Ia duduk di tembok yang basah dan menjulurkan kakinya ke kota yang gelap, jauh di bawahnya. Obat itu masih tersisa di otaknya. Ia tersenyum melihat kakinya bergerak-gerak, seperti berjalan di atas kegelapan. Kepalanya masih mengangguk-angguk otomatik, mengikuti musik yang berdentam di dalam ruangan. Pagar besi berkarat menghalanginya untuk bertindak bodoh, melayang sembilan detik sebelum menyentuh aspal yang basah oleh gerimis.
Malam itu ia sendiri. Duduk di ujung tembok atap gedung tertinggi. Tangannya menggenggam jeruji pagar besi yang dingin dan kasar. Menggerak-gerakkan kepala dan kakinya, ia mengusir sepi. Setahun lalu ia tak sendiri. Duduk bersama teman-temannya dengan sisa-sisa keriangan sintetis. Ritual yang selalu mereka lakukan di akhir pekan, sambil menunggu susunan kimia dalam darah mereka kembali normal, tidak lagi mengadu rahang dan tak lagi mengisap liur di lidah. Lalu masing-masing melaporkan berapa sariawan yang terbit di dalam mulut.
Satu, dua, tiga, empat... Ia menghitung sendiri sariawan di mulutnya. Ia tak melaporkannya kepada sesiapa. Malam itu ia sendiri. Sejak setahun lalu, satu per satu temannya, dan juga sembilan puluh sembilan dari seratus penduduk kota ini, pergi. Tak ada perang, tak ada bencana alam, tak ada sampar. Mereka pergi dengan alasan masing-masing. Alasan yang sering kali tak masuk akal. Ia tersenyum, sejak kapan logika ada di sini?
Entah kenapa, tiba-tiba seluruh kota berpikir untuk keluar. Seperti virus, pikiran itu menyebar cepat. Tak pandang bulu. Dua bulan lalu adalah puncaknya. Ia tak bisa lagi menahan keinginan kekasihnya untuk ikut menyingkir. Katanya, kota ini tak lagi puitis, tak lagi mengilhami, dia harus mencari pedesaan agar bisa tetap menulis puisi. Konyol. Paling tidak lebih konyol dari alasan orangtuanya yang lebih dulu pindah karena ingin mencari udara yang lebih segar untuk paru-paru keriput mereka.
Ia tak tahu kenapa tak terjangkit. Ia tak tahu kenapa masih bertahan di kota yang semakin mati. Ia juga tak tahu kenapa tetap datang ke atap ini, meski tak ada lagi yang menemaninya. Mungkin cuma untuk romantisme masa lalu, hanya nostalgia untuk mengenang hidup yang pernah berwarna.
Di atap itu mereka dulu tak hanya berangin-angin menjaring udara segar, tapi juga menikmati kerlip kota yang hidup. Mobil-mobil yang berjajar di dini hari, gedung-gedung yang bersinar seperti sarang kunang-kunang.
Malam itu jalanan masih membujur, tapi sepi. Gedung-gedung masih berdiri, tapi kehilangan isi. Hanya satu dua yang masih bernapas dengan hembusan terakhir.
Dulu mereka bisa menghabiskan malam akhir pekan di dua-tiga tempat, sebelum ke tempat beratap indah ini. Kini ia tak punya pilihan. Hanya tempat ini yang tersisa.
Sudah jam tiga pagi. Sebentar lagi pesta usai. Ia mengentas kaki dari kegelapan, memutar badan, turun dari pagar, dan mengukur keseimbangan tubuh. Ketika ia kembali masuk musik masih berdentam, tapi untuk siapa? Yang tersisa tinggal orang-orang angkuh yang yakin mampu menaklukkan kota ini.
Tak ada antrean di lift yang membawanya turun. Kotak hitam di atas pintu menampilkan nomor-nomor dengan cepat: 29, 28, 27, 26, 25, 24, 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, 15, 14, 13, 12, 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, G... Ting! Pintu terbuka dan tiba-tiba di depannya terhampar ruangan hampa, hitam, lantai debu. Di teras lobby tak ada antrean taksi, tak ada petugas pemanggil mobil, tak ada sopir valet. Ia berhenti sebentar, melihat sekeliling, lalu melangkah dengan pinggul yang lelah.
Tanpa manusia, tanpa mobil, tanpa lampu, kota ini menjadi lebih dingin. Ia memakai jaket di atas kaus yang masih berkeringat.
Merasa kerdil di tengah kehampaan jalan utama yang luas dan dikangkangi gedung-gedung menjulang seperti raksasa hitam, ia memasuki gang segelap gua beruang.
Kegelapan adalah dinding. Ia melangkah, menembus dinding demi dinding, memasuki lapis kegelapan paling dalam, hingga matanya terbiasa melihat kegelapan sebagai kenyataan. Rumah-rumah ditinggal penghuni, kali ditinggal air, tembok ditinggal grafiti, tiang listrik ditinggal pentungan hansip, malam ditinggal cahaya lampu. Hantu pun sudah enggan tinggal di kota ini.
Rumahnya masih jauh, masih jauh. Kakinya sudah lelah, sudah payah. Semalaman ia mengentakkan keduanya ke lantai, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, menendangkannya ke depan. Keriangan sintetis membuatnya lincah seperti sperma di bawah mikroskop, tak kenal lelah seperti kuda liar. Ia menari, entah untuk siapa. Hanya ditemani lampu berkilat-kilat, jiwanya mengelana. Seperti shaman Indian yang menari mengitari api unggun beraroma, dan jiwanya diculik roh leluhur.
Ia berbelok ke rumah dengan halaman tak terawat. Entah milik siapa. Pintu pagar berdenyit ketika dibuka. Alang-alang setinggi-tingginya. Menaikkan tombol sakelar, lalu menendang pintu yang rapuh. Ia masuk ke kamar di lantai atas, menyeret kasur ke teras, dan berbaring dikelilingi debu.
Mulutnya kering, tubuhnya remuk, tapi pil itu membuat matanya tak bisa pejam. Ia duduk, membuka dompet dan mengeluarkan lintingan mariyuana. Hanya ini yang dapat mengalahkan kimia di tempurung kepala, mengendurkan saraf, dan membuatnya mengantuk. Tring! Suara zipponya memecah malam, melesat tanpa ada yang menangkap, membentur dinding-dinding, terpantul, dan kembali lagi ke telinganya setelah beberapa detik.
Rajangan daun kering yang dibungkus kertas putih itu terbakar halus. Cincin bara merambat cepat; seperti badai, meninggalkan kefanaan di belakangnya. Ia menyandarkan punggung ke kaca besar, sesekali menjulurkan kepala dan mulut, menangkap sisa asap yang bandel keluar.
Matanya mulai redup, fajar sudah hidup, seperti ekor rubah putih di langit timur.
***