Cintai aku tanpa ikatan
Berdiamlah di garis-garis tanganku
Cintai aku meski hanya
berpekan-pekan... berhari-hari... berjam-jam
Karena aku tak mementingkan keabadian
Aku November... bulan badai
bulan hujan... dan dingin
Aku November... maka berkelebatlah di jasadku
Seperti petir
.
Cintai aku
Dengan segala keganasan Tartar
Dengan segala kehangatan savana
Dengan segala derasnya hujan
Tanpa tersisa, tanpa tertahan
Dan jangan beradab selamanya
Aku telah jatuh di atas kedua bibirmu
Segala peradaban hijau
.
Cintai aku
Seperti gempa... seperti maut yang tak dinanti
Menerkamku seperti serigala ganas kelaparan
Dan menggigitku... dan mencakarku
Bagai hujan memukul pantai
.
Aku lelaki tanpa suratan nasib
Maka jadilah nasibku
Dan biarkan aku di atas dadamu
Seperti pahatan di atas batu
***
Cintai aku dan jangan bertanya caranya
Malu tak kan menyakitimu
Takut tak kan menjatuhkanmu
Cintai aku tanpa ragu
.
Jadilah laut dan pelabuhan
Jadilah bumi dan pengasingan
Jadilah cerah dan badai
Jadilah lembut dan kasar
Cintai aku dengan beribu cara
Dan jangan ulangi kemarau
Sungguh... aku benci kemarau
.
Cintai aku dan ungkapkan
Untuk mengusir cinta tanpa suara
Aku benci cinta yang dipendam
di kubur kesunyian
.
Cintai aku... jauh dari negeri yang takluk dan terkalahkan
Jauh dari kota kita yang kenyang oleh kematian
Jauh dari ambisinya
Jauh dari kelimunnya
.
Cintai aku... jauh dari kota kita
Yang telah lama
Ke sana Cinta tak singgah
Ke sana Tuhan tak datang
***
Cintai aku... wanitaku
Jangan takut kakimu terendam air
Karena tak ada wanita yang berniat
Mengeluarkan tubuhnya dari air
Mengeluarkan rambutnya dari air
Karena putingmu adalah angsa putih
Tak akan hidup tanpa air
.
Cintai aku dengan suciku... dengan dosaku
Dengan tenangku, dengan badaiku
Tutupi aku
Dengan atap dari mawar
Wahai belantara kasih
.
Telanjanglah
Dan turunlah bagai hujan
Untuk dahaga dan kemarauku
Dan lumuri tubuhku
.
Telanjanglah... dan belahlah kedua bibirku
NQ
Posted at 08:12 pm by qaris
Permalink