Oke, ini bukan seperti
tulisan-tulisan lain di blog ini yang sok serius. Bukan juga ingin
mencoba tulisan curahan hati ala blog. Saya cuma mau mencoba menulis
apa yang saya rasakan setelah beberapa hari tidak menekan-nekan tuts
papan kunci. Hari
ini saya baru masuk kerja setelah libur beberapa hari. Tak ada yang
berbeda dari pagi-pagi sebelum libur. Tapi yang jelas berbeda dari
hari-hari libur. Hari ini saya kembali harus bangun pagi setelah tidur
yang singkat.
Semalam ada film yang menahan saya untuk tidur cepat: Great Expectations.
Dulu sekali saya pernah menonton film dengan judul yang sama tapi
dengan naskah yang masih asli. Masih hitam putih, maklum dibuat pada
1946. Disutradarai oleh David Lean, tidak banyak yang saya ingat dari
film ini, kecuali scene-scene muram dan sedikit mengerikan.
Yang
saya tonton semalam adalah versi adaptasinya, dibintangi oleh Ethan
Hawke, Gwyneth Paltrow, dan Robert de Niro. Oke, pasti ada yang
menganggap film adaptasi ini tidak lebih bagus dari aslinya. Tapi bagi
saya, film ini jauh lebih menarik.
Pertama,
karena alasan pribadi. Saya sedang berusaha mengadaptasi kisah-kisah
klasik Indonesia dalam bentuk yang lebih modern. Tentu, banyak hal yang
harus diubah agar cerita itu cocok dengan keadaan masa kini. Yang
membingungkan adalah, sejauh mana batas-batasnya. Sejauh mana kita bisa
melenceng dari naskah asli?
Great Expectations
adaptasi yang ditulis ulang oleh Mitch Glazer dari naskah Charles
Dickens ini mengubah banyak nama tempat (lebih Amerika) dan juga alur
cerita. Banyak yang harus dikorbankan, tentunya. Bagi yang sudah
membaca novel Dickens, adapatasi ini adalah pengkhianatan. Tapi bagi
saya, adaptasi ini berhasil menghadirkan kembali spiritnya, meski dalam
bentuk yang berbeda.
Alasan
kedua, kenapa film adaptasi itu lebih menarik, karena memang saya
kurang senang dengan film bersetting masa lalu. Kalau bisa dibuat
adapatasinya, kenapa pula harus setia pada setting masa lalu?
Apa
pun, yang jelas saya mendapatkan banyak pelajaran dari menonton film
yang cuma dapat ponten 6,3 dari imdb.com itu. Hampir tidak ada batas
untuk mengadaptasi sebuah kisah kuno. Kita bisa membuatnya menarik
dengan memasukkan banyak plot dan scene baru. Meski itu akhirnya
disebut pengkhianatan.
Omong-omong,
saya gagal menuliskan apa yang saya rasakan di hari pertama kerja. Saya
tetap menulis sesuatu yang hampir mirip beberapa tulisan lain di blog
ini, ulasan tentang film. Mohon dimaklumi, itulah yang ada di pikiran
saya sejak semalam.
Posted at 09:01 am by qaris
Permalink