"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Friday, April 24, 2009
Malam Ini Aku Dapat Menulis Larik-larik Paling Sedih (Neruda)

Malam ini aku dapat menulis larik-larik paling sedih.

Menulis, misalnya, 'Malam musnah
dan gemintang biru menggigil di kejauhan.'

Angin malam berputar di angkasa dan bernyanyi.

Malam ini aku dapat menulis larik-larik paling sedih.
Aku dulu mencintainya, dan terkadang dia mencintaiku juga.

Di malam-malam seperti ini aku memeluknya
Kucium dia lagi dan lagi di bawah langit tak berujung.

Dulu, dia terkadang mencintaiku, dan aku mencintainya.
Bagaimana mungkin ada yang tidak mencintai matanya yang teduh.

Malam ini aku dapat menulis larik-larik paling sedih.
Terpikir aku tak lagi memiliki dia. Terasa aku telah kehilangan dia.

Terdengar malam yang senyap, semakin senyap tanpanya.
Dan puisi jatuh ke dalam jiwa seperti embun jatuh ke atas padang.

Apa pentingnya, cintaku tak dapat membuatnya tetap di sini.
Malam musnah, dan dia tak bersamaku.

Selesai sudah. Di kejauhan ada yang menyanyi. Di kejauhan.
Kehilangan dia, jiwaku merana.

Pandanganku memburunya, pergi padanya.
Hatiku mencarinya, dan dia masih tidak bersamaku.

Malam yang sama memutihkan pohonan yang sama.
Kami, tentu, tak sama lagi.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi bagaimana bisa dulu aku mencintainya?
Suaraku mencoba menumpang angin untuk menyentuh telinganya.

Yang lain. Dia akan menjadi milik yang lain. Seperti ciuman-ciumanku sebelumnya.
Suaranya. Tubuhnya yang bening. Matanya yang tanpa batas.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku dulu mencintainya.
Cinta ini begitu singkat, melupakannya begitu lama.

Ini adalah kepedihan terakhir yang dia torehkan padaku
dan ini adalah puisi terakhir yang kutulis untuknya.

Pablo Neruda (terjemah Qaris)


Posted at 05:57 pm by qaris
Kasih Komentar  

Wednesday, April 22, 2009
Jika Kau Melupakanku (Neruda)

Aku ingin kau tahu
satu hal.

Kau tahu ini:
jika aku memandang
pada bulan jernih, pada dahan merah
di musim gugur yang merambat lambat di jendelaku,
jika kusentuh
abu kelabu,
atau keriput batang kayu
di perapian,
semuanya akan membawaku padamu,
seperti ketika semuanya masih ada,
aroma, cahaya, besi-besi,
adalah perahu kecil
yang berlayar
ke gugusan pulau tempatmu menungguku.

Tapi, kini,
jika sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku
aku akan berhenti mencintaimu sedikit demi sedikit.

Jika tiba-tiba
kau melupakanku
jangan kau cari aku,
karena aku telah benar-benar melupakanmu.

Jika kau pikir
angin yang lewat dalam hidupku
terlalu panjang dan membadai,
dan kau memutuskan
untuk meninggalkanku di pantai
tempat aku menanam hatiku,
ingatlah
di hari itu,
di jam itu,
aku akan mengangkat tanganku
dan mencabut akarku
untuk mencari negeri yang lain.

Tapi
jika setiap hari,
setiap jam,
dengan kedegilan yang manis
kau merasa ditakdirkan untukku,
jika setiap hari sekuntum bunga
merambat naik ke bibirmu untuk mencariku,
oh cintaku, oh milikku,
maka
dalam diriku kobaran api itu lagi menyala
dalam diriku tak ada yang padam dan terlupa,
cintaku menyuburkan cintamu, Cintaku,
dan selama kau hidup, cinta itu akan ada di genggamanmu
tak akan meninggalkanku.

*** Puisi Pablo Neruda ini saya terjemahkan setelah mengobrol lewat Facebook dengan Mbak Premita Fifi yang juga menyukai Neruda. Kami ternyata sama-sama pernah mencoba menerjemahkan sejumlah puisi Neruda, tapi kerap merasa gagal. Untuk yang ini, saya lumayan terhibur, meski tak puas-puas amat.


Posted at 10:28 pm by qaris
Komentar (1)  

Wednesday, March 04, 2009
Tapi Lalu

Aku bahkan tidak bisa membacamu

Setelah perbincangan yang panjang

Setelah kita tertawa untuk banyak hal

Setelah aku mencarinya lewat matamu

 

Aku bahkan tak tahu

Siapa dirimu

Siapa aku bagimu

Apa kita sesungguhnya

 

Tapi lalu,

Aku tak bisa menatap matamu

Tapi lalu,

Sepi itu datang ketika kau tak ada


Posted at 11:58 pm by qaris
Komentars (2)  

Tuesday, December 16, 2008
Pintu

Mari kuingatkan tentang setapak itu
Nasib mempertemukan kita di jalan itu
yang tak berliku, yang di tepi hutan cemara
Langit sedang cerah, karena mendung
enggan mengganggu kita

Mari kuingatkan tentang pondok itu
Kita temukan tiba-tiba, di ujung huma,
setelah menyusuri setapak sepanjang sore
Kita tak mengharapkannya sebagai istana
karena hanya ingin berdiam satu jenak

Mari kuingatkan tentang pintu itu
Kau memandangku sambil tersenyum,
ketika kau mulai mendorongnya
dan melongok ke dalamnya.
Mari, katamu

Mari kuingatkan tentang gelap itu
Aku melangkah ke dalam, menunggumu
Tapi kau teraga-agak sejenak,
tapi kau menutup pintu, dan berbalik
Membiarkanku dikepung kegelapan
Ketika langit tiba-tiba tak cerah lagi dan hujan mulai turun

Posted at 11:17 pm by qaris
Komentar (1)  

Monday, December 15, 2008
Hujan Bisu

Kasih, bolehkah kau kusebut kekasih?

Dengarkan ceritaku tentang hujan

Hujan yang tak bisa kau sebut hujan

Karena terlalu pendiam

 

Tak ada tiktik ketika ia merintik

Tak ada deru ketika ia menderas

Ia adalah hujan bisu

Karena turun di padang ilalang

 

Sebuah sore dengan langit kelabu

Aku berdiri seperti mercu suar di tengah padang

Angin dingin bergerak, jatuh dari gemawan

Lalu hujan merintik, lalu hujan menderas,

lalu semua tampak menakutkan

 

Tapi tak ada yang kudengar

Selain gemerisik batang-batang ilalang

Di atasnya, tabir hujan berputar-putar dimainkan angin

Sebelum jatuh seperti jala nelayan

 

Tapi tak ada suara ketika ia turun

Batang-batang ilalang melarang

Hujan berkata-kata

Di sini, semua suara dimakamkan

Semua cinta dikuburkan

Juga air mata


Posted at 11:36 pm by qaris
Kasih Komentar  

Previous Page Next Page