"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< May 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, May 27, 2005
Hujan Melelehkan Malam

Langit malam luntur,
hujan meleleh... hitam, hitam.

***

Karena kematian adalah perayaan,
ia mengasah belati.
Karena kesedihan adalah tamu,
ia membuka pintu.
Karena kesendirian adalah gua,
ia bertapa.

***

Langit malam luntur,
hujan meleleh... pekat, pekat.

Posted at 03:28 pm by qaris
Kasih Komentar  

Menyelami Kegelisahan Cobain

Judul: Heavier Than Heaven: The Biography of Kurt Cobain

Penulis: Charles R. Cross

Penerbit: Sceptre

Jumlah halaman: 366

"Saat itu 12 Januari 1992, Minggu pagi yang cerah tapi menggigit. Temperatur di New York City pada akhirnya merangkak hingga 44 derajat Fahrenheit, tapi pada pukul 07.00 pagi, di suite kecil di Omni Hotel, udara mendekati beku. Sebuah jendela dibiarkan terbuka untuk membuang udara pengap karena rokok, dan pagi Manhattan telah mencuri seluruh kehangatannya. Kamar itu seperti baru dilanda badai..." Selanjutnya, paragraf kedua dari bab pertama buku Heavier Than Heaven: The Biography of Kurt Cobain itu mendeskripsikan dengan detail kekacauan kamar hotel bintang empat yang ditinggali oleh Cobain dan tunangannya, Courtney Love.  

Di kamar yang berantakan itu, di Minggu pagi yang dingin, Cobain "untuk pertama kalinya melihat surga, tepat enam jam lima puluh tujuh menit setelah seluruh generasi jatuh cinta padanya." Semalam ia mencatat rekor dalam kariernya: Nirvana, band yang dimotorinya, menjadi band beraliran grunge pertama yang tampil secara langsung dalam siaran nasional televisi, dan mereka berhasil meng-KO Michael Jackson di puncak tangga lagu Billboard. Tapi pagi itu badannya membiru karena overdoses. Untung Love bangun pada saat yang tepat dan berhasil menyelamatkan sang bintang.

Kehidupan penggagas grunge itu memang seperti drama, penuh warna, meski sebagian besar dalam warna gelap. Dan itulah yang berhasil ditangkap dengan baik oleh Charles R. Cross, sang penulis biografi. Cross dalam 366 halaman berhasil merekonstruksi kehidupan Cobain yang eksentrik itu. Ia dengan detail dapat menceritakan setiap sudut perjalanan hidup bintang yang pemalu itu dari sejak ia dikandung ibunya hingga meninggal secara tragis di ujung peluru yang ditembakkannya sendiri. Ia tidak hanya berhasil mengungkap detail kehidupan Cobain setelah ia menjadi bintang, bahkan Cross tahu kalau Snoopy adalah gambar yang tercetak di kotak makan siang Cobain waktu ia kecil.

Keberhasilan Cross dalam merekonstruksi dan mendeskripsikan ulang kehidupan Cobain secara detail ini bukannya datang dari ilham. Ia tidak sedang menulis fiksi. Semua itu ia dasarkan pada hasil dari kerja keras menyusun fakta tetang Cobain. Ia telah melakukan riset selama empat tahun, melakukan 400 wawancara, memelototi tumpukan dokumen, mendengar ratusan rekaman musik, dan menempuh bermil-mil jalan antara Seattle dan Aberdeen berkali-kali. Fakta-fakta itu ia kumpulkan dan ia susun dengan rapih hingga membentuk cerita yang hidup. Ia tidak hanya mampu membuat bukunya seperti film dokumenter tentang Cobain, tapi juga membawa pembacanya larut dalam naik turunnya emosi pergulatan kehidupan Cobain. Dengan hanya membacanya, kita bahkan bisa mencium bau pesing apartemen kecil Cobain saat masih merangkak di dasar kariernya.

Karena lebih berupaya menghadirkan kisah Cobain dengan hidup, berkoronologis, dan mengalir, Cross tidak mau membuat kita sibuk dengan kontroversi dan berragam versi cerita. Ia sendiri yang menentukan kisah tersahih berdasarkan data yang ia dapatkan di lapangan, dan pilihannya itulah yang kemudian kita baca secara detail. Itu juga yang dilakukannya saat menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan Cobain, saat penyanyi yang anti popularitas itu memutuskan untuk menghabisi dirinya di usia 27 tahun, melanjutkan jejak yang dilalui oleh para rocker "klub 27" seperti Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Jim Morrison.

Cross bisa menggambarkan bagaimana Cobain dengan kaus-T bertuliskan Half Japanese, bercelana Levi's dan bersepatu Converse duduk di ujung tempat tidur, menulis testimoni terakhirnya untuk Love. Televisi dipanteng pada MTV, namun tanpa suara. Dari pemutar CD, REM memainkan lagu dari album Automatic for The People. "Kamu tahu, aku mencintaimu, aku mencintai Frances (putrinya). Maaf. Tolong, jangan ikuti aku. I'm sorry, sorry, sorry," tulisnya. "Aku tak tahu ke mana aku pergi. Aku hanya tidak bisa di sini lagi." Setelah menuliskan surat panjang dengan berbagai kesalahan eja dan menghabiskan tiga batang rokok Camel Light, Cobain menuju halaman belakang. Sebelumnya ia mengambil senjata api, handuk, cerutu, heroin Meksiko, dan bir. Ia menulis beberapa kata penutup lalu meletakkan catatannya di atas pot dan menancapkan pulpen padanya. Setelah heroin mulai berreaksi, ia mengambil senjatanya, mengarahkan ke lagit-langit mulutnya... "And then he was gone."

Posted at 12:40 pm by qaris
Kasih Komentar  

Thursday, May 26, 2005
Leo the African

        Novel menarik berdasarkan kisah nyata Hassan al-Wazzan, traveller abad keenambelas. Ia dilahirkan di Granada, Spanyol Selatan, namun terusir--bersama ribuan orang Islam lainnya--dari daratan Eropa. Al-Wazzan kemudian dibesarkan di Fez, kota eksotik di Magribi, Afrika Utara. Belum genap 20 tahun ia sudah mengembara bersama pamannya yang duta besar keliling. Ia mengarungi Sahara dan bertemu dengan penguasa-penguasa Afrika.
        Setelah kematian isteri dan anaknya, al-Wazzan pindah ke Kairo dan menjelajahi dunia Arab. Setelah itu melompat ke Roma, dijadikan budak, terpaksa masuk Kristen, dan akhirnya kembali memeluk Islam.

        Novel ini membuka dunia yang amat eksotik: negeri-negeri Mediteranian (Spanyol, Portugal, Italia, Maroko, Mesir) di abad itu. Penulis, Amin Maalouf (Pemenang 1993 Grand Prix Goncourt), mampu menghadirkan kembali pesona sisa-sisa peradaban tinggi orang-orang Moor (Afrika Utara) yang ada di Spanyol dan Fez. Sebuah dunia yang jarang disentuh oleh para orientalis. Mungkin ilmuwan Barat enggan membuka kembali aib peradaban mereka: membakar hidup-hidup ribuan orang Islam dan Yahudi yang enggan masuk Kristen setelah Raja Ferdinand merebut Spanyol Selatan dari orang-orang Moor (terjadi tepat 500 tahun sebelum Olimpiade Barcelona yang juga digelar di Spanyol Selatan).
        Tak ada kebencian antar agama dalam buku ini. Semua orang bisa menjadi binatang, apa pun agama mereka, Muslim atau Kristen. Maalouf, lewat al-Wazzan, hanya memberi potret masyarakat dan peradaban kala itu. "Dazzlingly exotic," tulis Observer.

***

"Yet do not doubt that I am also Leo Africanus the traveller."
W.B. Yeats 1865-1939

***

K U T I P A N

Book of Granada

I come from no country, from no city, no tribe. I am the son of the road, my country is the caravan, my life the most unexpected of voyages.

My wrist have experience in turn the caresses of silk, the abuses of wool, the gold of princes and the chain of slaves. My finger have parted a thousand veils, my lips have made a thousand virgin blush, and my eyes have seen cities die and empires perish.

All tounges and all prayers belong to me. But I belong to none of them.

'You weep like a woman for the kingdom which you did not defend like a man.'

But destiny is more changeable than the skin of a chameleon

***

Book of Fez

Every man had the right to take the wrong road if he believed he was pursuing happiness.

God did not ordain that my destiny should be written completely in a single book, but that it should unfold, wave after wave, to the rythim of the seas. At each crossing, destiny jettisoned the ballast of one future to endow me with another.

And I hope that, like him, you will love the point of tyrany, and that you will long remain receptive to the noble temptations of life.

Death will come, and then the waves of the sea
Then the woman and her fruit will return

Death is a celebration. A spectacle

Too often, at funerals, Ia hear men and women cursing death. But death is a gift. So that life is to have meaning; of night, that day is to have meaning; silence, that speech is to have meaning; illness, that health is to have meaning; war, that peace is to have meaning.

I have made a rose flower upon your cheeks,
I have made a smile open out upon your lips.
Do not push me away, for our Law is clear;
Every man has the right to pick
What he himself has planted.

Love is thirst at the edge of well
Love is flower and not fruit

***

Book of Rome

I no longer saw land, nor sea, nor sun, nor the end of the journey.

Posted at 11:44 pm by qaris
Komentar (1)  

Aku Suka Kau Berdiam

Aku suka jika kau berdiam
Terpikir kau seperti tak ada
Dan kau mendengarku dari kejauhan
Dan suaraku tak menyentuhmu
Sepertinya matamu telah terbang
Dan tampaknya sebuah ciuman telah mengunci mulutmu
Serupa segala sesuatu memenuhi jiwaku
Kau muncul dari sesuatu
Memenuhi jiwaku
Kau seperti jiwaku
Kupu-kupu mimpi
Dan kau seperti kata-kata: Melankoli

Aku suka jika kau berdiam
Dan kau seperti jauh
Terdengar kau seperti meratap
Kupu-kupu yang mengepak seperti merpati
Dan kau mendengarku dari kejauhan
Dan suaraku tak menyentuhmu
Biarkan aku datang untuk berdiam di kesunyianmu
Dan biarkan aku berbicara kepadamu dengan kesunyianmu
Berpendar seperti dian
Sederhana, seperti cincin
Kau seperti malam
Dengan ketenangannya dan konstelasinya
Diammu adalah sebuah bintang
Jauh dan tulus

Aku suka jika kau berdiam
Terpikir kau seperti tak ada
Jauh dan penuh dengan kesedihan
Maka kau akan mati
Satu kata kalau begitu, Satu senyuman dan itu cukup
Dan aku bahagia
Kebahagiaan yang tak sejujurnya

Pablo Neruda

Posted at 05:49 pm by qaris
Kasih Komentar  

Wednesday, May 25, 2005
Rendezvous

Satu kelokan lagi dan aku akan melihat jajaran pohon pinus. Sudah belasan tahun berlalu, tapi aku tahu pasti barisan pinus ada di ujung jalan itu. Pohon-pohon randu yang sudah mulai kering kapuknya dan sudah berduri pokoknya menghalangi pandanganku dari pinus-pinus lurus itu. Tapi aku yakin, ia ada di sana. Di kotaku, di dataran rendah, terlalu sulit untuk melupakan barisan pinus.

    Sudah belasan tahun, dan tak ada yang berubah. Di sini waktu berhenti. Jalanan yang kuinjak kini adalah jalan yang kutapak belasan tahun lalu. Diawali dengan jalan aspal yang tak terawat berlubang-lubang, dilanjutkan dengan jalan tanah liat berbatu-batu. Di  musim hujan jalanan ini menjadi liat dan menjengkelkan. Kami (aku dan teman-teman) harus harus berkali-kali membuang lempung dari ban sepeda dan sandal jepit yang hampir putus. Di musim panas seperti sekarang ini tanah liat menjadi debu dan daun-daun pinus menjadi kelabu. Tetapi perjalanan yang menjengkelkan ini tak pernah membuatku jera untuk selalu kembali.

    Setelah belasan tahun aku kembali di sini. Sendiri... Aneh rasanya kembali menapak jalan ini seorang diri. Begitu sunyi. Kesunyian yang aneh. Bukan kesunyian yang kau cari saat membutuhkan ketenangan. Tapi kesunyian yang begitu kau kenal, seperti sudah kau akrabi sejak bunda melahirkanmu. Mungkin seperti kesunyian di dalam rahim.

    Aku sudah sampai di kelokan. Benar, pinus-pinus itu masih berdiri tegak di ujung jalan. Kawan, akhirnya kita bertemu lagi.

    Aku duduk melepas capek di jembatan kecil, tepat di kelokan ini. Di bawahku mengalir parit keruh. Dulu kami sering mencuci sepeda yang berantakan terserang lumpur di situ. Kecipak air yang kami mainkan masih terdengar jelas.

    Aku jelas tahu kenapa aku kini di sini. Tak mungkin aku menempuh jarak ratusan kilometer kalau tak tahu kenapa. Mustahil kubiarkan matahari siang ini melelehkan tubuhku kalau tak mengerti mengapa. Masalahnya, aku tak tahu apakah  ini akan berhasil. Apakah pengorbananku tak sia-sia.

    Semua bermula sebulan lalu, ketika aku tidak merasakan apa-apa saat bangun pagi. Tentu, seluruh sel tubuhku masih berfungsi. Bahkan ereksi pagi tak absen. Tapi otakku kosong begitu mata terbuka. Aku lihat langit-langit kamar dan tak ada sesuatupun yang aku pikirkan. Aku tak melamun, tapi sama sekali tidak berpikir. Entah berapa lama aku tak bergerak sedikitpun, sampai aku tak bisa lagi menahan kantung kemihku.

    Setelah mandi dan kepala kuyup oleh air dingin, hal itu tak berubah. Juga ketika aku sampai di kantor dan sibuk oleh pekerjaan. Aku mengerjakannya seperti mesin. Aku melihat orang-orang di kantor, dan sepertinya aku tidak berada di tengah-tengah mereka.

    Aku seperti hidup dalam gelembung plastik yang besar. Aku bisa melihat orang-orang di sekitarku. Mereka juga bisa melihatku. Tapi mereka begitu asing, seperti berada di dunia yang berbeda. Mereka berbicara tapi tak dapat kudengar, mereka memberi pesan tapi tak sampai kepadaku. Kehampaan itu membuat otakku terasa kosong. Aku tak tahu apa yang kupikirkan, aku tak tahu apa yang kumau, aku tak tahu apa yang harus dilakukan.

    Semua terasa hambar, semua terlihat datar.

    Sebenarnya, setiap kegelisahan datang, aku selalu teringat sebuah tempat di balik barisan pinus ini. Tempat yang pernah akrab denganku, tapi selalu aku hindari belakangan ini. Tempat bermain saat kecil dan "gua persembunyian" ketika remaja. Di sanalah segala masalah dulu kuendapkan. Ia adalah pasir hisap yang setia menelan semua kegelisahanku.

    Ayah yang mengenalkan tempat ini kepadaku.

    Suatu siang yang panas. Saat itu aku  baru berumur sembilan tahun. Seperti biasa, bunda menyuruhku tidur siang begitu selesai makan. Ia tak mau lagi mendengar aku mengantuk di surau saat mengaji. Siang ini bunda memberi banyak tekanan pada perintah tidur siangnya.

    Aku masuk kamar, tapi tak bisa tidur. Mendongkol, karena siang ini aku punya banyak rencana. Kemarin Pak Leman, pembuat sepatu bola, mengatakan akan membuat bola kulit siang ini. Seorang dari Surabaya memesan beberapa buah darinya. Ia berjanji akan menunggu aku untuk mulai membuat sepatu. Tapi dia pasti tak mau menungguku selamanya. Siang ini pandai besi di dekat rumah Kamil akan membuat pacul yang dilapisi kaca agar lempung sawah tak lengket. Itu juga tak bisa kulihat karena acara tidur siang. Ini tak adil, kenapa orang tua tak wajib tidur siang? Bukankah mereka juga butuh istirahat?

    Tiba-tiba ayah sudah duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum dan menyuruhku menemuinya di ujung jalan. Ia hanya memintaku untuk tidak ribut. Meski keheranan, aku enggan bertanya. Aku takut satu pertanyaan akan membuatnya membatalkan usaha penggagalan tidur siangku. Aku tak peduli ke mana ia akan membawaku. Aku tak peduli meski ayah tak mungkin mengajakku ke pabrik sepatu Pak Leman atau pandai besi. Yang jelas, aku tidak tidur siang lagi.

    Ayah datang membawa sekuter cokelatnya yang masih baru. Ia baru membelinya sepekan lalu, dan masih senang mengendarainya, ke mana saja. Awalnya aku mengira kami akan ke pertokoan, tapi sesampainya di jalan besar ia justru mengambil arah timur. Ia terus membawaku hingga  kami melewati rumah sakit. Setelah kantor polisi, ayah mengambil jalan kecil. Aku memasuki kawasan yang tak kukenal. Semakin lama jalanan semakin parah. Ia memperlambat sekuternya. Di tengah barisan pinus ia berhenti. Aku tertegun, inilah untuk pertama kalinya aku melihat pohon yang tinggi, lurus, namun daunnya lurus seperti cacing kelaparan. Sebelumnya kukira hanya pohon beringin di halaman kawedanan yang bisa setinggi raksasa.

    Kepalaku tetap mendongak meski ayah sudah kembali menjalankan sekuternya. Ujung-ujung pinus yang kelabu seperti tumbang ke belakangku.

    Beberapa puluh meter kemudian kami kembali berhenti. Di depan ada gerbang kecil dan pagar kawat. Di sebuah rumah kecil dengan atap beton ayah menitipkan sekuternya. Di balik pagar yang dijalari tumbuhan rambat, pohon-pohon besar mengelilingi sebuah sendang, sebuah mata air. Akar-akarnya menjuntai, menembus air bening dan menancap di dasar kolam. Batu-batu lonjong sebesar telur menjaga sendang ini tetap jernih. Tak terlalu dalam.

    Kami duduk di tepinya, di bawah bayang-bayang pohonan rimbun. Kemarau tak datang kemari. Kepala ayah terangguk saat aku melihat matanya. Dengan ragu aku masuk ke dalam air yang dingin itu.  Aku belum bisa berenang. Aku hanya seperti kerbau yang mendinginkan badan setelah sekian lama tertusuk matahari.

    Ayah berbaring saat aku mentas. Daun-daun kering yang sebagian sudah menghumus dipunggunginya. Aku berbaring di sampingnya dan menatap pohonan. Satu dua daun kering jatuh dari ranting di atas sana. Turun perlahan terbawa angin.

    Kami tertidur.

    Ayah membangunkanku ketika matahari akan segera hilang di balik pohon. Entah berapa lama kami tertidur. Ayah memacu motornya lebih kencang. Debu berterbangan dan ia tak peduli lagi dengan pegas motor barunya.

    Ia mengambil jalan yang berbeda. Aku menyadarinya saat di samping kanan kiri kami ada lautan putih bunga sedap malam. Ayah menghentikan sekuternya dan memintaku berdiri di belakang kemudi. Aku baru tahu alasannya saat keharuman aku cium dari angin yang menerpa wajahku. Malam hampir tiba dan bunga-bunga putih ini menepati janjinya untuk menebar wangi.

    Setelah itu kami tak pernah ke sana berdua. Aku masih datang ke sana dengan mengajak teman-teman. Ketika remaja, ketika kegelisahan sudah mulai datang, aku memilih sendang ini untuk menjadi gua kelaki-lakianku. Tempat aku membuang angin ribut musim panca roba. Tempat aku membagi kesedihan.  Setelah kuliah, aku tak pernah lagi ke sini. Apalagi setelah ayah meninggal dan aku tinggal di Jakarta.

    Kini, setelah belasan tahun berlalu, aku kembali di sini. Pagar itu masih yang dulu. Gerbang itu tak pernah berubah. Sendang itu masih jernih dan teduh. Tapi aku tak tahu apakah ia masih "bertuah".  Apakah ia masih sanggup mengisap seluruh kegundahanku. Aku kembali di sini, rebah di atas humus dan daunan kering.

***

Cemas itu, nak, memang telah jadi umum
dan akan sampai pula kemari
Nah rapikan rambutmu sebelum kucium
dengan tangkai daun yang telah lama mati

(Puisi oleh Goenawan Mohamad: Sajak Untuk Bungbung)

Posted at 01:44 pm by qaris
Kasih Komentar  

Next Page