecil. Aku memasuki kawasan yang tak kukenal. Semakin lama jalanan semakin parah. Ia memperlambat sekuternya. Di tengah barisan pinus ia berhenti. Aku tertegun, inilah untuk pertama kalinya aku melihat pohon yang tinggi, lurus, namun daunnya lurus seperti cacing kelaparan. Sebelumnya kukira hanya pohon beringin di halaman kawedanan yang bisa setinggi raksasa.
Kepalaku tetap mendongak meski ayah sudah kembali menjalankan sekuternya. Ujung-ujung pinus yang kelabu seperti tumbang ke belakangku.
Beberapa puluh meter kemudian kami kembali berhenti. Di depan ada gerbang kecil dan pagar kawat. Di sebuah rumah kecil dengan atap beton ayah menitipkan sekuternya. Di balik pagar yang dijalari tumbuhan rambat, pohon-pohon besar mengelilingi sebuah sendang, sebuah mata air. Akar-akarnya menjuntai, menembus air bening dan menancap di dasar kolam. Batu-batu lonjong sebesar telur menjaga sendang ini tetap jernih. Tak terlalu dalam.
Kami duduk di tepinya, di bawah bayang-bayang pohonan rimbun. Kemarau tak datang kemari. Kepala ayah terangguk saat aku melihat matanya. Dengan ragu aku masuk ke dalam air yang dingin itu. Aku belum bisa berenang. Aku hanya seperti kerbau yang mendinginkan badan setelah sekian lama tertusuk matahari.
Ayah berbaring saat aku mentas. Daun-daun kering yang sebagian sudah menghumus dipunggunginya. Aku berbaring di sampingnya dan menatap pohonan. Satu dua daun kering jatuh dari ranting di atas sana. Turun perlahan terbawa angin.
Kami tertidur.
Ayah membangunkanku ketika matahari akan segera hilang di balik pohon. Entah berapa lama kami tertidur. Ayah memacu motornya lebih kencang. Debu berterbangan dan ia tak peduli lagi dengan pegas motor barunya.
Ia mengambil jalan yang berbeda. Aku menyadarinya saat di samping kanan kiri kami ada lautan putih bunga sedap malam. Ayah menghentikan sekuternya dan memintaku berdiri di belakang kemudi. Aku baru tahu alasannya saat keharuman aku cium dari angin yang menerpa wajahku. Malam hampir tiba dan bunga-bunga putih ini menepati janjinya untuk menebar wangi.
Setelah itu kami tak pernah ke sana berdua. Aku masih datang ke sana dengan mengajak teman-teman. Ketika remaja, ketika kegelisahan sudah mulai datang, aku memilih sendang ini untuk menjadi gua kelaki-lakianku. Tempat aku membuang angin ribut musim panca roba. Tempat aku membagi kesedihan. Setelah kuliah, aku tak pernah lagi ke sini. Apalagi setelah ayah meninggal dan aku tinggal di Jakarta.
Kini, setelah belasan tahun berlalu, aku kembali di sini. Pagar itu masih yang dulu. Gerbang itu tak pernah berubah. Sendang itu masih jernih dan teduh. Tapi aku tak tahu apakah ia masih "bertuah". Apakah ia masih sanggup mengisap seluruh kegundahanku. Aku kembali di sini, rebah di atas humus dan daunan kering.
***
Cemas itu, nak, memang telah jadi umum
dan akan sampai pula kemari
Nah rapikan rambutmu sebelum kucium
dengan tangkai daun yang telah lama mati
(Puisi oleh Goenawan Mohamad: Sajak Untuk Bungbung)