"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, May 06, 2006
Gelisah

Adakah yang lebih berharga
dari kegelisahan?

Satu waktu
mungkin esok
saat matahari cerah
aku terbangun
tanpa kegelisahan.

Jika itu datang
ingatkan aku
untuk menggali
makam sendiri

Posted at 05:06 pm by qaris
Komentar (1)  

Jejak Langkah Penyanyi Bisu
Kenangan untuk Pramodya Ananta Toer

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

(Chairil Anwar, Yang Terempas dan Yang Putus)



Kematiannya tak mengejutkan. Semua orang tahu, saatnya sudah tiba. Ia sudah sakit-sakitan sejak beberapa bulan lalu. Tapi orang berpikir, atau tepatnya berharap, kali ini ia mampu untuk bertahan, melawan sang maut, seperti ia selama puluhan tahun melawan kesewenang-wenangan.

Entah mulai kapan aku mulai "mengenalnya". Mungkin sejak aku duduk di sekolah dasar, ketika aku melihat empat novel Pulau Burunya terjajar di rak buku ayahku, bersama buku-buku agama yang dimilikinya. "Sastrawan komunis," kata pamanku. Pamanku memang membenci komunis, tapi ia adalah pelahap karya-karya Pram.

Aku kemudian membacanya juga. tapi setelah dalam membaca pertentangan antara Pram dan para penandatangan Manifes Kebudayaan. Aku setuju pada Goenawan Mohammad. Pelarang novel-novel Pram oleh Orde Baru memang tak bisa dibenarkan. Tapi kita juga tidak bisa membenarkan perbuatan Pram melarang penerbitan karya-karya sastra di luar aliran realisme sosial, seperti yang dilakukannya pada 1960-an saat ia dekat dengan kekuasaan dan aktif di Lekra. Perbuatan yang sampai ia meninggal tak pernah disesalinya.

Aku juga ingin muntah saat membaca novel-novel Pram yang rasis dan penuh praduga seperti Arus Balik dan Gadis Pantai. Tapi aku juga menghormatinya. Bagaimana pun juga Pram adalah sastrawan besar. Banyak karya-karyanya yang aku suka. Banyak tulisannya yang mampu menitikkan air mataku.


Pram adalah sastrawan jujur, yang tak mementingkan basa-basi, yang tak peduli orang suka padanya atau tidak. Ia bisa kita sukai, cintai, sekaligus kita benci. Ia bukan pramugari pesawat udara yang tersenyum kepada siapa pun.


Dan pada akhirnya, perginya Pram adalah kehilangan kita juga.

Posted at 03:04 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, March 11, 2006
putih

Tertidur tenang
dengan kemilau putih
bibirmu masih menyudut
seperti kemarin
waktu aku terpesona

Ingin aku menyentuh
tapi tak pernah kulakukan
karena bukan begitu inginmu

Aku menulis puisi ini
tanpa melihat kata
karena begitulah
hal yang tak perlu dirumuskan

Posted at 06:13 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, December 31, 2005
pagi yang sempurna

ini pagi sedikit mendung
kopi hangat dan lagu sedih
jalanan sepi dan puisi tanpa huruf kapital
seharusnya, setiap pagi seperti ini
mengalir lembut tanpa kejutan
tanpa cinta dan amarah
kemudian siang datang bawa hujan
tanpa petir, cuma rintik
lalu sore tiba runtuhkan semua awan
malam menyapa, aku
terlentang menantang gemintang
adakah lagi pagi yang sempurna?

Posted at 04:06 pm by qaris
Kasih Komentar  

Tuesday, August 02, 2005
081


Aku tak bisa menulis puisi tentangmu
Entah, ini pertanda apa
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk mereka
yang tak rebah dalam hatiku.
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk
mereka yang cuma berkelebat seperti petir

Kucoba berkali-kali
Untuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarkan hatiku kini.
Tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarmu dengan tepat.

***

Tadi aku mengirim pesan terima kasih
Karena kau telah memberiku hari yang indah
Keindahan dari hal-hal sederhana
Terbaring, melihat foto di dinding
Berkisah cerita konyol
Duduk di lantai, memutar lagu sedih
Melihatmu berdandan
Melihatmu memakaikan maskara di mataku
Kamu tertawa, karena tak ada pria memakai maskara

Aku suka tawamu
Aku suka melihat bibirmu yang menyudut saat
bicara dengan emosi
Aku suka subangmu, putih, bulat, seperti cahaya gerhana

Posted at 11:06 am by qaris
Kasih Komentar  

Next Page