|
Saturday, June 11, 2005
Death in itself is nothing; but we fear
To be we know not what, we know not where.
Dryden
Semua orang ingin ke surga, tapi tak ada yang mau mati. Kita, dan juga sebagian besar orang di atas dunia ini amat takut akan kematian. Seperti kata Dryden, kita takut karena kematian adalah sesuatu yang tidak kita tahu, sesuatu yang misterius.
Tidak demikian dengan para penyair Jepang. Dari haiku (puisi pendek) yang mereka tulis menjelang kematian, kita tahu mereka melihat kematian secara berbeda. Seperti sebuah permulaan perjalanan yang berbeda. Perjalanan menuju arah matahari tenggelam di musim semi.
Para penyair Jepang dan juga para pendeta Zen memang terbiasa untuk menulis puisi menjelang kematiannya. Sangat pendek, hanya tiga sampai empat baris, tapi dapat mengungkapkan apa yang ada di kepala mereka saat elmaut datang menjemput.
***
Hai anak muda
jika kau takut mati,
matilah sekarang!
Mati cuma sekali,
kau tak akan mati lagi.
Hakuin (1685-1768)
Satu bulan
satu aku
jalan padang bertabur salju.
Shofu (1848)
Aku menulis, menghapus, menulis lagi
menghapus lagi, dan kemudian
bunga candu mekar.
Hokushi (1718)
Tahun ini aku ingin
melihat seroja
dari sisi lain.
Jakura (1906)
"Firdaus,"
aku bergumam, dalam tidur
dalam kelambu.
Chora (1776)
Kini musim semi telah datang
ke duniaku.
Selamat tinggal!
Bainen (1905)
Perjalanan ke barat
jalan yang dilalui semua orang:
padang bunga.
Baiseki (1716)
Selamat jalan--
Aku lewat saat
embun menyentuh rerumputan.
Banzan (1730)
Oh, aku tak peduli
ke mana awan musim gugur
berarak.
Bufu (1792)
Aku melewati
tahun berlalu--
hari ini batasnya.
Bunzan (1787)
Aku juga pernah melihat rembulan
dan kini, dunia
benar-benar milik kalian.
Chiyoni (1775)
Badai musim gugur:
aku tak punya urusan lagi
di dunia ini.
Ensetsu (1743)
Apa itu kematian?
Bebas, dari diriku sendiri
Ho! Ho!
Ensetsu (1743)
Tahun berakhir:
Aku tak meninggalkan hatiku
di belakang.
Hankai (1882)
Sejak aku lahir
aku harus mati
jadi...
Kisei (1764)
Hari ini
hidupku tercermin di
semarak pagi
Jomei
Posted at 03:40 pm by qaris
Permalink
Wednesday, June 01, 2005
Ada banyak Timur di Timur
Dan banyak Barat di Barat |

|
Adonis adalah penyair Arab paling kontroversial. Dilahirkan di Qassabin, Suriah, Adonis belajar filsafat di Damascus University (Suriah) dan St Joseph University di Beirut (Lebanon). Setelah dipenjara selama enam bulan pada 1955 karena aktivitasnya pada Syrian National Socialist Party, ia menetap di Lebanon pada 1956.
Baik sebagai penyair atau teoris puisi, dan juga sebagai pemikir dengan visi radikal untuk budaya Arab, Adonis telah memberi pengaruh pada masanya dan juga pada para penyair Arab muda. Namanya menjadi padanan untuk modernisme (hadatha). Ia memberontak semua aturan dan juga keyakinan yang ada di sana. Puisi-puisinya terasa begitu mengejutkan dan menantang kebudayaan.
***
Dialog
Siapa kau? Siapa yang kau pilih, oh, Mihyar?
Ke manapun kau pergi, selalu ada ngarai Tuhan atau Setan
sebuah ngarai datang, sebuah ngarai pergi.
Dan dunia adalah pilihan.
Aku memilih tak Tuhan atau pun Setan.
Keduanya punya dinding.
Keduanya menutup mataku.
Kenapa mengganti satu dinding dengan yang lainnya,
saat kebingunganku adalah kebingungan
seluruh pengetahuan?
***
Bahasa Dosa
Aku membakar warisanku, Aku berkata:
"Negeriku adalah perawan, dan tak ada pemakaman di masa mudaku."
Aku lebih penting dari Tuhan dan Setan
(jalanku melintasi jalan Tuhan dan Setan).
Aku menyeberangi bukuku,
dalam prosesi petir berkilat,
prosesi petir hijau,
berteriak:
"Setelahku tak ada Surga, tak ada Musim Gugur,"
dan punahlah bahasa dosa.
***
Yatim
Seorang pecinta berguling di kegelapan Neraka
sebagai batu, Aku.
Tapi aku berpendar.
Aku berkencan dengan para pendeta wanita
di ranjang dewa kuno.
Kata-kataku adalah prahara yang menderak-derak kehidupan,
dan percik api adalah laguku.
Aku adalah bahasa untuk dewa agar datang,
Aku adalah penyihir debu.
***
Kepada Sisyphus
Aku berjanji untuk menulis di atas air,
Aku berjanji untuk betah dengan Sisyphus
batu tanpa kata.
Aku berjanji untuk diam bersama Sisyphus
terdera demam dan bunga api,
dan mencari dengan mata buta
lembar terakhir
yang ditulis untuk musim gugur dan rumput
puisi tentang debu.
Aku berjanji untuk hidup bersama Sisyphus.
***
Wajah Perempuan
Aku tinggal di wajah seorang perempuan
yang tinggal dalam gelombang
terdampar oleh pasang
di pantai yang telah hilang pelabuhannya
dalam cangkangnya.
Aku hidup dalam wajah seorang perempuan
yang membunuhku,
yang ingin menjadi
suar padam
yang dalam darahku berlayar
menuju ujung terujung dari kegilaan.
***
Doa
Wahai Phoenix, Aku berdoa
bahwa kau tetap dalam abu,
bahwa kau tak memandang cahaya atau (matahari) terbit.
Kami tak juga mengalami malammu
tak berlayar menyeberangi kegelapan.
Wahai Phoenix, Aku berdoa
bahwa sihir mati,
rendezvous kita jadi
api dan debu.
Wahai Phoenix, Aku berdoa
bahwa kegilaan menjadi petunjuk kami.
***
Petunjuk untuk Perjalanan di Rimba Makna
Apa cermin itu?
Wajah kedua,
dan mata ketiga.
Apa pelangi itu?
Tubuh gemawan
dan tubuh matahari
saling berpelukan
mencumbu tubuh bumi.
Apa pantai itu?
Bantal untuk ombak yang penat.
Apa puisi itu?
Kanak-kanak
yang hidup dalam pelukan abadi.
Apa tenggelam itu?
Keringat yang mengucur dari
jasad mentari.
Apa mimpi itu?
Orang lapar yang tak cukup
mengetuk pintu kenyataan.
Apa bahagia itu?
Pertengahan jalan
di antara dua taman.
Apa ciuman itu?
Petikan seorang pria
untuk buah yang bukan miliknya.
Apa cakrawala itu?
Ruang yang bergerak
tanpa batas
Apa makna itu?
Awal ketanpa-maknaan
dan akhirnya.
Puisi-puisi diterjemahkan oleh Cermin Retak
Posted at 11:11 pm by qaris
Permalink
Tuesday, May 31, 2005
I
Tersungkur di atas khatifa.
Bermimpi tentang padang dan savanah.
Menginjak rerumputan dan ilalang.
Lalu,
dalam wail ia terpanggang.
***
II
Terbangun
di pantai putih,
dengan laut biru,
dengan langit cakrawala merah bara.
"Di mana kita?"
Orang berjanggut uban mengangkat bahu.
"Kenapa cakrawala berwarna merah,
sedang senja belum tiba?"
"Di sini cakrawala selalu merah.
Sebelum dan sesudah waktu."
***
III
Mari kita bicara mimpi.
"Tapi aku tak pernah bermimpi."
Oke, kita bicara mimpiku.
"Tapi kau selalu lupa saat terbangun."
Baik, kita bicara mimpi orang lain.
"Tapi aku ingin menjadi mimpimu."
Kini kau menjadi mimpiku.
Dan dalam sadarku, kau cuma bayang-bayang.
Posted at 08:43 pm by qaris
Permalink
Saturday, May 28, 2005
Cavalleria Rusticana (Pietro Mascagni - Melodrama in un atto)
Gedung Kesenian Jakarta, April 2005
Jakarta Chamber Orchestra dan Parahyangan Catholic University Choir
 |
Cavalleria Rusticana adalah opera karya Pietro Mascagni (1863-1945). Lakonan ini dianggap sebagai salah satu tonggak dari opera realisme (verismo). Karena itu, saat dipentaskan kembali di Jakarta, beberapa saat lalu, saya tak berharap terlalu banyak akan mendapatkan kejutan. Realisme selalu datar. Tapi sebagai salah satu tonggak dalam aliran seni, opera ini layak untuk ditonton. Apalagi Avip Priyatna dkk serta Binu dkk tampil tanpa cacat di gedung pertunjukan (GKJ) dengan sistem akustik sempurna. Sebagai tambahan, kostum yang dibuat oleh desainer Bali, Irsan, juga menggambarkan dengan tepat realisme yang diinginkan Mascagni. |
K U T I P A N :
Alfio:
Il cavallo scalpita,
I sonagli squillano,
Schiocca la frusta.
E va!
Soffi il vento gelido,
Cada l'acqua o nevichi,
A me che cosa fa?
|
Alfio:
Derap kuda bergemuruh,
Lonceng kuda bergemerincing,
Cambuk diayunkan,
Ayo!
Biarlah angin dingin berhembus,
Hujan turun, atau salju
Apa peduliku?
|
Santuzza:
E con nuovo amore
Volle spegner la fiamma
Che gli bruciava il core:
M'amo,
l'amai.
|
Santuzza:
Turridu mencari cinta lain
Untuk meredakan api
Yang membara di hatinya:
Dia mencintaiku,
Aku mencintainya.
|
Alfio:
Vendetta avro
Pria che tramonti il di.
Io sangue voglio,
All'ira m'abbandono,
In odio tutto
L'amor mio fini...
|
Alfio:
Aku akan membalas dendam
Sebelum matahari terbenam
Aku akan menumpahkan darah.
Kemarahanku akan tidak terbendung
Dan semua cintaku
Akan berakhir dalam kebencian... |
Posted at 11:19 pm by qaris
Permalink
Friday, May 27, 2005
Langit malam luntur,
hujan meleleh... hitam, hitam.
***
Karena kematian adalah perayaan,
ia mengasah belati.
Karena kesedihan adalah tamu,
ia membuka pintu.
Karena kesendirian adalah gua,
ia bertapa.
***
Langit malam luntur,
hujan meleleh... pekat, pekat.
Posted at 03:28 pm by qaris
Permalink
|
|