"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< October 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, August 06, 2008
Rustem dan Suhrab

Dua kali membaca buku, dua kali saya menemukan kisah ini, kisah Rustem dan Suhrab. Yang pertama terdapat di Kite Runner karya Khaled Husseini. Hassan, anak pembantu yang buta huruf, selalu meminta Amir---anak tuannya yang juga sahabatnyap---menceritakan kisah itu, di bawah pohon delima, di atas bukit pemakaman Kabul. Di kemudian hari, Hassan menamakan putranya dengan Suhrab. Anak yang kemudian diselamatkan Amir dari seorang war-lord pedofil.

Dalam Snow karya Orhan Pamuk, kisah Rustem dan Suhrab muncul lagi. Kali ini legenda rakyat berusia seribu tahun dari buku Shahnamah karangan Firdevsi, muncul juga. Diceritakan oleh Lazuardi---seorang Islamis politis yang cerdas dan diburu pemerintah Turki yang sekuler. Lazuardi yang amat tampan itu menceritakan kisah itu kepada Ka, tokoh utama novel ini dalam sebuah pertemuan rahasia di sebuah rumah suku Kurdi.

Pada zaman dahulu kala di Iran terdapat seorang pahlawan yang gagah berani tiada tara. Semua orang menyukainya. Pada suatu hari dia pergi berburu. Lalu, ketika malam tiba dan dia tidur di tendanya, kudanya yang gagah, Rakhs, menghilang. Keesokan paginya Rustem mencarinya hingga memasuki negeri Turan yang saat itu sedang berseteru dengan Persia. Alih-alih ditangkap, Rustem justru disambut oleh penduduk dengan sukacita. Mereka lebih mengenalnya dengan takzim, bukan dengan ketakutan.

Bahkan sang raja yang saat itu berkuasa di Turan mengundangnya ke istana dan menjamunya habis-habisan. Di malam hari, saat berdiam di kamarnya, puteri raja mendatanginya dan menyatakan cintanya. Ia juga menyatakan keinginan memiliki anak dari darah Rustem. Malam itu mereka bercinta. Keesokan paginya, Rustem harus kembali ke Persia. Namun dia meninggalkan gelang untuk anaknya kelak.

Anak itu lahir. Laki-laki, dan diberi nama Suhrab. Ia tumbuh menjadi pria gagah seperti ayahnya. Lalu dia mengatakan kepada ibunya bahwa dia akan bertempur melawan raja Iran dan menggulingkannya lalu mengangkat ayahnya---yang tak lain adalah panglima perang raja Iran yang lalim itu---sebagai raja. Dia juga akan menggulingkan kakeknya, yang juga zalim, dan mengangkat dirinya menjadi raja. Pada saat itulah perdamaian abadi akan terjadi.

Suhrab yang hijau dan lugu tidak tahu bahwa sebuah skenario besar sedang disusun kakeknya agar dia tidak mengenali ayahnya (yang pasti akan menemuinya di medan laga karena dia adalah panglima perang). Dan anak beranak itupun tak bisa mengelak takdir. Mereka bertemu di medan perang tanpa saling mengenal, apalagi dengan baju zirah yang menutupi seluruh tubuh mereka.

Hari pertama peperangan berlangsung seru. Kedua pasukan adu kekuatan selama berjam-jam hingga matahari tenggelam. Kelelahan, keduanya menarik pasukan. Di hari kedua pertempuran kembali berlangsung seru dan Sohrab berhasil menjatuhkan Rustem dari kudanya. Tapi Suhrab batal membunuh Rustem, karena kondisi saat itu tidak memungkinnya untuk memenggal kepala Rustem. Padahal, membawa pulang kepala musuh adalah bukti seorang komandan telah memenangkan peperangan kala itu. Kemenangan tertunda.

Di hari ketiga pertempuran berlangsung cepat. Rustem berhasil menjatuhkan Suhrab dari kudanya dan menikamnya. Pada saat itulah dia melihat gelang yang dulu diberikan kepada puteri raja dan dia tahu bahwa yang baru dibunuh adalah puteranya sendiri. Dengan hati hancur dia menggendong anaknya yang berlumuran darah. Gendongan pertama dan terakhir.


Apa yang menarik dari legenda yang berasal dari Iran dan menyebar ke negeri-negeri yang secara budaya dipengaruhi oleh negara Persia itu (Turki, Afganistan, Bosnia, negara-negara Asia Tengah dan Balkan)? Mungkin juga kisah ini pernah sampai di Indonesia, itulah mengapa banyak orang kita bernama Rustam (meski tidak ada yang bernama Suhrab).

Ini kisah mirip Oedipus atau Sangkuriang---sebuah perseteruan ayah-anak. Berbeda dengan Oedipus dan Sangkuriang yang sangat Freud (ya, mereka berebut sang ibu), kisah Rustem dan Suhrab ini jauh lebih berkarakter. Ada sebuah cita-cita yang ingin ditegakkan oleh Sohrab, tapi dia terlalu hijau untuk memilikinya. Ada ironi, juga kesedihan yang jantan. Bukan kesedihan anak SMP yang berebut cewek.

Kekuatan dari cerita ini adalah, karena setiap orang yang membacanya dengan lengkap akan memiliki tafsir sendiri. Setiap orang bisa memproyeksikan dirinya pada setiap tokoh dalam kisah itu. Kita bisa menggambarkan diri seperti Suhrab yang ambisius dan berhati suci, tapi terlalu polos; Rustam yang gagah berani, dihormati, dan berkharisma; atau bahkan sang raja Turan yang penuh akal dan strategi hingga tidak perlu membunuh sendiri musuh terbesarnya, tapi dapat menghancurkan jiwanya.

Posted at 08:25 pm by qaris
Kasih Komentar  

Wednesday, July 30, 2008
kalah



mari kita sudahi permainan ini
aku rasa kau pun sudah bosan
saatnya kita jujur
dan berhenti membodohi diri

mari kita letakkan kenangan
dalam sudut terpojok lemari
mungkin, satu saat, kita akan melihatnya lagi
tapi bukan saat ini

karena, kini kita hanya bisa
memamah kenangan
mengunyah permen karet yang sudah tawar
manisnya kita telah kecap
ribuan hari lalu

kita memang dua orang
dengan gengsi setinggi cemara
enggan mengakui kekalahan
kita tak mau menyerah oleh apapun
tak juga waktu

tapi toh semua orang pernah kalah
dan kita, sayangnya, harus kalah
aku telah mengibarkan benderaputih
di atas pintuku

sekarang atau nanti
aku juga akan melihat benderaputihmu
apa bedanya?

Posted at 06:04 pm by qaris
Kasih Komentar  

Tuesday, July 29, 2008
rumus puisi

apa lagi yang abadi
setelah puisi disimpan dalam cakram besi
tak ada lagi ilham
yang muncul dari harum daun lontar
dari garis-garis batang papirus
yang ada cuma bau kabel sangit
dan garis-garis pada layar berpendar

tapi puisi
adalah apa yang tergetar dalam hati
yang membuat anak sungai di tepi pipi
yang menggerakkan jemari ini
menyentuh rambutmu yang tergerai

indah, bukan karena berrima
cantik, bukan karena pelik
karena puisi adalah bahasa hati
bukan rumus matematika

Posted at 01:31 am by qaris
Kasih Komentar  

Monday, July 28, 2008
Beirut yang Berbeda



Judul: Caramel (2007)
Sutradara: Nadine Labaki
Pemain: Nadine Labaki, Yasmine Elmasri, Joanna Moukarzel, Gisèle Aouad, Adel Karam
 Akhir pekan ini saya habiskan untuk menonton sejumlah film. Entah mengapa, rasanya terlalu malas untuk mengacak-acak rak buku, mencari buku yang belum terbaca, apalagi pergi ke toko buku mencari yang baru. Syukur, ada sejumlah film bagus yang cukup menghibur.

Salah satunya adalah Caramel, sebuah film Lebanon yang disutradarai oleh Nadine Labaki. Judul aslinya adalah Sukkar banaat atau gula para gadis. Gula yang dimaksud adalah gula yang dicairkan untuk waxing, karena titik gravitasi film ini memang di sebuah salon kecantikan yang terdapat di Beirut, Lebanon.

Hal pertama yang menarik dari film ini, tentunya adalah sinematografi yang luar biasa. Sistem pencahayaan, pengambilan sudut gambar, bahkan warna-warnanya lebih mirip film-film Eropa (Prancis) dibandingkan film-film Arab yang dimonopoli film Mesir.

Sutradara juga lebih senang mengambil setting Beirut tua yang eksotis dan enggan memotret Beirut yang carut marut oleh perang. Entah mengapa, mungkin ia ingin mengenang Beirut sebagai sit dunya (ratu dunia) dibanding sebagai ibukota perang. Sebuah Beirut yang lebih feminin. Ditambah lagi para pemainnya yang berpenampilan amat menarik dengan gaya bicara yang halus. Ya, Lebanon seperti negara-negara Syam lainnya (Palestina, Suriah) berbahasa Arab dengan logat yang lebih halus dibandingkan Arab Afrika Utara (Mesir) yang tegas dan kasar, atau Hijaz (Saudi) yang malas dan melengking.

Tapi, yang lebih penting dari itu, adalah ceritanya. Tidak ada yang "berteriak" di sini. Tidak ada yang begitu dramatis. Semuanya diceritakan dengan nada datar. Tentang tiga orang perempuan yang mengelola sebuah salon di salah satu sudut Beirut. Plus seorang pelanggan tetap dan seorang tetangga penjahit. Semua punya masalah sendiri. Semua punya rahasia sendiri. Dan bagaimana mereka bertarung dengan rahasia masing-masing itulah yang menjadi inti dari film tersebut.

Layale (diperankan sendiri oleh sang sutradara) punya pacar yang sudah menikah. Awalnya dia tidak mengetahuinya hingga dompet sang pacar tertinggal. Dan dia harus menerima saat sang pacar (yang sama sekali tak pernah diperlihatkan wajahnya dalam film) lebih memilih istrinya.

Temannya, Nisrine, sebenarnya lebih beruntung, punya pacar bujangan. Tapi dia menyimpan rahasia, dia tak perawan lagi dan pacarnya belum mengetahui itu. Dibantu teman-temannya dia melakukan operasi menjelang pernikahan. Lain lagi dengan Rima yang berpenampilan tomboy. Dia ternyata seorang lesbian.

Rose, penjahit yang tinggal di sebelah salon mereka adalah seorang perawan tua. Dia tidak menikah karena harus mengurus kakaknya yang sudah setengah gila. Dia punya kesempatan terakhir untuk mencintai seorang pria asing, tapi akhirnya dia lebih memilih kakaknya.

Ada lagi seorang pelanggan tetap mereka. Artis sinetron yang sudah mulai tidak laku. Ikut audisi melulu, tapi tak pernah tembus. Kalah oleh anak-anak muda. Dia sudah manopause tapi berlagak masih datang bulan dengan membuang tisu yang diolesi darah di tempat sampah kamar mandi dan pura-pura tembus.

Cerita berakhir saat Nisrine menikah. Tak diceritakan bagaimana kesudahan kasus lainnya. Mungkin memang hanya cukup berhenti sampai di situ. Toh, semua masalah belum tentu ada jalan keluarnya.

Posted at 12:48 pm by qaris
Kasih Komentar  

Monday, July 21, 2008
mastodon


biar aku menyumpahi diriku
akulah pendosa hingga sumsum tulang
akulah kuda liar tanpa kekang
bebal sedegil karang

biar aku menyudahi hidupku
apa gunanya, semua berulang
aku memutari kepala setan
lalu kembali ke titik permulaan

kita berdua muka
satu kita keluarkan
saat bermuka dengan orang lain
yang kedua lebih muram, lebih kelam
kita simpan saat kita sendiri

tapi aku mastodon
wajahku hanya satu
taringku genap sepasang


Posted at 07:34 pm by qaris
Kasih Komentar  

Next Page