|
Tuesday, August 02, 2005
Aku tak bisa menulis puisi tentangmu
Entah, ini pertanda apa
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk mereka
yang tak rebah dalam hatiku.
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk
mereka yang cuma berkelebat seperti petir
Kucoba berkali-kali
Untuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarkan hatiku kini.
Tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarmu dengan tepat.
***
Tadi aku mengirim pesan terima kasih
Karena kau telah memberiku hari yang indah
Keindahan dari hal-hal sederhana
Terbaring, melihat foto di dinding
Berkisah cerita konyol
Duduk di lantai, memutar lagu sedih
Melihatmu berdandan
Melihatmu memakaikan maskara di mataku
Kamu tertawa, karena tak ada pria memakai maskara
Aku suka tawamu
Aku suka melihat bibirmu yang menyudut saat
bicara dengan emosi
Aku suka subangmu, putih, bulat, seperti cahaya gerhana
Posted at 11:06 am by qaris
Permalink
Friday, July 08, 2005
eulogy
Aku adalah seonggok kecemasan.
Kisahku yang sebenar
bukanlah dongeng yang kau ceritakan
dalam eulogy kematianku.
Kisahku adalah kisah pelepasan diri
dari rasa sakit tak terperi.
Tidak,
sebenarnya kisahku adalah
pencarian dunia tempatku berasal.
***
subuh 1
Aku mencintaimu di pagi hari
saat seluruh kenangan rebah.
Bayanganmu datang
mengganggu mimpi pagiku
Menghela-hela ingatan
dan membuatku terbangun
berkali-kali.
Aku mencintaimu saat
embun pergi dari punggung daun,
dan tikus-tikus kembali ke liang,
dan dunia memunggungi keromantisan.
Aku mencintaimu saat
kesadaran pupus
dan seluruh ruhku bergerak oleh
kenangan purba.
Aku mencintaimu dengan
seluruh kegelisahan yang kumiliki
Siang, kuburu kau
di rak-rak buku-buku,
lewat mesin pencari dunia maya,
di bait-bait puisi,
tapi kau telah hilang
bersama menguapnya embun.
***
subuh 2
Hah, akhirnya...
Pagi ini aku tak memimpikanmu
Semalam,
ya semalam,
aku telah menanammu dalam puisi.
Kau terkubur dan rebah
menjadi kata.
***
aku tahu
Aku tahu sekarang
Aku tak mencintaimu
Aku pun kini tak ingat wajahmu
Aku, ternyata
hanya mencintai bayang-bayang
Setiap bayang-bayang
yang berkelebat mendekatiku.
Aku mencintai mimpiku
kehampaanku
khayalanku.
***
Posted at 09:01 pm by qaris
Permalink
Friday, July 01, 2005
|
Terus terang aku terlambat membaca novel ini. Jauh setelah orang-orang terperangah dengan gaya bertuturnya, jauh setelah novel ini dianugrahi sebagai karya sastra terbaik di Inggris. Tapi tak ada salahnya untuk telambat, daripada tidak sama sekali.
Novel yang ditulis dengan kacamata seorang pengidap autisme (Christopher) ini amat menarik. Kita bisa mendalami apa yang ada di tempurung kepala seorang pengidap autisme. Bagaimana mereka ternyata tidak memiliki imajinasi, tidak bisa membaca mimik muka seseorang, mengharuskan segalanya teratur (mirip dalam film Rainman, dibintangi Dustin Hoffman dan Tom Cruise), menyerap semua informasi secara serius seperti komputer, luar biasa cerdas pada satu hal, dan tidak paham metafora apalagi sastra. |

|
Berawal dari kisah yang amat sederhana (keinginan Christopher untuk mengetahui pembunuh anjing Nyonya Sheere), novel ini bergulir menjadi sebuah petualangan mengasyikkan memasuki otak Christopher. Dengan bahasa yang amat sederhana, lugas, novel ini justru amat menggugah. Emosi dibangun bukan dengan kata-kata bersayap yang puitis (karena Christopher tak paham kata bersayap), tapi lewat keluguan. Terkadang lucu, meski Christopher tidak berniat melucu, karena dia tidak paham akan gurauan (Ia merumuskan humor dengan rumus matematika!).
Sedemikian kuatnya, hingga kita seakan-akan percaya bahwa novel ini dibuat oleh seorang penderita autisme.
Oh ya, bab-bab dalam novel ini tidak dinomori dengan nomor biasa (1,2,3 dan seterusnya), tapi dengan bilangan prima (2,3,5,7, dst). Menurut Christopher, hidup ini seperti bilangan prima: logis, tapi tak bisa dirumuskan dengan pasti dalam satu kaidah.
Posted at 03:43 pm by qaris
Permalink
Thursday, June 23, 2005
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni.
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu.
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni.
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono)
Malam ini, aku mendengar lagi puisi ini, di antara rintik hujan bulan Juni yang masih tersisa. Malam tadi, bertempat di Warung Apresiasi, Bulungan, lagu-lagu yang diciptakan dari puisi-puisi Sapardi kembali dibawakan oleh Dua Ibu, kelompok yang dianggotai oleh Tatyana dan Reda Gaudiam.
Pementasan mereka kali ini adalah dalam rangka peluncuran album kedua musikalisasi puisi Sapardi yang bertajuk Gadis Kecil (2005). Sebelumnya, ada album Hujan Bulan Juni (1990) dan Hujan Dalam Komposisi (1996) yang juga berasal dari puisi-puisi Sapardi.
Sejumlah lagu puisi dari album lalu seperti Hujan Bulan Juni, Hujan dalam Komposisi, dan Aku Ingin, juga dinyanyikan.
Berikut sejumlah puisi Sapardi lainnya yang populer:
***
aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
***
pada suatu hari nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati.
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela sela huruf sajak ini
kau takkan letih letihnya kucari.
Posted at 11:05 pm by qaris
Permalink
Tuesday, June 21, 2005
empat puluh malam dan satunya hujan
Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
175 halaman
Serat Centhini (Suluk Tambangraras, ditulis pada tahun 1809) adalah kitab Jawa yang paling kontroversial. Di dalamnya ada pelajaran tentang agama Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum santri, tapi ada juga ajaran mistis kejawen. Ada puisi tentang kebijakan moral, tapi juga ada cerita adegan ranjang dan juga sodomi yang paling vulgar dan kelewat batas hingga dituduh porno.
Adalah Elizabeth D. Inandiak, perempuan asal Prancis yang menetap di Indonesia, yang berinisiatif untuk menghadirkan Serat Centhini yang lebih ringkas (dari 4.000 halaman menjadi 173 halaman), lebih mudah dimengerti, namun tetap puitis dan berisi. Ia mengambil adegan pokok, yaitu tentang asal-usul para raja Jawa, pertempuran antara kelompok abangan (Sultan Agung) dan kelompok Islam jalan lurus (Sunan Giri), dan juga drama dalam kamar pengantin selama 40 hari.
Di kamar pengantin itulah, selama 40 hari, Amongraga dan istrinya, Tambangraras, bertukar kata. Amongraga baru menyetubuhi istrinya pada malam ke-40, saat hujan hangat turun dan meruapkan aroma daun teh di pekarangan. Sebelumnya, mereka berdua hanya berdialog dengan telanjang bulat. Amongraga mengajarkan tauhid, shalat, dan juga keindahan batin serta cinta dan senggama kepada Tambangraras. Di balik layar terawang, Centhini, pembantu Raras, duduk bersimpuh menunggu dengan terjaga. Centhinilah yang kemudian mengabarkan tentang adegan dan dialog dalam kamar pengantin itu.
***
tembang 88
Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: "Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya."
Di haluan ranjang, Tambangraras membungkuk dan berkata:
-Oh, Apiku! aku mendengar dan berkenan. Tapi tolong katakan, ketika si kekasih berkata kepada terkasihnya: "Aku terbakar bagimu", siapakah yang terbakar? Apakah si kekasih yang terbakar bagi terkasihnya, atau sang terkasih yang terbakar api kekasihnya?
-Sebenarnya, Dinda, cinta adalah nyala agung yang membakar segalanya.
Di balik sekat berkerawang, Centhini merasakan malam undur diri sebelum pudar.
***
Syair-syair di:
tembang 6
Lalu gong berat bergaung
Dipikul hiruk-pikuk dengung
Sampai gamang asmara
Wangi rambang kusuma
Tajuknya bertahtakan permata
Menghiasi telinga-sayapnya bersaput emas
Yang merindukan kata-kata dari Atas
Hujan kupu-kupu padma mati
Tangisku merenungi langit
Ribuan doa puji sia-sia
O, di ranjang tahta hati
Gelombang biru dan getah putih
Yoni telah mengosongkan pikirannya
Dan menjadi telaga jernih
Di dasarnya lingga dielu-elukan
Hilang kesadaran
Raksasa bermata satu
Sedam malam membatu
Diberkati sang Waktu
Dibanjiri siang hari
Sayang! Kekasihku
Larimu menunjukkan kepada yang fana
Di atas pemuliaan dan celaan
Bahwa tiada pertemuan
Selain penyerahan raga-jiwa
***
tembang 72
Ibu, haruskah cinta diresmikan dengan noda?
***
tembang 81
Jika kau dahagakan air
Air dahagakanmu
***
tembang 100
Tembakan campur asap mesiu
Kilasan bintang gemintang di sela awan
Tumbuh-tumbuhan kehebatan
Hujan di luar musim
Bentangan langit luas di atas
Misbah yang membakar kantuk
Embun menetes ke pasu
Isak pelawak di dalam gua
Bulan dan bintang terusir siang
***
tembang 111
Ada tiga macam rahasia
Rahasianya rahasia
Rahasia Ilahi
Dan rahasia diri sendiri
Rahasia diri sendiri berada di dalam cahaya
Sangat cerah, megah, tanpa kerudung apapun
Meski demikian, ia tak kasat mata
***
Terimakasih buat Opi yang meminjamkan bukunya.
Posted at 06:57 pm by qaris
Permalink
|
|