"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< May 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, May 24, 2005
Puisi Marah

Oh, siaplah menerima sumpah serapahku.
Oh, bersiaplah menerima muntah mantihku
Aku sudah berlari seperti halilintar.
Sudah kutabrak semua aspal dan trotoar.
Kini saatnya untuk mengumpat
Sudah... sudah...
Habisi saja hidup ini
Ambil peluru emas
Kokang pestolmu
Pilih kepala atau jantungku
Lalu...
Kau akan mengingatku selamanya

***

Tabraklah gelombang... hancurkan dadamu
Ini bukan saatnya untuk membelai luka
Kini saatnya membelah luka.
Belah! Belahlah luka!
Gegas, sebentar lagi senja,
Atau kau hanya akan melihat bayangan darah
Terkapar! Terkaparlah kau!

***

Anjing datang menjilati lukaku
Najis masuk merayapi pembuluku
Kubuka mata dan dengusnya di hidungku
Kuhirup napas nistanya,
Kubiarkan memenuhi jantungku
Lalu kau mau bilang apa?
Aku orang suci yang tak bercela?

***

Pengecut!
Buka dadamu
Tepuk ia sampai merah
Kau lelaki, bukan rembulan

***

Kubur aku tanpa nisan
tanpa gundukan
Jangan tabur bunga
kerikil saja
Setelah itu pergilah

Posted at 12:34 pm by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, May 08, 2005
Memorable Quotes from Apocalypse Now (1979)

Francis Ford Coppola (dialogs, screenplay, director)

Kurtz: I've seen horrors... horrors that you've seen. But you have no right to call me a murderer. You have a right to kill me. You have a right to do that... but you have no right to judge me. It's impossible for words to describe what is necessary to those who do not know what horror means. Horror. Horror has a face... and you must make a friend of horror. Horror and moral terror are your friends. If they are not then they are enemies to be feared. They are truly enemies.
...
These were not monsters. These were men... trained cadres. These men who fought with their hearts, who had families, who had children, who were filled with love... but they had the strength... the strength... to do that. You have to have men who are moral... and at the same time who are able to utilize their primordial instincts to kill without feeling... without passion... without judgment... without judgment. Because it's judgment that defeats us.

Kurtz: I watched a snail crawl along the edge of a straight razor. That's my dream. That's my nightmare. Crawling, slithering, along the edge of a straight... razor... and surviving.

***
Kurtz: What do you call assassins who accuse assassins?

***
Chef: He's worse than crazy, he's evil!

***
Chef: I used to think if I died in an evil place then my soul wouldn't make it to heaven. Well, fuck. I don't care where it goes as long it ain't here.

***
Willard: He was dug in too deep or moving too fast... He had only two ways home: death, or victory.

***
Kurtz: We train young men to drop fire on people. But their commanders won't allow them to write "fuck" on their airplanes because it's obscene!

***
Kurtz: The horror. The horror.

***
Roxane: There are two of you. One that kills and one that loves.

***
Willard: The crew were mostly kids. Rock & rollers with one foot in their grave.

***
Hubert: You are fighting for the biggest nothing in history.

***
Willard: In a war there are many moments for compassion and tender action. There are many moments for ruthless action - what is often called ruthless - what may in many circumstances be only clarity, seeing clearly what there is to be done and doing it, directly, quickly, awake, looking at it.

***

Posted at 06:52 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, May 07, 2005
Malam itu Ia Sendiri

Ia duduk di tembok yang basah dan menjulurkan kakinya ke kota yang gelap, jauh di bawahnya. Obat itu masih tersisa di otaknya. Ia tersenyum melihat kakinya bergerak-gerak, seperti berjalan di atas kegelapan. Kepalanya masih mengangguk-angguk otomatik, mengikuti musik yang berdentam di dalam ruangan. Pagar besi berkarat menghalanginya untuk bertindak bodoh, melayang sembilan detik sebelum menyentuh aspal yang basah oleh gerimis.

Malam itu ia sendiri. Duduk di ujung tembok atap gedung tertinggi. Tangannya menggenggam jeruji pagar besi yang dingin dan kasar. Menggerak-gerakkan kepala dan kakinya, ia mengusir sepi. Setahun lalu ia tak sendiri. Duduk bersama teman-temannya dengan sisa-sisa keriangan sintetis. Ritual yang selalu mereka lakukan di akhir pekan, sambil menunggu susunan kimia dalam darah mereka kembali normal, tidak lagi mengadu rahang dan tak lagi mengisap liur di lidah. Lalu masing-masing melaporkan berapa sariawan yang terbit di dalam mulut.

Satu, dua, tiga, empat... Ia menghitung sendiri sariawan di mulutnya. Ia tak melaporkannya kepada sesiapa. Malam itu ia sendiri. Sejak setahun lalu, satu per satu temannya, dan juga sembilan puluh sembilan dari seratus penduduk kota ini, pergi. Tak ada perang, tak ada bencana alam, tak ada sampar. Mereka pergi dengan alasan masing-masing. Alasan yang sering kali tak masuk akal. Ia tersenyum, sejak kapan logika ada di sini?

Entah kenapa, tiba-tiba seluruh kota berpikir untuk keluar. Seperti virus, pikiran itu menyebar cepat. Tak pandang bulu. Dua bulan lalu adalah puncaknya. Ia tak bisa lagi menahan keinginan kekasihnya untuk ikut menyingkir. Katanya, kota ini tak lagi puitis, tak lagi mengilhami, dia harus mencari pedesaan agar bisa tetap menulis puisi. Konyol. Paling tidak lebih konyol dari alasan orangtuanya yang lebih dulu pindah karena ingin mencari udara yang lebih segar untuk paru-paru keriput mereka.

Ia tak tahu kenapa tak terjangkit. Ia tak tahu kenapa masih bertahan di kota yang semakin mati. Ia juga tak tahu kenapa tetap datang ke atap ini, meski tak ada lagi yang menemaninya. Mungkin cuma untuk romantisme masa lalu, hanya nostalgia untuk mengenang hidup yang pernah berwarna.

Di atap itu mereka dulu tak hanya berangin-angin menjaring udara segar, tapi juga menikmati kerlip kota yang hidup. Mobil-mobil yang berjajar di dini hari, gedung-gedung yang bersinar seperti sarang kunang-kunang.

Malam itu jalanan masih membujur, tapi sepi. Gedung-gedung masih berdiri, tapi kehilangan isi. Hanya satu dua yang masih bernapas dengan hembusan terakhir.

Dulu mereka bisa menghabiskan malam akhir pekan di dua-tiga tempat, sebelum ke tempat beratap indah ini. Kini ia tak punya pilihan. Hanya tempat ini yang tersisa.

Sudah jam tiga pagi. Sebentar lagi pesta usai. Ia mengentas kaki dari kegelapan, memutar badan, turun dari pagar, dan mengukur keseimbangan tubuh. Ketika ia kembali masuk musik masih berdentam, tapi untuk siapa? Yang tersisa tinggal orang-orang angkuh yang yakin mampu menaklukkan kota ini.

Tak ada antrean di lift yang membawanya turun. Kotak hitam di atas pintu menampilkan nomor-nomor dengan cepat: 29, 28, 27, 26, 25, 24, 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, 15, 14, 13, 12, 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, G... Ting! Pintu terbuka dan tiba-tiba di depannya terhampar ruangan hampa, hitam, lantai debu. Di teras lobby tak ada antrean taksi, tak ada petugas pemanggil mobil, tak ada sopir valet. Ia berhenti sebentar, melihat sekeliling, lalu melangkah dengan pinggul yang lelah.

Tanpa manusia, tanpa mobil, tanpa lampu, kota ini menjadi lebih dingin. Ia memakai jaket di atas kaus yang masih berkeringat.

Merasa kerdil di tengah kehampaan jalan utama yang luas dan dikangkangi gedung-gedung menjulang seperti raksasa hitam, ia memasuki gang segelap gua beruang.

Kegelapan adalah dinding. Ia melangkah, menembus dinding demi dinding, memasuki lapis kegelapan paling dalam, hingga matanya terbiasa melihat kegelapan sebagai kenyataan. Rumah-rumah ditinggal penghuni, kali ditinggal air, tembok ditinggal grafiti, tiang listrik ditinggal pentungan hansip, malam ditinggal cahaya lampu. Hantu pun sudah enggan tinggal di kota ini.

Rumahnya masih jauh, masih jauh. Kakinya sudah lelah, sudah payah. Semalaman ia mengentakkan keduanya ke lantai, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, menendangkannya ke depan. Keriangan sintetis membuatnya lincah seperti sperma di bawah mikroskop, tak kenal lelah seperti kuda liar. Ia menari, entah untuk siapa. Hanya ditemani lampu berkilat-kilat, jiwanya mengelana. Seperti shaman Indian yang menari mengitari api unggun beraroma, dan jiwanya diculik roh leluhur.

Ia berbelok ke rumah dengan halaman tak terawat. Entah milik siapa. Pintu pagar berdenyit ketika dibuka. Alang-alang setinggi-tingginya. Menaikkan tombol sakelar, lalu menendang pintu yang rapuh. Ia masuk ke kamar di lantai atas, menyeret kasur ke teras, dan berbaring dikelilingi debu.

Mulutnya kering, tubuhnya remuk, tapi pil itu membuat matanya tak bisa pejam. Ia duduk, membuka dompet dan mengeluarkan lintingan mariyuana. Hanya ini yang dapat mengalahkan kimia di tempurung kepala, mengendurkan saraf, dan membuatnya mengantuk. Tring! Suara zipponya memecah malam, melesat tanpa ada yang menangkap, membentur dinding-dinding, terpantul, dan kembali lagi ke telinganya setelah beberapa detik.

Rajangan daun kering yang dibungkus kertas putih itu terbakar halus. Cincin bara merambat cepat; seperti badai, meninggalkan kefanaan di belakangnya. Ia menyandarkan punggung ke kaca besar, sesekali menjulurkan kepala dan mulut, menangkap sisa asap yang bandel keluar.

Matanya mulai redup, fajar sudah hidup, seperti ekor rubah putih di langit timur.

***

Posted at 09:58 pm by qaris
Kasih Komentar  

CINTA LIAR

Cintai aku tanpa ikatan
Berdiamlah di garis-garis tanganku
Cintai aku meski hanya
berpekan-pekan... berhari-hari... berjam-jam
Karena aku tak mementingkan keabadian
Aku November... bulan badai
    bulan hujan... dan dingin
Aku November... maka berkelebatlah di jasadku
Seperti petir
.

Cintai aku
Dengan segala keganasan Tartar
Dengan segala kehangatan savana
Dengan segala derasnya hujan
Tanpa tersisa, tanpa tertahan
Dan jangan beradab selamanya
Aku telah jatuh di atas kedua bibirmu
Segala peradaban hijau

.
Cintai aku
Seperti gempa... seperti maut yang tak dinanti
Menerkamku seperti serigala ganas kelaparan
Dan menggigitku... dan mencakarku
Bagai hujan memukul pantai

.
Aku lelaki tanpa suratan nasib
Maka jadilah nasibku
Dan biarkan aku di atas dadamu
Seperti pahatan di atas batu

***

Cintai aku dan jangan bertanya caranya
Malu tak kan menyakitimu
Takut tak kan menjatuhkanmu
Cintai aku tanpa ragu

.
Jadilah laut dan pelabuhan
Jadilah bumi dan pengasingan
Jadilah cerah dan badai
Jadilah lembut dan kasar
Cintai aku dengan beribu cara
Dan jangan ulangi kemarau
Sungguh... aku benci kemarau

.
Cintai aku dan ungkapkan
Untuk mengusir cinta tanpa suara
Aku benci cinta yang dipendam
di kubur kesunyian

.
Cintai aku... jauh dari negeri yang takluk dan terkalahkan
Jauh dari kota kita yang kenyang oleh kematian
Jauh dari ambisinya
Jauh dari kelimunnya

.
Cintai aku... jauh dari kota kita
Yang telah lama
Ke sana Cinta tak singgah
Ke sana Tuhan tak datang

***

Cintai aku... wanitaku
Jangan takut kakimu terendam air
Karena tak ada wanita yang berniat
Mengeluarkan tubuhnya dari air
Mengeluarkan rambutnya dari air
Karena putingmu adalah angsa putih
Tak akan hidup tanpa air

.
Cintai aku dengan suciku... dengan dosaku
Dengan tenangku, dengan badaiku
Tutupi aku
Dengan atap dari mawar
Wahai belantara kasih

.
Telanjanglah
Dan turunlah bagai hujan
Untuk dahaga dan kemarauku
Dan lumuri tubuhku

.
Telanjanglah... dan belahlah kedua bibirku

NQ

Posted at 08:12 pm by qaris
Komentars (4)