
"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau
Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.
"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson
|
|
Sunday, May 14, 2006
| Ada dua tipe nomaden modern ini. Tipe pertama adalah mereka yang setiap lembar diary
mereka tertulis nama negara yang berbeda. Mereka adalah orang-orang
super sibuk, dan tentunya super kaya, yang perusahaannya terbentang
dari Maroko sampai Merauke, membuat mereka berada di negara berbeda
setiap membuka mata. Sejumlah perusahaan jasa, terutama bank,
menyesuaikan diri dan menawarkan jasa yang sesuai dengan kecepatan
perpindahan mereka. Yang kedua adalah kelompok yang jauh lebih
santai, seperti cerita teman saya di tulisan sebelumnya. Mereka tidak
mesti orang yang memiliki uang berlebih, tapi cukup untuk hidup tanpa
banyak bekerja di sebuah negara eksotis dan mencari pencerahan.
Terkadang mereka bekerja serabutan agar napas lebih panjang. Mereka tidak datang ke negeri-negeri Timur untuk melihat matahari tenggelam dari jendela kamar mewah Four Seasons.
Mereka datang untuk "menjadi" Timur. Menyewa kamar atau rumah di
perkampungan, makan makanan tradisional yang tidak higienis, dan hidup
cukup lama di suatu tempat yang jaraknya beribu mil dari rumah asli
mereka. Kalau membawa anak, mereka tidak disekolahkan di sekolah
internasional, tapi di sekolah lokal. Kelompok kedua
inilah yang merupakan para penduduk global sebenarnya. Mereka ada di
mana-mana dan memberi pengaruh pada budaya lokal. Meski menurunkan dua
atau tiga tulisan soal kelompok kedua ini, namun Newsweek tidak meliput bagaimana pengaruh mereka dalam budaya lokal. Ketika bicara soal style, seni, dan mode yang terpengaruh oleh para nomaden, Newsweek sepertinya malas meliput lebih dalam kegiatan para nomaden ini. Newsweek
hanya menampilkan para desainer atau seniman lokal yang memiliki kans
untuk mendunia. Ada yang terputus antara tulisan utama dengan budaya
yang tumbuh dari diaspora ini.
Sebenarnya, tak sulit mencarinya. Kalau ke Bali saja, kita akan menemukan banyak seniman atau fashion designer asing yang menetap di Bali, mengembangkan sendiri style mereka,
mencampurkan antara gaya modern dengan tradisional, dan memberi
pengaruh pada desain lokal. Butik-butik mereka bisa kita lihat berjajar
di Seminyak. "Style yang merka kembangkan adalah yang bernuansa pesta," kata seorang stylist asli Jakarta yang kini menetap di Bali.
Untuk seni juga sama. Kita bisa melihat banyak seniman
internasional di Bali yang hidup seadanya untuk mencecap aura seni di
pulau itu dan mengemasnya dengan kemasan internasional. "Tapi
ekspatriat yang seperti ini sudah mulai jarang sejak Bom Bali I," kata
seorang teman lain yang tinggal di Bali dan bergaul dengan para
seniman. Menurutnya, bule-bule yang tinggal di Bali sekarang lebih
banyak yang hanya ingin berpesta, seperti layaknya di Thailand. "Aura
seninya sudah mulai luntur." Tulisan Sebelumnya |  |
Posted at 04:52 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 13, 2006

| Saya
bertemu pertama kali dengannya di sebuah terminal bus kota yang kumuh
di Kairo pada sebuah siang yang dingin. Tak jauh dari terminal itu
sungai Nil bergerak malas, membawa beban yang berat dari selatan.
Biasanya tak banyak orang yang berani keluar di saat seperti itu. Angin
dingin terlalu menusuk. Tapi siang itu terminal bus yang pesing itu
tetap ramai. Meski tenggelam
dalam kerumunan, namun tak sulit melihat kehadirannya. Dandanannya
cukup menarik perhatian dan mudah diingat. Ia tampil mirip jagoan dalam
film-film John Woo dalam gerak lambat. Muka Asianya yang keras
berkarakter ditumbuhi sedikit jenggot. Rambutnya yang panjang berkibar
oleh angin utara. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dibalut oleh syal
kelabu dan mantel sepanjang lutut yang juga berkibar-kibar. Saya
bersyukur dapat mengenalnya. Ia adalah makhluk global pertama yang saya
kenal dengan baik. Lahir di Sunda, kini menjadi warga negara Jerman,
berisiterikan orang Eropa, dan tak pernah diam di satu tempat. Bukan
hanya berkeliling untuk mengunjungi jaringan penjualan peralatan
olahraga air dan sekian sekolah surfingya di sepanjang pantai-pantai
Eropa, tapi juga untuk kepentingan yang lain. "Terbangun di sebuah
hotel di Belanda, saya sudah memesan sebuah meja di restoran di Paris
untuk makan malam," katanya tnpa bermaksud pamer. Umurnya sekitar 45-50 tahun. Tak pasti juga, karena saya tak pernah bertanya. Dan ia tidak sedang mengalami mid-life-crisis
saat meninggalkan segala kemewahan itu dan menetap di sebuah
perkampungan kumuh di Kairo selama beberapa bulan untuk mendalami
agama. Secara berkala ia juga pergi ke negeri-negeri Balkan untuk
menyalurkan sendiri bantuan kemanusiaan. Kisah-kisah yang mirip seperti itu kembali saya baca dalam Newsweek terbaru (15 Mei 2006), dalam laporan utamanya berjudul The New Jet Set: Rootless Travelers or Citizens of the World. Ini adalah kisah gaya hidup orang kaya baru yang tidak lagi mengakar pada satu tempat, tapi hidup nomaden di banyak tempat. Kalimat pembuka (lead)
tulisan utamanya menarik: "Zaman dahulu kala, menjadi kaya berarti
mengakar. Keluarga kaya membangun rumah gergasi di kota, dan rumah
kedua di pedesaan, menyesaki keduanya dengan karya seni, bahan, dan
perhiasan mahal, serta tentu saja sejumlah pembantu. Mereka menjadi
anggota klub lokal terbaik, restoran termewah, dan mendukung orkes
simfoni dan museum lokal. Jika itu diartikan sebagai cara untuk
mengirim suatu pesan, maka pesan itu adalah mereka telah berabad di
tempat ini. Melompat ke 2006. Kaya adalah bergerak. Mereka masih hidup
sejahtera, tentu saja, tapi mereka juga berada di banyak tempat,
sekeliling dunia... Jika kaya lama disimbolkan oleh kestabilan, maka
kaya baru oleh pergerakan. Selamat datang di jet set---frase lama tapi
lebih cocok dipakai di dunia yang baru ini." Bersambung... |
Posted at 01:48 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 06, 2006
Adakah yang lebih berharga
dari kegelisahan?
Satu waktu
mungkin esok
saat matahari cerah
aku terbangun
tanpa kegelisahan.
Jika itu datang
ingatkan aku
untuk menggali
makam sendiri
Posted at 05:06 pm by qaris
Permalink
Jejak Langkah Penyanyi Bisu Kenangan untuk Pramodya Ananta Toer
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku (Chairil Anwar, Yang Terempas dan Yang Putus)
Kematiannya tak mengejutkan. Semua
orang tahu, saatnya sudah tiba. Ia sudah sakit-sakitan sejak beberapa
bulan lalu. Tapi orang berpikir, atau tepatnya berharap, kali ini ia
mampu untuk bertahan, melawan sang maut, seperti ia selama puluhan
tahun melawan kesewenang-wenangan.
Entah mulai kapan aku mulai "mengenalnya". Mungkin sejak aku duduk di
sekolah dasar, ketika aku melihat empat novel Pulau Burunya terjajar di
rak buku ayahku, bersama buku-buku agama yang dimilikinya. "Sastrawan
komunis," kata pamanku. Pamanku memang membenci komunis, tapi ia adalah
pelahap karya-karya Pram.
Aku kemudian membacanya juga. tapi setelah dalam membaca pertentangan
antara Pram dan para penandatangan Manifes Kebudayaan. Aku setuju pada
Goenawan Mohammad. Pelarang novel-novel Pram oleh Orde Baru memang tak
bisa dibenarkan. Tapi kita juga tidak bisa membenarkan perbuatan Pram
melarang penerbitan karya-karya sastra di luar aliran realisme sosial,
seperti yang dilakukannya pada 1960-an saat ia dekat dengan kekuasaan
dan aktif di Lekra. Perbuatan yang sampai ia meninggal tak pernah
disesalinya.
Aku juga ingin muntah saat membaca novel-novel Pram yang rasis dan
penuh praduga seperti Arus Balik dan Gadis Pantai. Tapi aku juga
menghormatinya. Bagaimana pun juga Pram adalah sastrawan besar. Banyak
karya-karyanya yang aku suka. Banyak tulisannya yang mampu menitikkan
air mataku.
Pram adalah sastrawan jujur, yang tak mementingkan basa-basi, yang tak
peduli orang suka padanya atau tidak. Ia bisa kita sukai, cintai,
sekaligus kita benci. Ia bukan pramugari pesawat udara yang tersenyum
kepada siapa pun.
Dan pada akhirnya, perginya Pram adalah kehilangan kita juga.
Posted at 03:04 pm by qaris
Permalink
Saturday, March 11, 2006
Tertidur tenang
dengan kemilau putih
bibirmu masih menyudut
seperti kemarin
waktu aku terpesona
Ingin aku menyentuh
tapi tak pernah kulakukan
karena bukan begitu inginmu
Aku menulis puisi ini
tanpa melihat kata
karena begitulah
hal yang tak perlu dirumuskan
Posted at 06:13 pm by qaris
Permalink
|
|
|