"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< June 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, June 23, 2005
musikalisasi puisi

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni.
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni.
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono)


Malam ini, aku mendengar lagi puisi ini, di antara rintik hujan bulan Juni yang masih tersisa. Malam tadi, bertempat di Warung Apresiasi, Bulungan, lagu-lagu yang diciptakan dari puisi-puisi Sapardi kembali dibawakan oleh Dua Ibu, kelompok yang dianggotai oleh Tatyana dan Reda Gaudiam.

Pementasan mereka kali ini adalah dalam rangka peluncuran album kedua musikalisasi puisi Sapardi yang bertajuk Gadis Kecil (2005). Sebelumnya, ada album Hujan Bulan Juni (1990) dan Hujan Dalam Komposisi (1996) yang juga berasal dari puisi-puisi Sapardi.

Sejumlah lagu puisi dari album lalu seperti Hujan Bulan Juni, Hujan dalam Komposisi, dan Aku Ingin, juga dinyanyikan.

Berikut sejumlah puisi Sapardi lainnya yang populer:

***

aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

***

pada suatu hari nanti

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati.

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela sela huruf sajak ini
kau takkan letih letihnya kucari.


Posted at 11:05 pm by qaris
Komentars (3)  

Tuesday, June 21, 2005
centhini

empat puluh malam dan satunya hujan

Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
175 halaman

Serat Centhini (Suluk Tambangraras, ditulis pada tahun 1809) adalah kitab Jawa yang paling kontroversial. Di dalamnya ada pelajaran tentang agama Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum santri, tapi ada juga ajaran mistis kejawen. Ada puisi tentang kebijakan moral, tapi juga ada cerita adegan ranjang dan juga sodomi yang paling vulgar dan kelewat batas hingga dituduh porno.

Adalah Elizabeth D. Inandiak, perempuan asal Prancis yang menetap di Indonesia, yang berinisiatif untuk menghadirkan Serat Centhini yang lebih ringkas (dari 4.000 halaman menjadi 173 halaman), lebih mudah dimengerti, namun tetap puitis dan berisi. Ia mengambil adegan pokok, yaitu tentang asal-usul para raja Jawa, pertempuran antara kelompok abangan (Sultan Agung) dan kelompok Islam jalan lurus (Sunan Giri), dan juga drama dalam kamar pengantin selama 40 hari.

Di kamar pengantin itulah, selama 40 hari, Amongraga dan istrinya, Tambangraras, bertukar kata. Amongraga baru menyetubuhi istrinya pada malam ke-40, saat hujan hangat turun dan meruapkan aroma daun teh di pekarangan. Sebelumnya, mereka berdua hanya berdialog dengan telanjang bulat. Amongraga mengajarkan tauhid, shalat, dan juga keindahan batin serta cinta dan senggama kepada Tambangraras. Di balik layar terawang, Centhini, pembantu Raras, duduk bersimpuh menunggu dengan terjaga. Centhinilah yang kemudian mengabarkan tentang adegan dan dialog dalam kamar pengantin itu.

***

tembang 88

Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: "Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya."

Di haluan ranjang, Tambangraras membungkuk dan berkata:
-Oh, Apiku! aku mendengar dan berkenan. Tapi tolong katakan, ketika si kekasih berkata kepada terkasihnya: "Aku terbakar bagimu", siapakah yang terbakar? Apakah si kekasih yang terbakar bagi terkasihnya, atau sang terkasih yang terbakar api kekasihnya?

-Sebenarnya, Dinda, cinta adalah nyala agung yang membakar segalanya.

Di balik sekat berkerawang, Centhini merasakan malam undur diri sebelum pudar.

***

Syair-syair di:

tembang 6

Lalu gong berat bergaung
Dipikul hiruk-pikuk dengung
Sampai gamang asmara
Wangi rambang kusuma
Tajuknya bertahtakan permata
Menghiasi telinga-sayapnya bersaput emas
Yang merindukan kata-kata dari Atas
Hujan kupu-kupu padma mati
Tangisku merenungi langit
Ribuan doa puji sia-sia
O, di ranjang tahta hati
Gelombang biru dan getah putih
Yoni telah mengosongkan pikirannya
Dan menjadi telaga jernih
Di dasarnya lingga dielu-elukan
Hilang kesadaran
Raksasa bermata satu
Sedam malam membatu
Diberkati sang Waktu
Dibanjiri siang hari
Sayang! Kekasihku
Larimu menunjukkan kepada yang fana
Di atas pemuliaan dan celaan
Bahwa tiada pertemuan
Selain penyerahan raga-jiwa

***

tembang 72

Ibu, haruskah cinta diresmikan dengan noda?

***

tembang 81

Jika kau dahagakan air
Air dahagakanmu

***

tembang 100

Tembakan campur asap mesiu
Kilasan bintang gemintang di sela awan
Tumbuh-tumbuhan kehebatan
Hujan di luar musim

Bentangan langit luas di atas
Misbah yang membakar kantuk
Embun menetes ke pasu
Isak pelawak di dalam gua
Bulan dan bintang terusir siang

***

tembang 111

Ada tiga macam rahasia
Rahasianya rahasia
Rahasia Ilahi
Dan rahasia diri sendiri

Rahasia diri sendiri berada di dalam cahaya
Sangat cerah, megah, tanpa kerudung apapun
Meski demikian, ia tak kasat mata

***

Terimakasih buat Opi yang meminjamkan bukunya.


Posted at 06:57 pm by qaris
Komentars (2)  

Saturday, June 18, 2005
jazz... and everyone’s happy


fugimundi
Erasmus Huis, Jakarta
17 Juni 2005

Eric Vloeimans (terompet),
Ernst Reijseger (cello),
dan Anton Goudsmit (gitar).
 


Ini benar-benar jazz. Kenakalan dan keisengan, serta semangat bermain kanak-kanak dicurahkan untuk membuat sebuah pertunjukan musik yang memukau. Semalam di Erasmus Huis, Jakarta, trio pemusik jazz asal Belanda, Eric Vloeimans (terompet), Ernst Reijseger (cello), dan Anton Goudsmit (gitar) memberi pelajaran baru tentang musik. 

Vloeimans meniup terompetnya dengan lembut, menghasilkan suara yang menenangkan. Tiba-tiba Reijseger membelokkan keseriusan dan kecantikan suara terompet itu dengan gesekan dan juga betotan pada cellonya yang nyeleneh. Goudsmit pun mengekor dengan petikan-petikan gitar yang membuat musik semakin lari dari partitur.

Jazz adalah musik kemerdekaan dan ketiganya mengerti benar akan  kemerdekaan itu. Mereka tidak hanya membebaskan bunyi dari not-not skor yang tertulis rapi di atas kertas, tapi juga membebaskan alat musik untuk mengeluarkan bunyi semaunya.

Rejseger adalah bintang dalam masalah ini. Di tangannya, cello tidak hanya digesek, tapi juga dipetik berdiri seperti kontra bas, dipetik dengan dipangku seperti bas elektrik, dan bahkan menjadi perkusi. Ia juga membuat cellonya seperti hidup, berjalan menaiki anak tangga sambil mengeluarkan bunyi dari benturan antara kaki cello dengan anak tangga.

Hanya bertiga dan mereka serasa orkestra lengkap. Cello Reijseger memberi suara musik klasik, trompet Vloeimans memberi atmosfir jazz 1950-an, dan gitar menghadirkan nuansa modern, bahkan rock.

Ketiganya memanjakan jiwa bermain kanak-kanak. Maklum, Reijseger adalah penyuka game elektronik yang luar biasa (dari kegemaran ini muncul lagu berjudul Prince of Tiberian) dan Vloeimans adalah fans Harry Potter (sebuah lagu juga lahir dari fanatisme ini).

Mengantuk menonton jazz? Oh jangan sampai. Trio ini tak kalah lucu dengan pelawak Trio Patrio. Ketiganya memiliki selera humor yang amat tinggi dan tidak malu untuk mengekspresikannya di atas panggung.

Meski demikian, di saat yang sama mereka benar-benar serius memainkan musiknya. Mendengar lagu demi lagu, mendengar mereka memainkan hanya tiga alat musik, membuat kita melambung. Trompet menyediakan permadani atau savanah tempat kenangan berlabuh, sedang cello yang digesek berjuang menyeret kita kembali ke kenangan masa lalu. Fuih... orgasme!


Posted at 09:14 am by qaris
Kasih Komentar  

Tuesday, June 14, 2005
savanah

Yang kubutuhkan hanya
savanah
dengan cakrawala pucuk rumput.

Juga
kaki-kaki kokoh
yang merobohkan
semua batang ilalang.

Pula mungkin
sepasang peparu tebal,
yang mengarangkan
semua asam.

Tapi jelas
aku tak menyentuh
pedang dan tombak
juga zirah dan topi besi.

Aku menari di bawah purnama
sendiri dan merdeka.

Jakarta, 14 Juni 2005


Posted at 07:15 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, June 11, 2005
puisi kematian

Death in itself is nothing; but we fear
To be we know not what, we know not where.

Dryden

Semua orang ingin ke surga, tapi tak ada yang mau mati. Kita, dan juga sebagian besar orang di atas dunia ini amat takut akan kematian. Seperti kata Dryden, kita takut karena kematian adalah sesuatu yang tidak kita tahu, sesuatu yang misterius.

Tidak demikian dengan para penyair Jepang. Dari haiku (puisi pendek) yang mereka tulis menjelang kematian, kita tahu mereka melihat kematian secara berbeda. Seperti sebuah permulaan perjalanan yang berbeda. Perjalanan menuju arah matahari tenggelam di musim semi.

Para penyair Jepang dan juga para pendeta Zen memang terbiasa untuk menulis puisi menjelang kematiannya. Sangat pendek, hanya tiga sampai empat baris, tapi dapat mengungkapkan apa yang ada di kepala mereka saat elmaut datang menjemput.

***

Hai anak muda
jika kau takut mati,
matilah sekarang!
Mati cuma sekali,
kau tak akan mati lagi.
Hakuin (1685-1768)

Satu bulan
satu aku
jalan padang bertabur salju.
Shofu (1848)

Aku menulis, menghapus, menulis lagi
menghapus lagi, dan kemudian
bunga candu mekar.
Hokushi (1718)

Tahun ini aku ingin
melihat seroja
dari sisi lain.
Jakura (1906)

"Firdaus,"
aku bergumam, dalam tidur
dalam kelambu.
Chora (1776)

Kini musim semi telah datang
ke duniaku.
Selamat tinggal!
Bainen (1905)

Perjalanan ke barat
jalan yang dilalui semua orang:
padang bunga.
Baiseki (1716)

Selamat jalan--
Aku lewat saat
embun menyentuh rerumputan.
Banzan (1730)

Oh, aku tak peduli
ke mana awan musim gugur
berarak.
Bufu (1792)

Aku melewati
tahun berlalu--
hari ini batasnya.
Bunzan (1787)

Aku juga pernah melihat rembulan
dan kini, dunia
benar-benar milik kalian.
Chiyoni (1775)

Badai musim gugur:
aku tak punya urusan lagi
di dunia ini.
Ensetsu (1743)

Apa itu kematian?
Bebas, dari diriku sendiri
Ho! Ho!
Ensetsu (1743)

Tahun berakhir:
Aku tak meninggalkan hatiku
di belakang.
Hankai (1882)

Sejak aku lahir
aku harus mati
jadi...
Kisei (1764)

Hari ini
hidupku tercermin di
semarak pagi
Jomei
 

Posted at 03:40 pm by qaris
Kasih Komentar  

Next Page