Kineforum Dewan Kesenian Jakarta (Artcinema) sudah beberapa pekan ini memutar film-film masa lalu. Setiap hari. Tiga film untuk satu pekan. Saya sempat menonton dua film karya Teguh Karya,
Ibunda dan
Cinta Pertama.Ibunda adalah bentuk film realis nomor wahid. Ceritanya sederhana, diperankan oleh aktor dan aktris yang bermain wajar, penuh detil yang halus tapi bermakna. Salah satunya adalah saat Alex Komang memberitahu akan menceraikan isterinya (Ayu Azhari). Sang ibu, Tuti Indramalaon, tidak bereaksi berlebih, hanya air mukanya yang berubah (bahkan matanya tidak melotot), melihat putra lainnya dan berkata lirih, "Apa?" Fuih, jauh sekali dengan gaya berangasan aktor sinetron. Bahkan adegan memadamkan lampu di pagi hari memiliki makna, bukan adegan usus buntu.
Bagaimana dengan
Cinta Pertama? Ini memang lebih dramatis. Lebih banyak tawa dan air mata, tapi tetap wajar. Yang paling memesona adalah
wardrobenya. Kostum yang dibuat oleh Iry Supit ini memang cantik. Terutama baju Ade (Christine Hakim). Terkhusus yang dipakainya di kerta api, di awal film. Kemeja ketat, jins
boot cut, sepatu putih berplatform tebal, dan sapu tangan sutra kuning yang diikat di leher. Luar biasa! Bahkan daster rumahan yang dipakai ibu Ade (Nani Wijaya) juga amat bagus. Untungnya, baju Slamet Raharjo tidak dibuat luar biasa, maklum dia adalah orang kampung. Pas.
Ada juga yang mengganggu. Dalam
Ibunda, adegan teater Alex Komang, meski penting untuk menggambarkan kehidupannya sebagai aktor debutan, agak berlebihan. Juga sulih suara untuk lagu-lagu di
Cinta Pertama, yang seharusnya dibuat lebih wajar. Misalnya, saat Ade menyanyikannya dengan piano di ruang keluarga, rasanya Idris Sardi tak perlu menambahi musiknya dengan instrumen lainnya.
Anyway, keduanya adalah film yang layak tonton, bahkan hingga saat ini. Keduanya menyuguhkan kewajaran.