"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, November 06, 2006
Adaptasi

Oke, ini bukan seperti tulisan-tulisan lain di blog ini yang sok serius. Bukan juga ingin mencoba tulisan curahan hati ala blog. Saya cuma mau mencoba menulis apa yang saya rasakan setelah beberapa hari tidak menekan-nekan tuts papan kunci.

Hari ini saya baru masuk kerja setelah libur beberapa hari. Tak ada yang berbeda dari pagi-pagi sebelum libur. Tapi yang jelas berbeda dari hari-hari libur. Hari ini saya kembali harus bangun pagi setelah tidur yang singkat.

Semalam ada film yang menahan saya untuk tidur cepat: Great Expectations. Dulu sekali saya pernah menonton film dengan judul yang sama tapi dengan naskah yang masih asli. Masih hitam putih, maklum dibuat pada 1946. Disutradarai oleh David Lean, tidak banyak yang saya ingat dari film ini, kecuali scene-scene muram dan sedikit mengerikan.

Yang saya tonton semalam adalah versi adaptasinya, dibintangi oleh Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, dan Robert de Niro. Oke, pasti ada yang menganggap film adaptasi ini tidak lebih bagus dari aslinya. Tapi bagi saya, film ini jauh lebih menarik.

Pertama, karena alasan pribadi. Saya sedang berusaha mengadaptasi kisah-kisah klasik Indonesia dalam bentuk yang lebih modern. Tentu, banyak hal yang harus diubah agar cerita itu cocok dengan keadaan masa kini. Yang membingungkan adalah, sejauh mana batas-batasnya. Sejauh mana kita bisa melenceng dari naskah asli?

Great Expectations adaptasi yang ditulis ulang oleh Mitch Glazer dari naskah Charles Dickens ini mengubah banyak nama tempat (lebih Amerika) dan juga alur cerita. Banyak yang harus dikorbankan, tentunya. Bagi yang sudah membaca novel Dickens, adapatasi ini adalah pengkhianatan. Tapi bagi saya, adaptasi ini berhasil menghadirkan kembali spiritnya, meski dalam bentuk yang berbeda.

Alasan kedua, kenapa film adaptasi itu lebih menarik, karena memang saya kurang senang dengan film bersetting masa lalu. Kalau bisa dibuat adapatasinya, kenapa pula harus setia pada setting masa lalu?

Apa pun, yang jelas saya mendapatkan banyak pelajaran dari menonton film yang cuma dapat ponten 6,3 dari imdb.com itu. Hampir tidak ada batas untuk mengadaptasi sebuah kisah kuno. Kita bisa membuatnya menarik dengan memasukkan banyak plot dan scene baru. Meski itu akhirnya disebut pengkhianatan.

Omong-omong, saya gagal menuliskan apa yang saya rasakan di hari pertama kerja. Saya tetap menulis sesuatu yang hampir mirip beberapa tulisan lain di blog ini, ulasan tentang film. Mohon dimaklumi, itulah yang ada di pikiran saya sejak semalam.

Posted at 09:01 am by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, June 04, 2006
tiba-tiba

tiba-tiba aku kehilangan tempat dalam bingkai fotomu
tiba-tiba kau sempurna bahagia
seketika aku masuk ke dalam guaku, menumbuk hati

Posted at 09:02 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, May 20, 2006
Wayang



Pada punggung terbuka pelacur yang tidur tengkurap itu,

terdapatlah lukisan rajah seekor kuda yang berlari.
Suatu malam kuda itu melompat lewat jendela,
berlari ke luar kota, menuju padang terbuka.
Kitab Omong Kosong
, Seno Gumida Ajidarma


  Ketertarikan pertamaku pada kisah-kisah pewayangan adalah lewat komik RA Kosasih yang diterbitkan secara serial majalah anak-anak pada 1980-an awal. Masih lekat dalam ingatan bagaimana Bhisma tewas oleh panah Amba pada suatu senja. Wajah tuanya menggambarkan kesedihan luar biasa. Kosasih, dengan kesederhanaan komik hitam putihnya, mampu menghadirkan nyawa para tokohnya. Begitu berkarakter dan mampu tersimpan dalam otak selama puluhan tahun.

Mungkin karena aku tinggal di pesisir utara Jawa hingga tidak akrab dengan budaya Jawa yang satu ini. Bahasanya yang terlalu halus dan jarangnya orang menanggap wayang di tempatku adalah sebabnya. Akhirnya aku harus mengenal wayang lewat tangan kedua, tangan seorang komikus, bukan tangan seorang dalang.

Pertemuan kedua adalah lewat tulisan-tulisan Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir. Adegan-adegan Mahabarata begitu indah dilukiskan. Saya kira, di antara tulisan-tulisan GM dalam Catatan Pinggir yang kekal adalah serial wayangnya. Kisah Drupadi yang diseret pada rambutnya, gugurnya Bhisma di tangan mereka yang pernah ditimang-timangnya, kisah Destarastra, Karna yang meski berjuang untuk Kurawa namun memiliki semangat perjuangan dan perlawanan.

Selanjutnya aku terkesima pada cara Sindhunata mengkisahkan Ramayana dalam buku Anak Bajang Menggiring Angin. Begitu puitis dan indah.

Kosasih, GM, Sindhu, adalah dalang-dalang modern yang dapat menceritakan Mahabarat dan Ramayana dengan indah. 'Sabetan-sabetan' mereka adalah kata-kata puitis dan afektiv yang kuat. Tanpa wayang, tanpa layar, tanpa gamelan, mereka mampu menghadirkan kisah-kisah itu seperti nyata. Hingga aku membaca Kitab Omong Kosong karangan Seno Gumira Ajidarma.

Meski ditulis dua tahun lalu, namun baru belakangan ini aku membacanya. Dan aku yakin, daftar penulis wayang modern di atas harus ditambah seorang lagi. Tidak hanya cara penceritaan khas Seno yang ringan, tapi juga puisi-puisi yang dibubuhkan di semua tempat. Adaptasi di sana-sini, tapi itu tak terlalu mengganggu.

Posted at 05:54 pm by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, May 14, 2006
Nomaden (Tulisan II)

Ada dua tipe nomaden modern ini. Tipe pertama adalah mereka yang setiap lembar diary mereka tertulis nama negara yang berbeda. Mereka adalah orang-orang super sibuk, dan tentunya super kaya, yang perusahaannya terbentang dari Maroko sampai Merauke, membuat mereka berada di negara berbeda setiap membuka mata. Sejumlah perusahaan jasa, terutama bank, menyesuaikan diri dan menawarkan jasa yang sesuai dengan kecepatan perpindahan mereka.

Yang kedua adalah kelompok yang jauh lebih santai, seperti cerita teman saya di tulisan sebelumnya. Mereka tidak mesti orang yang memiliki uang berlebih, tapi cukup untuk hidup tanpa banyak bekerja di sebuah negara eksotis dan mencari pencerahan. Terkadang mereka bekerja serabutan agar napas lebih panjang.

Mereka tidak datang ke negeri-negeri Timur untuk melihat matahari tenggelam dari jendela kamar mewah Four Seasons. Mereka datang untuk "menjadi" Timur. Menyewa kamar atau rumah di perkampungan, makan makanan tradisional yang tidak higienis, dan hidup cukup lama di suatu tempat yang jaraknya beribu mil dari rumah asli mereka. Kalau membawa anak, mereka tidak disekolahkan di sekolah internasional, tapi di sekolah lokal.

Kelompok kedua inilah yang merupakan para penduduk global sebenarnya. Mereka ada di mana-mana dan memberi pengaruh pada budaya lokal. Meski menurunkan dua atau tiga tulisan soal kelompok kedua ini, namun Newsweek tidak meliput bagaimana pengaruh mereka dalam budaya lokal.

Ketika bicara soal style, seni, dan mode yang terpengaruh oleh para nomaden, Newsweek sepertinya malas meliput lebih dalam kegiatan para nomaden ini. Newsweek hanya menampilkan para desainer atau seniman lokal yang memiliki kans untuk mendunia. Ada yang terputus antara tulisan utama dengan budaya yang tumbuh dari diaspora ini.

Sebenarnya, tak sulit mencarinya. Kalau ke Bali saja, kita akan menemukan banyak seniman atau fashion designer asing yang menetap di Bali, mengembangkan sendiri style mereka, mencampurkan antara gaya modern dengan tradisional, dan memberi pengaruh pada desain lokal. Butik-butik mereka bisa kita lihat berjajar di Seminyak. "Style yang merka kembangkan adalah yang bernuansa pesta," kata seorang stylist asli Jakarta yang kini menetap di Bali.

Untuk seni juga sama. Kita bisa melihat banyak seniman internasional di Bali yang hidup seadanya untuk mencecap aura seni di pulau itu dan mengemasnya dengan kemasan internasional. "Tapi ekspatriat yang seperti ini sudah mulai jarang sejak Bom Bali I," kata seorang teman lain yang tinggal di Bali dan bergaul dengan para seniman. Menurutnya, bule-bule yang tinggal di Bali sekarang lebih banyak yang hanya ingin berpesta, seperti layaknya di Thailand. "Aura seninya sudah mulai luntur."

Tulisan Sebelumnya

 

Posted at 04:52 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, May 13, 2006
Nomaden (Tulisan I)




























Saya bertemu pertama kali dengannya di sebuah terminal bus kota yang kumuh di Kairo pada sebuah siang yang dingin. Tak jauh dari terminal itu sungai Nil bergerak malas, membawa beban yang berat dari selatan. Biasanya tak banyak orang yang berani keluar di saat seperti itu. Angin dingin terlalu menusuk. Tapi siang itu terminal bus yang pesing itu tetap ramai.

Meski tenggelam dalam kerumunan, namun tak sulit melihat kehadirannya. Dandanannya cukup menarik perhatian dan mudah diingat. Ia tampil mirip jagoan dalam film-film John Woo dalam gerak lambat. Muka Asianya yang keras berkarakter ditumbuhi sedikit jenggot. Rambutnya yang panjang berkibar oleh angin utara. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dibalut oleh syal kelabu dan mantel sepanjang lutut yang juga berkibar-kibar.

Saya bersyukur dapat mengenalnya. Ia adalah makhluk global pertama yang saya kenal dengan baik. Lahir di Sunda, kini menjadi warga negara Jerman, berisiterikan orang Eropa, dan tak pernah diam di satu tempat. Bukan hanya berkeliling untuk mengunjungi jaringan penjualan peralatan olahraga air dan sekian sekolah surfingya di sepanjang pantai-pantai Eropa, tapi juga untuk kepentingan yang lain. "Terbangun di sebuah hotel di Belanda, saya sudah memesan sebuah meja di restoran di Paris untuk makan malam," katanya tnpa bermaksud pamer.

Umurnya sekitar 45-50 tahun. Tak pasti juga, karena saya tak pernah bertanya. Dan ia tidak sedang mengalami mid-life-crisis saat meninggalkan segala kemewahan itu dan menetap di sebuah perkampungan kumuh di Kairo selama beberapa bulan untuk mendalami agama. Secara berkala ia juga pergi ke negeri-negeri Balkan untuk menyalurkan sendiri bantuan kemanusiaan.


Kisah-kisah yang mirip seperti itu kembali saya baca dalam Newsweek terbaru (15 Mei 2006), dalam laporan utamanya berjudul The New Jet Set: Rootless Travelers or Citizens of the World. Ini adalah kisah gaya hidup orang kaya baru yang tidak lagi mengakar pada satu tempat, tapi hidup nomaden di banyak tempat.

Kalimat pembuka (lead) tulisan utamanya menarik: "Zaman dahulu kala, menjadi kaya berarti mengakar. Keluarga kaya membangun rumah gergasi di kota, dan rumah kedua di pedesaan, menyesaki keduanya dengan karya seni, bahan, dan perhiasan mahal, serta tentu saja sejumlah pembantu. Mereka menjadi anggota klub lokal terbaik, restoran termewah, dan mendukung orkes simfoni dan museum lokal. Jika itu diartikan sebagai cara untuk mengirim suatu pesan, maka pesan itu adalah mereka telah berabad di tempat ini. Melompat ke 2006. Kaya adalah bergerak. Mereka masih hidup sejahtera, tentu saja, tapi mereka juga berada di banyak tempat, sekeliling dunia... Jika kaya lama disimbolkan oleh kestabilan, maka kaya baru oleh pergerakan. Selamat datang di jet set---frase lama tapi lebih cocok dipakai di dunia yang baru ini."

Bersambung...

Posted at 01:48 pm by qaris
Kasih Komentar  

Previous Page Next Page