"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< December 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, January 16, 2007
hei norah

hei norah
menyanyilah
karena
langit malam sedang cerah

dan seperti balon sesat
kaki kami siap
melangkahi gemintang
ya, ada juga rembulan
yang membuat kami terjaga


Posted at 11:51 am by qaris
Kasih Komentar  

Thursday, January 04, 2007
di sini

di sini
aku terbenam

kota hanya tinggal keriuhan.
tak ada gedung dan menara.
ada langit
dan awan bak pasukan berjuta

di sini
yang tersisa hanya aku
dan kesendirian

di sini
kata-kata kehilangan pesona

Posted at 08:18 pm by qaris
Kasih Komentar  

orkestra senja yang senyap




senja ini
aku memesan langit lembayung untukmu

ketika
mentari terkubur
di balik barisan gedung angkuh

ketika
ia menyepuh emas pada gemawan

dan...
sebuah bintang
menutup orkestra yang senyap

dan...
tiba-tiba aku bisa bahagia



(Terimakasih buat Melly untuk fotonya)


Posted at 07:54 pm by qaris
Komentar (1)  

Tuesday, December 26, 2006
Menghidupkan Dunia yang Hilang




Dengan nada tinggi namun lirih, Kunthi mengutuki keponakannya, para Kurawa. Mereka telah menolak ajakan damai Pandawa yang disampaikan putranya, Kresna. "Sandhanganmu wis dudu kaendahan kang mbabar pasemon." Busanamu sudah tak lagi tentang keindahan kemanusiaan. Begitu bait itu selesai, gending ditabuh cepat, dan perang Baratayudha pun pecah.

Kamis, 7 Desember, adegan yang diambil dari lakon Tanding Gendhing itu ditampilkan di aula Hotel Dharmawangsa yang mewah. Di hadapan 300 penonton yang rela membayar Rp 1 juta untuk selembar karcis. Pertunjukan istimewakah?

Sepertinya begitu. Iwan Tirta, perancang busana yang menggagas pagelaran itu, telah menyiapkannya sejak 1961. Sejak ia mendatangi satu per satu abdi dalem keraton untuk menanyakan motif batik klasik yang sudah punah. Sejak ia memelototi foto hitam putih para penari Bedhoyo dari abad silam. Sejak ia mulai merekonstruksi batik-batik kuno yang tak lagi dibuat.

Malam itu adalah puncak dari usaha Iwan. Bukan hanya pada penciptaan kembali batik kuno, tapi juga asesoris dari emas 24 karat yang bahkan kini tak lagi dimiliki oleh keraton, kecuali dalam kondisi rapuh dan dipajang di museum. Malam itu, Iwan merayakan keberhasilannya.

Ada Iwan, tapi tak ada peragaan busana dengan model yang melenggak-lenggok di atas cat-walk. Kali ini Iwan ingin memamerkan busananya dalam cara yang berbeda. Batik-batik hasil rekonstruksi itu ditampilkan lewat para penari Serimpi Anglir Mendhung dan pemain langendriyan atau opera Jawa klasik. Para penari itulah model Iwan kali ini. "Hanya dengan cara itu, batik dapat mengeluarkan keindahan maksimalnya," kata Iwan.

Lewat empat penari Anglir Mendhung---salah satu jenis tari serimpi yang sudah langka---Iwan memamerkan batik bermotif Gagak Seta. Sedang untuk sembilan pemain langendriyan, Iwan juga membuat sembilan motif batik klasik, sesuai dengan karakter dan jabatan tokohnya. Di antaranya Semen Gedhe Pradan yang dilapisi emas 24 karat untuk Kresna, Poleng dengan kotak hitam-putih mirip papan catur untuk Bima, dan Alas-alasan untuk Gendari dan Kunthi.

Iwan tak mau tanggung-tanggung. Ia tak hanya menampilkan keaslian batik klasik, tapi juga berkeras agar seluruh elemen pertunjukan itu dibuat seasli mungkin. Untuk itu ia menggandeng pakar busana adat tradisional Jawa, KRAy. S. Dirdjodiningrat, dan ahli keris Haryono Guritno.

Lewat tangan  KRAy. S. Dirdjodiningrat yang akrab disapa Bu Maktal inilah batik-batik Iwan dipakaikan dalam bentuk aslinya, sesuai dengan karakter, jabatan, dan kelas sosial pemakainya. "Kresna dan Duryudana, misalnya," kata Bu Maktal. "Karena keduanya raja, maka harus didodoti dengan cara Kampuhan Pradan dengan ekor kain yang lebih panjang dari tokoh lain." Bahkan, sesuai dengan pakem, ia tak boleh menggunakan alat apa pun, termasuk jarum pentul dan peniti, untuk mendandani penari pria. "Hanya kain satu kain batik panjang dan seutas tali."

Demikian juga dengan keris. Para penari memakai keris pusaka asli yang dipinjam dari Museum Pusaka Taman Mini. Di sini, ahli keris Haryono bertugas mencocokkan setiap keris dengan karakter pemakainya. Misalnya, Ladrang Kagok Capu Kepala Rajamala yang runcing dan rigid dipakaikan ke sang provokator perang, Sengkuni.

Bahkan panggung pun dibuat mirip pendopo. "Karena pertunjukan Jawa harus bisa ditonton dari empat sisi, bukan hanya dari depan seperti seni panggung Eropa," kata Iwan. Harum melati, rajangan pandan, dan parutan kulit jeruk purut merebak.

Yang sedikit keluar dari "pakem" adalah pembuatan tembang-tembang untuk langendriyan yang tak lagi memakai model mocopat (tembang pendek-pendek) yang biasa dipakai di langendriyan. Blacius Subono yang menata musik juga memperlebar arena tebal volume. "Keluar dari pakem, tapi tetap dengan warna tradisional," kata Blacius.

Di luar improvisasi-improvisasi kecil, malam itu Iwan berhasil menghidupkan kembali sepenggal dunia Jawa masa lalu. Merekonstruksi kembali kesenian Jawa klasik dari berbagai dimensi: tekstil, tata busana, tata rias, seni musik, tembang, dan tari.

Akhir bulan lalu, di sebuah restoran bernuansa Jawa klasik. Ketika Jakarta mendung. Iwan menyandarkan punggungnya yang lelah di kursi kayu  "Dunia itu sudah tidak kembali lagi," katanya. Di kursi sebelah, pria berusia 69 tahun itu menggantungkan tongkat yang membantunya berjalan.

Qaris Tajudin
(Majalah Tempo, edisi 17 Desember 2006)

Posted at 01:37 pm by qaris
Kasih Komentar  

Monday, November 27, 2006
rindu embun

awalnya adalah pagi
yang merindukan embun
pergi direbut mentari
atau terserap dedaun

Posted at 03:23 pm by qaris
Kasih Komentar  

Next Page