Adakah yang lebih berharga
dari kegelisahan?
Satu waktu
mungkin esok
saat matahari cerah
aku terbangun
tanpa kegelisahan.
Jika itu datang
ingatkan aku
untuk menggali
makam sendiri
Posted at 05:06 pm by qaris
Permalink
Jejak Langkah Penyanyi Bisu
Kenangan untuk Pramodya Ananta Toer
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
(Chairil Anwar, Yang Terempas dan Yang Putus)
Kematiannya tak mengejutkan. Semua
orang tahu, saatnya sudah tiba. Ia sudah sakit-sakitan sejak beberapa
bulan lalu. Tapi orang berpikir, atau tepatnya berharap, kali ini ia
mampu untuk bertahan, melawan sang maut, seperti ia selama puluhan
tahun melawan kesewenang-wenangan.
Entah mulai kapan aku mulai "mengenalnya". Mungkin sejak aku duduk di
sekolah dasar, ketika aku melihat empat novel Pulau Burunya terjajar di
rak buku ayahku, bersama buku-buku agama yang dimilikinya. "Sastrawan
komunis," kata pamanku. Pamanku memang membenci komunis, tapi ia adalah
pelahap karya-karya Pram.
Aku kemudian membacanya juga. tapi setelah dalam membaca pertentangan
antara Pram dan para penandatangan Manifes Kebudayaan. Aku setuju pada
Goenawan Mohammad. Pelarang novel-novel Pram oleh Orde Baru memang tak
bisa dibenarkan. Tapi kita juga tidak bisa membenarkan perbuatan Pram
melarang penerbitan karya-karya sastra di luar aliran realisme sosial,
seperti yang dilakukannya pada 1960-an saat ia dekat dengan kekuasaan
dan aktif di Lekra. Perbuatan yang sampai ia meninggal tak pernah
disesalinya.
Aku juga ingin muntah saat membaca novel-novel Pram yang rasis dan
penuh praduga seperti Arus Balik dan Gadis Pantai. Tapi aku juga
menghormatinya. Bagaimana pun juga Pram adalah sastrawan besar. Banyak
karya-karyanya yang aku suka. Banyak tulisannya yang mampu menitikkan
air mataku.
Pram adalah sastrawan jujur, yang tak mementingkan basa-basi, yang tak
peduli orang suka padanya atau tidak. Ia bisa kita sukai, cintai,
sekaligus kita benci. Ia bukan pramugari pesawat udara yang tersenyum
kepada siapa pun.
Dan pada akhirnya, perginya Pram adalah kehilangan kita juga.
Posted at 03:04 pm by qaris
Permalink
Tertidur tenang
dengan kemilau putih
bibirmu masih menyudut
seperti kemarin
waktu aku terpesona
Ingin aku menyentuh
tapi tak pernah kulakukan
karena bukan begitu inginmu
Aku menulis puisi ini
tanpa melihat kata
karena begitulah
hal yang tak perlu dirumuskan
Posted at 06:13 pm by qaris
Permalink
ini pagi sedikit mendung
kopi hangat dan lagu sedih
jalanan sepi dan puisi tanpa huruf kapital
seharusnya, setiap pagi seperti ini
mengalir lembut tanpa kejutan
tanpa cinta dan amarah
kemudian siang datang bawa hujan
tanpa petir, cuma rintik
lalu sore tiba runtuhkan semua awan
malam menyapa, aku
terlentang menantang gemintang
adakah lagi pagi yang sempurna?
Posted at 04:06 pm by qaris
Permalink
Aku tak bisa menulis puisi tentangmu
Entah, ini pertanda apa
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk mereka
yang tak rebah dalam hatiku.
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk
mereka yang cuma berkelebat seperti petir
Kucoba berkali-kali
Untuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarkan hatiku kini.
Tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarmu dengan tepat.
***
Tadi aku mengirim pesan terima kasih
Karena kau telah memberiku hari yang indah
Keindahan dari hal-hal sederhana
Terbaring, melihat foto di dinding
Berkisah cerita konyol
Duduk di lantai, memutar lagu sedih
Melihatmu berdandan
Melihatmu memakaikan maskara di mataku
Kamu tertawa, karena tak ada pria memakai maskara
Aku suka tawamu
Aku suka melihat bibirmu yang menyudut saat
bicara dengan emosi
Aku suka subangmu, putih, bulat, seperti cahaya gerhana
Posted at 11:06 am by qaris
Permalink