"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< May 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, May 26, 2005
Aku Suka Kau Berdiam

Aku suka jika kau berdiam
Terpikir kau seperti tak ada
Dan kau mendengarku dari kejauhan
Dan suaraku tak menyentuhmu
Sepertinya matamu telah terbang
Dan tampaknya sebuah ciuman telah mengunci mulutmu
Serupa segala sesuatu memenuhi jiwaku
Kau muncul dari sesuatu
Memenuhi jiwaku
Kau seperti jiwaku
Kupu-kupu mimpi
Dan kau seperti kata-kata: Melankoli

Aku suka jika kau berdiam
Dan kau seperti jauh
Terdengar kau seperti meratap
Kupu-kupu yang mengepak seperti merpati
Dan kau mendengarku dari kejauhan
Dan suaraku tak menyentuhmu
Biarkan aku datang untuk berdiam di kesunyianmu
Dan biarkan aku berbicara kepadamu dengan kesunyianmu
Berpendar seperti dian
Sederhana, seperti cincin
Kau seperti malam
Dengan ketenangannya dan konstelasinya
Diammu adalah sebuah bintang
Jauh dan tulus

Aku suka jika kau berdiam
Terpikir kau seperti tak ada
Jauh dan penuh dengan kesedihan
Maka kau akan mati
Satu kata kalau begitu, Satu senyuman dan itu cukup
Dan aku bahagia
Kebahagiaan yang tak sejujurnya

Pablo Neruda

Posted at 05:49 pm by qaris
Kasih Komentar  

Wednesday, May 25, 2005
Rendezvous

Satu kelokan lagi dan aku akan melihat jajaran pohon pinus. Sudah belasan tahun berlalu, tapi aku tahu pasti barisan pinus ada di ujung jalan itu. Pohon-pohon randu yang sudah mulai kering kapuknya dan sudah berduri pokoknya menghalangi pandanganku dari pinus-pinus lurus itu. Tapi aku yakin, ia ada di sana. Di kotaku, di dataran rendah, terlalu sulit untuk melupakan barisan pinus.

    Sudah belasan tahun, dan tak ada yang berubah. Di sini waktu berhenti. Jalanan yang kuinjak kini adalah jalan yang kutapak belasan tahun lalu. Diawali dengan jalan aspal yang tak terawat berlubang-lubang, dilanjutkan dengan jalan tanah liat berbatu-batu. Di  musim hujan jalanan ini menjadi liat dan menjengkelkan. Kami (aku dan teman-teman) harus harus berkali-kali membuang lempung dari ban sepeda dan sandal jepit yang hampir putus. Di musim panas seperti sekarang ini tanah liat menjadi debu dan daun-daun pinus menjadi kelabu. Tetapi perjalanan yang menjengkelkan ini tak pernah membuatku jera untuk selalu kembali.

    Setelah belasan tahun aku kembali di sini. Sendiri... Aneh rasanya kembali menapak jalan ini seorang diri. Begitu sunyi. Kesunyian yang aneh. Bukan kesunyian yang kau cari saat membutuhkan ketenangan. Tapi kesunyian yang begitu kau kenal, seperti sudah kau akrabi sejak bunda melahirkanmu. Mungkin seperti kesunyian di dalam rahim.

    Aku sudah sampai di kelokan. Benar, pinus-pinus itu masih berdiri tegak di ujung jalan. Kawan, akhirnya kita bertemu lagi.

    Aku duduk melepas capek di jembatan kecil, tepat di kelokan ini. Di bawahku mengalir parit keruh. Dulu kami sering mencuci sepeda yang berantakan terserang lumpur di situ. Kecipak air yang kami mainkan masih terdengar jelas.

    Aku jelas tahu kenapa aku kini di sini. Tak mungkin aku menempuh jarak ratusan kilometer kalau tak tahu kenapa. Mustahil kubiarkan matahari siang ini melelehkan tubuhku kalau tak mengerti mengapa. Masalahnya, aku tak tahu apakah  ini akan berhasil. Apakah pengorbananku tak sia-sia.

    Semua bermula sebulan lalu, ketika aku tidak merasakan apa-apa saat bangun pagi. Tentu, seluruh sel tubuhku masih berfungsi. Bahkan ereksi pagi tak absen. Tapi otakku kosong begitu mata terbuka. Aku lihat langit-langit kamar dan tak ada sesuatupun yang aku pikirkan. Aku tak melamun, tapi sama sekali tidak berpikir. Entah berapa lama aku tak bergerak sedikitpun, sampai aku tak bisa lagi menahan kantung kemihku.

    Setelah mandi dan kepala kuyup oleh air dingin, hal itu tak berubah. Juga ketika aku sampai di kantor dan sibuk oleh pekerjaan. Aku mengerjakannya seperti mesin. Aku melihat orang-orang di kantor, dan sepertinya aku tidak berada di tengah-tengah mereka.

    Aku seperti hidup dalam gelembung plastik yang besar. Aku bisa melihat orang-orang di sekitarku. Mereka juga bisa melihatku. Tapi mereka begitu asing, seperti berada di dunia yang berbeda. Mereka berbicara tapi tak dapat kudengar, mereka memberi pesan tapi tak sampai kepadaku. Kehampaan itu membuat otakku terasa kosong. Aku tak tahu apa yang kupikirkan, aku tak tahu apa yang kumau, aku tak tahu apa yang harus dilakukan.

    Semua terasa hambar, semua terlihat datar.

    Sebenarnya, setiap kegelisahan datang, aku selalu teringat sebuah tempat di balik barisan pinus ini. Tempat yang pernah akrab denganku, tapi selalu aku hindari belakangan ini. Tempat bermain saat kecil dan "gua persembunyian" ketika remaja. Di sanalah segala masalah dulu kuendapkan. Ia adalah pasir hisap yang setia menelan semua kegelisahanku.

    Ayah yang mengenalkan tempat ini kepadaku.

    Suatu siang yang panas. Saat itu aku  baru berumur sembilan tahun. Seperti biasa, bunda menyuruhku tidur siang begitu selesai makan. Ia tak mau lagi mendengar aku mengantuk di surau saat mengaji. Siang ini bunda memberi banyak tekanan pada perintah tidur siangnya.

    Aku masuk kamar, tapi tak bisa tidur. Mendongkol, karena siang ini aku punya banyak rencana. Kemarin Pak Leman, pembuat sepatu bola, mengatakan akan membuat bola kulit siang ini. Seorang dari Surabaya memesan beberapa buah darinya. Ia berjanji akan menunggu aku untuk mulai membuat sepatu. Tapi dia pasti tak mau menungguku selamanya. Siang ini pandai besi di dekat rumah Kamil akan membuat pacul yang dilapisi kaca agar lempung sawah tak lengket. Itu juga tak bisa kulihat karena acara tidur siang. Ini tak adil, kenapa orang tua tak wajib tidur siang? Bukankah mereka juga butuh istirahat?

    Tiba-tiba ayah sudah duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum dan menyuruhku menemuinya di ujung jalan. Ia hanya memintaku untuk tidak ribut. Meski keheranan, aku enggan bertanya. Aku takut satu pertanyaan akan membuatnya membatalkan usaha penggagalan tidur siangku. Aku tak peduli ke mana ia akan membawaku. Aku tak peduli meski ayah tak mungkin mengajakku ke pabrik sepatu Pak Leman atau pandai besi. Yang jelas, aku tidak tidur siang lagi.

    Ayah datang membawa sekuter cokelatnya yang masih baru. Ia baru membelinya sepekan lalu, dan masih senang mengendarainya, ke mana saja. Awalnya aku mengira kami akan ke pertokoan, tapi sesampainya di jalan besar ia justru mengambil arah timur. Ia terus membawaku hingga  kami melewati rumah sakit. Setelah kantor polisi, ayah mengambil jalan kecil. Aku memasuki kawasan yang tak kukenal. Semakin lama jalanan semakin parah. Ia memperlambat sekuternya. Di tengah barisan pinus ia berhenti. Aku tertegun, inilah untuk pertama kalinya aku melihat pohon yang tinggi, lurus, namun daunnya lurus seperti cacing kelaparan. Sebelumnya kukira hanya pohon beringin di halaman kawedanan yang bisa setinggi raksasa.

    Kepalaku tetap mendongak meski ayah sudah kembali menjalankan sekuternya. Ujung-ujung pinus yang kelabu seperti tumbang ke belakangku.

    Beberapa puluh meter kemudian kami kembali berhenti. Di depan ada gerbang kecil dan pagar kawat. Di sebuah rumah kecil dengan atap beton ayah menitipkan sekuternya. Di balik pagar yang dijalari tumbuhan rambat, pohon-pohon besar mengelilingi sebuah sendang, sebuah mata air. Akar-akarnya menjuntai, menembus air bening dan menancap di dasar kolam. Batu-batu lonjong sebesar telur menjaga sendang ini tetap jernih. Tak terlalu dalam.

    Kami duduk di tepinya, di bawah bayang-bayang pohonan rimbun. Kemarau tak datang kemari. Kepala ayah terangguk saat aku melihat matanya. Dengan ragu aku masuk ke dalam air yang dingin itu.  Aku belum bisa berenang. Aku hanya seperti kerbau yang mendinginkan badan setelah sekian lama tertusuk matahari.

    Ayah berbaring saat aku mentas. Daun-daun kering yang sebagian sudah menghumus dipunggunginya. Aku berbaring di sampingnya dan menatap pohonan. Satu dua daun kering jatuh dari ranting di atas sana. Turun perlahan terbawa angin.

    Kami tertidur.

    Ayah membangunkanku ketika matahari akan segera hilang di balik pohon. Entah berapa lama kami tertidur. Ayah memacu motornya lebih kencang. Debu berterbangan dan ia tak peduli lagi dengan pegas motor barunya.

    Ia mengambil jalan yang berbeda. Aku menyadarinya saat di samping kanan kiri kami ada lautan putih bunga sedap malam. Ayah menghentikan sekuternya dan memintaku berdiri di belakang kemudi. Aku baru tahu alasannya saat keharuman aku cium dari angin yang menerpa wajahku. Malam hampir tiba dan bunga-bunga putih ini menepati janjinya untuk menebar wangi.

    Setelah itu kami tak pernah ke sana berdua. Aku masih datang ke sana dengan mengajak teman-teman. Ketika remaja, ketika kegelisahan sudah mulai datang, aku memilih sendang ini untuk menjadi gua kelaki-lakianku. Tempat aku membuang angin ribut musim panca roba. Tempat aku membagi kesedihan.  Setelah kuliah, aku tak pernah lagi ke sini. Apalagi setelah ayah meninggal dan aku tinggal di Jakarta.

    Kini, setelah belasan tahun berlalu, aku kembali di sini. Pagar itu masih yang dulu. Gerbang itu tak pernah berubah. Sendang itu masih jernih dan teduh. Tapi aku tak tahu apakah ia masih "bertuah".  Apakah ia masih sanggup mengisap seluruh kegundahanku. Aku kembali di sini, rebah di atas humus dan daunan kering.

***

Cemas itu, nak, memang telah jadi umum
dan akan sampai pula kemari
Nah rapikan rambutmu sebelum kucium
dengan tangkai daun yang telah lama mati

(Puisi oleh Goenawan Mohamad: Sajak Untuk Bungbung)

Posted at 01:44 pm by qaris
Kasih Komentar  

Tuesday, May 24, 2005
Puisi Marah

Oh, siaplah menerima sumpah serapahku.
Oh, bersiaplah menerima muntah mantihku
Aku sudah berlari seperti halilintar.
Sudah kutabrak semua aspal dan trotoar.
Kini saatnya untuk mengumpat
Sudah... sudah...
Habisi saja hidup ini
Ambil peluru emas
Kokang pestolmu
Pilih kepala atau jantungku
Lalu...
Kau akan mengingatku selamanya

***

Tabraklah gelombang... hancurkan dadamu
Ini bukan saatnya untuk membelai luka
Kini saatnya membelah luka.
Belah! Belahlah luka!
Gegas, sebentar lagi senja,
Atau kau hanya akan melihat bayangan darah
Terkapar! Terkaparlah kau!

***

Anjing datang menjilati lukaku
Najis masuk merayapi pembuluku
Kubuka mata dan dengusnya di hidungku
Kuhirup napas nistanya,
Kubiarkan memenuhi jantungku
Lalu kau mau bilang apa?
Aku orang suci yang tak bercela?

***

Pengecut!
Buka dadamu
Tepuk ia sampai merah
Kau lelaki, bukan rembulan

***

Kubur aku tanpa nisan
tanpa gundukan
Jangan tabur bunga
kerikil saja
Setelah itu pergilah

Posted at 12:34 pm by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, May 08, 2005
Memorable Quotes from Apocalypse Now (1979)

Francis Ford Coppola (dialogs, screenplay, director)

Kurtz: I've seen horrors... horrors that you've seen. But you have no right to call me a murderer. You have a right to kill me. You have a right to do that... but you have no right to judge me. It's impossible for words to describe what is necessary to those who do not know what horror means. Horror. Horror has a face... and you must make a friend of horror. Horror and moral terror are your friends. If they are not then they are enemies to be feared. They are truly enemies.
...
These were not monsters. These were men... trained cadres. These men who fought with their hearts, who had families, who had children, who were filled with love... but they had the strength... the strength... to do that. You have to have men who are moral... and at the same time who are able to utilize their primordial instincts to kill without feeling... without passion... without judgment... without judgment. Because it's judgment that defeats us.

Kurtz: I watched a snail crawl along the edge of a straight razor. That's my dream. That's my nightmare. Crawling, slithering, along the edge of a straight... razor... and surviving.

***
Kurtz: What do you call assassins who accuse assassins?

***
Chef: He's worse than crazy, he's evil!

***
Chef: I used to think if I died in an evil place then my soul wouldn't make it to heaven. Well, fuck. I don't care where it goes as long it ain't here.

***
Willard: He was dug in too deep or moving too fast... He had only two ways home: death, or victory.

***
Kurtz: We train young men to drop fire on people. But their commanders won't allow them to write "fuck" on their airplanes because it's obscene!

***
Kurtz: The horror. The horror.

***
Roxane: There are two of you. One that kills and one that loves.

***
Willard: The crew were mostly kids. Rock & rollers with one foot in their grave.

***
Hubert: You are fighting for the biggest nothing in history.

***
Willard: In a war there are many moments for compassion and tender action. There are many moments for ruthless action - what is often called ruthless - what may in many circumstances be only clarity, seeing clearly what there is to be done and doing it, directly, quickly, awake, looking at it.

***

Posted at 06:52 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, May 07, 2005
Malam itu Ia Sendiri

Ia duduk di tembok yang basah dan menjulurkan kakinya ke kota yang gelap, jauh di bawahnya. Obat itu masih tersisa di otaknya. Ia tersenyum melihat kakinya bergerak-gerak, seperti berjalan di atas kegelapan. Kepalanya masih mengangguk-angguk otomatik, mengikuti musik yang berdentam di dalam ruangan. Pagar besi berkarat menghalanginya untuk bertindak bodoh, melayang sembilan detik sebelum menyentuh aspal yang basah oleh gerimis.

Malam itu ia sendiri. Duduk di ujung tembok atap gedung tertinggi. Tangannya menggenggam jeruji pagar besi yang dingin dan kasar. Menggerak-gerakkan kepala dan kakinya, ia mengusir sepi. Setahun lalu ia tak sendiri. Duduk bersama teman-temannya dengan sisa-sisa keriangan sintetis. Ritual yang selalu mereka lakukan di akhir pekan, sambil menunggu susunan kimia dalam darah mereka kembali normal, tidak lagi mengadu rahang dan tak lagi mengisap liur di lidah. Lalu masing-masing melaporkan berapa sariawan yang terbit di dalam mulut.

Satu, dua, tiga, empat... Ia menghitung sendiri sariawan di mulutnya. Ia tak melaporkannya kepada sesiapa. Malam itu ia sendiri. Sejak setahun lalu, satu per satu temannya, dan juga sembilan puluh sembilan dari seratus penduduk kota ini, pergi. Tak ada perang, tak ada bencana alam, tak ada sampar. Mereka pergi dengan alasan masing-masing. Alasan yang sering kali tak masuk akal. Ia tersenyum, sejak kapan logika ada di sini?

Entah kenapa, tiba-tiba seluruh kota berpikir untuk keluar. Seperti virus, pikiran itu menyebar cepat. Tak pandang bulu. Dua bulan lalu adalah puncaknya. Ia tak bisa lagi menahan keinginan kekasihnya untuk ikut menyingkir. Katanya, kota ini tak lagi puitis, tak lagi mengilhami, dia harus mencari pedesaan agar bisa tetap menulis puisi. Konyol. Paling tidak lebih konyol dari alasan orangtuanya yang lebih dulu pindah karena ingin mencari udara yang lebih segar untuk paru-paru keriput mereka.

Ia tak tahu kenapa tak terjangkit. Ia tak tahu kenapa masih bertahan di kota yang semakin mati. Ia juga tak tahu kenapa tetap datang ke atap ini, meski tak ada lagi yang menemaninya. Mungkin cuma untuk romantisme masa lalu, hanya nostalgia untuk mengenang hidup yang pernah berwarna.

Di atap itu mereka dulu tak hanya berangin-angin menjaring udara segar, tapi juga menikmati kerlip kota yang hidup. Mobil-mobil yang berjajar di dini hari, gedung-gedung yang bersinar seperti sarang kunang-kunang.

Malam itu jalanan masih membujur, tapi sepi. Gedung-gedung masih berdiri, tapi kehilangan isi. Hanya satu dua yang masih bernapas dengan hembusan terakhir.

Dulu mereka bisa menghabiskan malam akhir pekan di dua-tiga tempat, sebelum ke tempat beratap indah ini. Kini ia tak punya pilihan. Hanya tempat ini yang tersisa.

Sudah jam tiga pagi. Sebentar lagi pesta usai. Ia mengentas kaki dari kegelapan, memutar badan, turun dari pagar, dan mengukur keseimbangan tubuh. Ketika ia kembali masuk musik masih berdentam, tapi untuk siapa? Yang tersisa tinggal orang-orang angkuh yang yakin mampu menaklukkan kota ini.

Tak ada antrean di lift yang membawanya turun. Kotak hitam di atas pintu menampilkan nomor-nomor dengan cepat: 29, 28, 27, 26, 25, 24, 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, 15, 14, 13, 12, 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, G... Ting! Pintu terbuka dan tiba-tiba di depannya terhampar ruangan hampa, hitam, lantai debu. Di teras lobby tak ada antrean taksi, tak ada petugas pemanggil mobil, tak ada sopir valet. Ia berhenti sebentar, melihat sekeliling, lalu melangkah dengan pinggul yang lelah.

Tanpa manusia, tanpa mobil, tanpa lampu, kota ini menjadi lebih dingin. Ia memakai jaket di atas kaus yang masih berkeringat.

Merasa kerdil di tengah kehampaan jalan utama yang luas dan dikangkangi gedung-gedung menjulang seperti raksasa hitam, ia memasuki gang segelap gua beruang.

Kegelapan adalah dinding. Ia melangkah, menembus dinding demi dinding, memasuki lapis kegelapan paling dalam, hingga matanya terbiasa melihat kegelapan sebagai kenyataan. Rumah-rumah ditinggal penghuni, kali ditinggal air, tembok ditinggal grafiti, tiang listrik ditinggal pentungan hansip, malam ditinggal cahaya lampu. Hantu pun sudah enggan tinggal di kota ini.

Rumahnya masih jauh, masih jauh. Kakinya sudah lelah, sudah payah. Semalaman ia mengentakkan keduanya ke lantai, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, menendangkannya ke depan. Keriangan sintetis membuatnya lincah seperti sperma di bawah mikroskop, tak kenal lelah seperti kuda liar. Ia menari, entah untuk siapa. Hanya ditemani lampu berkilat-kilat, jiwanya mengelana. Seperti shaman Indian yang menari mengitari api unggun beraroma, dan jiwanya diculik roh leluhur.

Ia berbelok ke rumah dengan halaman tak terawat. Entah milik siapa. Pintu pagar berdenyit ketika dibuka. Alang-alang setinggi-tingginya. Menaikkan tombol sakelar, lalu menendang pintu yang rapuh. Ia masuk ke kamar di lantai atas, menyeret kasur ke teras, dan berbaring dikelilingi debu.

Mulutnya kering, tubuhnya remuk, tapi pil itu membuat matanya tak bisa pejam. Ia duduk, membuka dompet dan mengeluarkan lintingan mariyuana. Hanya ini yang dapat mengalahkan kimia di tempurung kepala, mengendurkan saraf, dan membuatnya mengantuk. Tring! Suara zipponya memecah malam, melesat tanpa ada yang menangkap, membentur dinding-dinding, terpantul, dan kembali lagi ke telinganya setelah beberapa detik.

Rajangan daun kering yang dibungkus kertas putih itu terbakar halus. Cincin bara merambat cepat; seperti badai, meninggalkan kefanaan di belakangnya. Ia menyandarkan punggung ke kaca besar, sesekali menjulurkan kepala dan mulut, menangkap sisa asap yang bandel keluar.

Matanya mulai redup, fajar sudah hidup, seperti ekor rubah putih di langit timur.

***

Posted at 09:58 pm by qaris
Kasih Komentar  

Previous Page Next Page