
"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau
Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.
"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson
|
|
Sunday, June 04, 2006
tiba-tiba aku kehilangan tempat dalam bingkai fotomu
tiba-tiba kau sempurna bahagia
seketika aku masuk ke dalam guaku, menumbuk hati
Posted at 09:02 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 20, 2006
 Pada punggung terbuka pelacur yang tidur tengkurap itu,
terdapatlah lukisan rajah seekor kuda yang berlari.
Suatu malam kuda itu melompat lewat jendela,
berlari ke luar kota, menuju padang terbuka.
Kitab Omong Kosong , Seno Gumida Ajidarma  | Ketertarikan
pertamaku pada kisah-kisah pewayangan adalah lewat komik RA Kosasih
yang diterbitkan secara serial majalah anak-anak pada 1980-an awal.
Masih lekat dalam ingatan bagaimana Bhisma tewas oleh panah Amba pada
suatu senja. Wajah tuanya menggambarkan kesedihan luar biasa. Kosasih,
dengan kesederhanaan komik hitam putihnya, mampu menghadirkan nyawa
para tokohnya. Begitu berkarakter dan mampu tersimpan dalam otak selama
puluhan tahun. Mungkin karena aku tinggal di pesisir
utara Jawa hingga tidak akrab dengan budaya Jawa yang satu ini.
Bahasanya yang terlalu halus dan jarangnya orang menanggap wayang di
tempatku adalah sebabnya. Akhirnya aku harus mengenal wayang lewat
tangan kedua, tangan seorang komikus, bukan tangan seorang dalang. Pertemuan kedua adalah lewat tulisan-tulisan Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir. Adegan-adegan Mahabarata begitu indah dilukiskan. Saya kira, di antara tulisan-tulisan GM dalam Catatan Pinggir
yang kekal adalah serial wayangnya. Kisah Drupadi yang diseret pada
rambutnya, gugurnya Bhisma di tangan mereka yang pernah
ditimang-timangnya, kisah Destarastra, Karna yang meski berjuang untuk
Kurawa namun memiliki semangat perjuangan dan perlawanan. Selanjutnya aku terkesima pada cara Sindhunata mengkisahkan Ramayana dalam buku Anak Bajang Menggiring Angin. Begitu puitis dan indah.
Kosasih, GM, Sindhu, adalah dalang-dalang modern yang dapat
menceritakan Mahabarat dan Ramayana dengan indah. 'Sabetan-sabetan'
mereka adalah kata-kata puitis dan afektiv yang kuat. Tanpa wayang,
tanpa layar, tanpa gamelan, mereka mampu menghadirkan kisah-kisah itu
seperti nyata. Hingga aku membaca Kitab Omong Kosong karangan Seno Gumira Ajidarma.
Meski ditulis dua tahun lalu, namun baru belakangan ini aku membacanya.
Dan aku yakin, daftar penulis wayang modern di atas harus ditambah
seorang lagi. Tidak hanya cara penceritaan khas Seno yang ringan, tapi
juga puisi-puisi yang dibubuhkan di semua tempat. Adaptasi di
sana-sini, tapi itu tak terlalu mengganggu. |
Posted at 05:54 pm by qaris
Permalink
Sunday, May 14, 2006
| Ada dua tipe nomaden modern ini. Tipe pertama adalah mereka yang setiap lembar diary
mereka tertulis nama negara yang berbeda. Mereka adalah orang-orang
super sibuk, dan tentunya super kaya, yang perusahaannya terbentang
dari Maroko sampai Merauke, membuat mereka berada di negara berbeda
setiap membuka mata. Sejumlah perusahaan jasa, terutama bank,
menyesuaikan diri dan menawarkan jasa yang sesuai dengan kecepatan
perpindahan mereka. Yang kedua adalah kelompok yang jauh lebih
santai, seperti cerita teman saya di tulisan sebelumnya. Mereka tidak
mesti orang yang memiliki uang berlebih, tapi cukup untuk hidup tanpa
banyak bekerja di sebuah negara eksotis dan mencari pencerahan.
Terkadang mereka bekerja serabutan agar napas lebih panjang. Mereka tidak datang ke negeri-negeri Timur untuk melihat matahari tenggelam dari jendela kamar mewah Four Seasons.
Mereka datang untuk "menjadi" Timur. Menyewa kamar atau rumah di
perkampungan, makan makanan tradisional yang tidak higienis, dan hidup
cukup lama di suatu tempat yang jaraknya beribu mil dari rumah asli
mereka. Kalau membawa anak, mereka tidak disekolahkan di sekolah
internasional, tapi di sekolah lokal. Kelompok kedua
inilah yang merupakan para penduduk global sebenarnya. Mereka ada di
mana-mana dan memberi pengaruh pada budaya lokal. Meski menurunkan dua
atau tiga tulisan soal kelompok kedua ini, namun Newsweek tidak meliput bagaimana pengaruh mereka dalam budaya lokal. Ketika bicara soal style, seni, dan mode yang terpengaruh oleh para nomaden, Newsweek sepertinya malas meliput lebih dalam kegiatan para nomaden ini. Newsweek
hanya menampilkan para desainer atau seniman lokal yang memiliki kans
untuk mendunia. Ada yang terputus antara tulisan utama dengan budaya
yang tumbuh dari diaspora ini.
Sebenarnya, tak sulit mencarinya. Kalau ke Bali saja, kita akan menemukan banyak seniman atau fashion designer asing yang menetap di Bali, mengembangkan sendiri style mereka,
mencampurkan antara gaya modern dengan tradisional, dan memberi
pengaruh pada desain lokal. Butik-butik mereka bisa kita lihat berjajar
di Seminyak. "Style yang merka kembangkan adalah yang bernuansa pesta," kata seorang stylist asli Jakarta yang kini menetap di Bali.
Untuk seni juga sama. Kita bisa melihat banyak seniman
internasional di Bali yang hidup seadanya untuk mencecap aura seni di
pulau itu dan mengemasnya dengan kemasan internasional. "Tapi
ekspatriat yang seperti ini sudah mulai jarang sejak Bom Bali I," kata
seorang teman lain yang tinggal di Bali dan bergaul dengan para
seniman. Menurutnya, bule-bule yang tinggal di Bali sekarang lebih
banyak yang hanya ingin berpesta, seperti layaknya di Thailand. "Aura
seninya sudah mulai luntur." Tulisan Sebelumnya |  |
Posted at 04:52 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 13, 2006

| Saya
bertemu pertama kali dengannya di sebuah terminal bus kota yang kumuh
di Kairo pada sebuah siang yang dingin. Tak jauh dari terminal itu
sungai Nil bergerak malas, membawa beban yang berat dari selatan.
Biasanya tak banyak orang yang berani keluar di saat seperti itu. Angin
dingin terlalu menusuk. Tapi siang itu terminal bus yang pesing itu
tetap ramai. Meski tenggelam
dalam kerumunan, namun tak sulit melihat kehadirannya. Dandanannya
cukup menarik perhatian dan mudah diingat. Ia tampil mirip jagoan dalam
film-film John Woo dalam gerak lambat. Muka Asianya yang keras
berkarakter ditumbuhi sedikit jenggot. Rambutnya yang panjang berkibar
oleh angin utara. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dibalut oleh syal
kelabu dan mantel sepanjang lutut yang juga berkibar-kibar. Saya
bersyukur dapat mengenalnya. Ia adalah makhluk global pertama yang saya
kenal dengan baik. Lahir di Sunda, kini menjadi warga negara Jerman,
berisiterikan orang Eropa, dan tak pernah diam di satu tempat. Bukan
hanya berkeliling untuk mengunjungi jaringan penjualan peralatan
olahraga air dan sekian sekolah surfingya di sepanjang pantai-pantai
Eropa, tapi juga untuk kepentingan yang lain. "Terbangun di sebuah
hotel di Belanda, saya sudah memesan sebuah meja di restoran di Paris
untuk makan malam," katanya tnpa bermaksud pamer. Umurnya sekitar 45-50 tahun. Tak pasti juga, karena saya tak pernah bertanya. Dan ia tidak sedang mengalami mid-life-crisis
saat meninggalkan segala kemewahan itu dan menetap di sebuah
perkampungan kumuh di Kairo selama beberapa bulan untuk mendalami
agama. Secara berkala ia juga pergi ke negeri-negeri Balkan untuk
menyalurkan sendiri bantuan kemanusiaan. Kisah-kisah yang mirip seperti itu kembali saya baca dalam Newsweek terbaru (15 Mei 2006), dalam laporan utamanya berjudul The New Jet Set: Rootless Travelers or Citizens of the World. Ini adalah kisah gaya hidup orang kaya baru yang tidak lagi mengakar pada satu tempat, tapi hidup nomaden di banyak tempat. Kalimat pembuka (lead)
tulisan utamanya menarik: "Zaman dahulu kala, menjadi kaya berarti
mengakar. Keluarga kaya membangun rumah gergasi di kota, dan rumah
kedua di pedesaan, menyesaki keduanya dengan karya seni, bahan, dan
perhiasan mahal, serta tentu saja sejumlah pembantu. Mereka menjadi
anggota klub lokal terbaik, restoran termewah, dan mendukung orkes
simfoni dan museum lokal. Jika itu diartikan sebagai cara untuk
mengirim suatu pesan, maka pesan itu adalah mereka telah berabad di
tempat ini. Melompat ke 2006. Kaya adalah bergerak. Mereka masih hidup
sejahtera, tentu saja, tapi mereka juga berada di banyak tempat,
sekeliling dunia... Jika kaya lama disimbolkan oleh kestabilan, maka
kaya baru oleh pergerakan. Selamat datang di jet set---frase lama tapi
lebih cocok dipakai di dunia yang baru ini." Bersambung... |
Posted at 01:48 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 06, 2006
Adakah yang lebih berharga
dari kegelisahan?
Satu waktu
mungkin esok
saat matahari cerah
aku terbangun
tanpa kegelisahan.
Jika itu datang
ingatkan aku
untuk menggali
makam sendiri
Posted at 05:06 pm by qaris
Permalink
|
|
|