
"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau
Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.
"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson
|
|
Sunday, November 19, 2006
Aku bertemu Lucifer semalam "Aku lebih percaya setan blau dan kuntilanak!" "Tapi hanya aku yang memberimu sayap." Ia mengerat punggungku dan menacapkan pokok sayap ke dalamnya. Mencabuti otot-ototku dan mengikatnya pada sayap baruku. "Kau membuatku kesakitan." "Tak ada makan siang yang gratis, bahkan untuk bekerja sama denganku." "Aku tak mau menjadi hambamu." "Lucifer tak punya sahaya. Aku hanya memberimu kebebasan. Terbanglah!"
Aku berputar di atas kegelapan, mencari orang-orang tak beruntung. Seorang gembel terbangun di depanku. "Siapa kau, malaikat atau hantu?" "Malaikat." "Tapi sayapmu hitam." "Ini karena polusi." "Aku tak percaya." "Apa yang membuatmu percaya?" "Berbuat baiklah seperti malaikat." "Aku tak bisa memberimu makan malam. Malaikat tak punya duit." "Kalau begitu kau iblis. Semalam dia datang, membantuku mencuri untuk makan malam, karena iblis tak punya duit."
Aku berputar di atas kegelapan, mencari orang tak beruntung. Seorang pelacur mengedipkan mata padaku. "Siapa kau, pelanggan atau tramtib?" "Malaikat." "Tapi mulutmu bacin." "Aku belum bersikat gigi saat diangkat menjadi malaikat." "Aku tak percaya. Mulut bacin hanya milik pria penipu." "Apa yang bisa membuatmu percaya?" "Beri aku cinta." "Malaikat tak boleh berperasaan. Kami tak punya cinta." "Kalau begitu kau salah satu pelangganku. Mungkin aku sedang mabuk. Aku sudah lelah, kembalilah besok."
Aku berputar di atas kegelapan, mencari orang tak beruntung. Orang yang baru dirampok berteriak padaku. "Siapa kau, polisi atau perampok?" "Malaikat." "Tapi matamu merah." "Saat terbang, debu masuk ke dalam mataku." "Aku tak percaya. Hanya berandalan mabuk yang matanya merah." "Apa yang membuatmu percaya?" "Singkirkan kekejian dari dunia." "Kejahatan selalu ada untuk keseimbangan dunia. Hanya di surga kekejian musnah." "Kalau begitu kau polisi, mereka selalu berjanji, tapi tak pernah menepati."
Aku berputar di atas kegelapan, kutemukan diriku sebagai orang paling tak beruntung.
Q
Posted at 09:43 am by qaris
Permalink
Friday, November 17, 2006
Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan begadang berdua
di kamar mungil
hanya kita berdua.
Dalam kegelapannya, kita saling mencari tangan
kita minum arak di cangkir kayu.
Kita menciptakan, mungkin, sebuah pulau
bebatuannya adalah emas
pepohonannya adalah emas
seorang ratu berkuasa di sana.
Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan melihat bagaimana Spanyol
menyala oleh api besar
api dari matamu.
Kita mengetahui nikmatnya tersesat di jalan-jalannya
sedang wajah kita di bawah hujan
Kita saling meremas jemari dan membuka hati
Dan kita tahu, di sini cinta memiliki kelezatan
Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan berakhir malam di kanisah
kita membawa lilin dan minyak
dengan kedamaian dan cinta
kita mengadu kepada-Nya
kita menengadahkan kepala kepada-Nya
semoga Ia, di tahun yang baru, wahai kekasih yang jauh
mengumpulkan kita setelah keterasingan
di sebuah rumah dindingnya cinta
yang atapnya cinta
Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan memenuhi perapian dengan ranting warna-warni
Posted at 11:53 pm by qaris
Permalink
Monday, November 06, 2006
Oke, ini bukan seperti
tulisan-tulisan lain di blog ini yang sok serius. Bukan juga ingin
mencoba tulisan curahan hati ala blog. Saya cuma mau mencoba menulis
apa yang saya rasakan setelah beberapa hari tidak menekan-nekan tuts
papan kunci. Hari
ini saya baru masuk kerja setelah libur beberapa hari. Tak ada yang
berbeda dari pagi-pagi sebelum libur. Tapi yang jelas berbeda dari
hari-hari libur. Hari ini saya kembali harus bangun pagi setelah tidur
yang singkat. Semalam ada film yang menahan saya untuk tidur cepat: Great Expectations.
Dulu sekali saya pernah menonton film dengan judul yang sama tapi
dengan naskah yang masih asli. Masih hitam putih, maklum dibuat pada
1946. Disutradarai oleh David Lean, tidak banyak yang saya ingat dari
film ini, kecuali scene-scene muram dan sedikit mengerikan. Yang
saya tonton semalam adalah versi adaptasinya, dibintangi oleh Ethan
Hawke, Gwyneth Paltrow, dan Robert de Niro. Oke, pasti ada yang
menganggap film adaptasi ini tidak lebih bagus dari aslinya. Tapi bagi
saya, film ini jauh lebih menarik. Pertama,
karena alasan pribadi. Saya sedang berusaha mengadaptasi kisah-kisah
klasik Indonesia dalam bentuk yang lebih modern. Tentu, banyak hal yang
harus diubah agar cerita itu cocok dengan keadaan masa kini. Yang
membingungkan adalah, sejauh mana batas-batasnya. Sejauh mana kita bisa
melenceng dari naskah asli? Great Expectations
adaptasi yang ditulis ulang oleh Mitch Glazer dari naskah Charles
Dickens ini mengubah banyak nama tempat (lebih Amerika) dan juga alur
cerita. Banyak yang harus dikorbankan, tentunya. Bagi yang sudah
membaca novel Dickens, adapatasi ini adalah pengkhianatan. Tapi bagi
saya, adaptasi ini berhasil menghadirkan kembali spiritnya, meski dalam
bentuk yang berbeda. Alasan
kedua, kenapa film adaptasi itu lebih menarik, karena memang saya
kurang senang dengan film bersetting masa lalu. Kalau bisa dibuat
adapatasinya, kenapa pula harus setia pada setting masa lalu? Apa
pun, yang jelas saya mendapatkan banyak pelajaran dari menonton film
yang cuma dapat ponten 6,3 dari imdb.com itu. Hampir tidak ada batas
untuk mengadaptasi sebuah kisah kuno. Kita bisa membuatnya menarik
dengan memasukkan banyak plot dan scene baru. Meski itu akhirnya
disebut pengkhianatan. Omong-omong,
saya gagal menuliskan apa yang saya rasakan di hari pertama kerja. Saya
tetap menulis sesuatu yang hampir mirip beberapa tulisan lain di blog
ini, ulasan tentang film. Mohon dimaklumi, itulah yang ada di pikiran
saya sejak semalam.
Posted at 09:01 am by qaris
Permalink
Sunday, June 04, 2006
tiba-tiba aku kehilangan tempat dalam bingkai fotomu
tiba-tiba kau sempurna bahagia
seketika aku masuk ke dalam guaku, menumbuk hati
Posted at 09:02 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 20, 2006
 Pada punggung terbuka pelacur yang tidur tengkurap itu,
terdapatlah lukisan rajah seekor kuda yang berlari.
Suatu malam kuda itu melompat lewat jendela,
berlari ke luar kota, menuju padang terbuka.
Kitab Omong Kosong , Seno Gumida Ajidarma  | Ketertarikan
pertamaku pada kisah-kisah pewayangan adalah lewat komik RA Kosasih
yang diterbitkan secara serial majalah anak-anak pada 1980-an awal.
Masih lekat dalam ingatan bagaimana Bhisma tewas oleh panah Amba pada
suatu senja. Wajah tuanya menggambarkan kesedihan luar biasa. Kosasih,
dengan kesederhanaan komik hitam putihnya, mampu menghadirkan nyawa
para tokohnya. Begitu berkarakter dan mampu tersimpan dalam otak selama
puluhan tahun. Mungkin karena aku tinggal di pesisir
utara Jawa hingga tidak akrab dengan budaya Jawa yang satu ini.
Bahasanya yang terlalu halus dan jarangnya orang menanggap wayang di
tempatku adalah sebabnya. Akhirnya aku harus mengenal wayang lewat
tangan kedua, tangan seorang komikus, bukan tangan seorang dalang. Pertemuan kedua adalah lewat tulisan-tulisan Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir. Adegan-adegan Mahabarata begitu indah dilukiskan. Saya kira, di antara tulisan-tulisan GM dalam Catatan Pinggir
yang kekal adalah serial wayangnya. Kisah Drupadi yang diseret pada
rambutnya, gugurnya Bhisma di tangan mereka yang pernah
ditimang-timangnya, kisah Destarastra, Karna yang meski berjuang untuk
Kurawa namun memiliki semangat perjuangan dan perlawanan. Selanjutnya aku terkesima pada cara Sindhunata mengkisahkan Ramayana dalam buku Anak Bajang Menggiring Angin. Begitu puitis dan indah.
Kosasih, GM, Sindhu, adalah dalang-dalang modern yang dapat
menceritakan Mahabarat dan Ramayana dengan indah. 'Sabetan-sabetan'
mereka adalah kata-kata puitis dan afektiv yang kuat. Tanpa wayang,
tanpa layar, tanpa gamelan, mereka mampu menghadirkan kisah-kisah itu
seperti nyata. Hingga aku membaca Kitab Omong Kosong karangan Seno Gumira Ajidarma.
Meski ditulis dua tahun lalu, namun baru belakangan ini aku membacanya.
Dan aku yakin, daftar penulis wayang modern di atas harus ditambah
seorang lagi. Tidak hanya cara penceritaan khas Seno yang ringan, tapi
juga puisi-puisi yang dibubuhkan di semua tempat. Adaptasi di
sana-sini, tapi itu tak terlalu mengganggu. |
Posted at 05:54 pm by qaris
Permalink
|
|
|