"Mirrors should think longer before they reflect," Jean Cocteau
Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.
"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me," Alfred Tennyson
Kau tahu ini: jika aku memandang pada bulan jernih, pada dahan merah di musim gugur yang merambat lambat di jendelaku, jika kusentuh abu kelabu, atau keriput batang kayu di perapian, semuanya akan membawaku padamu, seperti ketika semuanya masih ada, aroma, cahaya, besi-besi, adalah perahu kecil yang berlayar ke gugusan pulau tempatmu menungguku.
Tapi, kini, jika sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku aku akan berhenti mencintaimu sedikit demi sedikit.
Jika tiba-tiba kau melupakanku jangan kau cari aku, karena aku telah benar-benar melupakanmu.
Jika kau pikir angin yang lewat dalam hidupku terlalu panjang dan membadai, dan kau memutuskan untuk meninggalkanku di pantai tempat aku menanam hatiku, ingatlah di hari itu, di jam itu, aku akan mengangkat tanganku dan mencabut akarku untuk mencari negeri yang lain.
Tapi jika setiap hari, setiap jam, dengan kedegilan yang manis kau merasa ditakdirkan untukku, jika setiap hari sekuntum bunga merambat naik ke bibirmu untuk mencariku, oh cintaku, oh milikku, maka dalam diriku kobaran api itu lagi menyala dalam diriku tak ada yang padam dan terlupa, cintaku menyuburkan cintamu, Cintaku, dan selama kau hidup, cinta itu akan ada di genggamanmu tak akan meninggalkanku.
*** Puisi Pablo Neruda ini saya terjemahkan setelah mengobrol lewat Facebook dengan Mbak Premita Fifi yang juga menyukai Neruda. Kami ternyata sama-sama pernah mencoba menerjemahkan sejumlah puisi Neruda, tapi kerap merasa gagal. Untuk yang ini, saya lumayan terhibur, meski tak puas-puas amat.
Mari kuingatkan tentang setapak itu Nasib mempertemukan kita di jalan itu yang tak berliku, yang di tepi hutan cemara Langit sedang cerah, karena mendung enggan mengganggu kita
Mari kuingatkan tentang pondok itu Kita temukan tiba-tiba, di ujung huma, setelah menyusuri setapak sepanjang sore Kita tak mengharapkannya sebagai istana karena hanya ingin berdiam satu jenak
Mari kuingatkan tentang pintu itu Kau memandangku sambil tersenyum, ketika kau mulai mendorongnya dan melongok ke dalamnya. Mari, katamu
Mari kuingatkan tentang gelap itu Aku melangkah ke dalam, menunggumu Tapi kau teraga-agak sejenak, tapi kau menutup pintu, dan berbalik Membiarkanku dikepung kegelapan Ketika langit tiba-tiba tak cerah lagi dan hujan mulai turun