"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, March 30, 2007
Indus

Sebatang sungai
sepenggal cerita
yang belum selesai

Sebatang tubuh
sepenggal kepedihan
yang belum tuntas

Secarik jiwa
Merana....

Posted at 12:04 pm by qaris
Komentars (3)  

Wednesday, February 28, 2007
binari cinta

dan kau pun harus memilih
nol atau satu
tidak atau ya
binari tak menyediakan angka ketiga
karena kita akhirnya seperti tuhan
yang tak menyediakan tempat
antara surga dan neraka

Posted at 01:45 pm by qaris
Kasih Komentar  

Monday, February 26, 2007
setelah itu

dan...
kita pun kembali
menjalani pagi yang biasa
secangkir kopi
rokok kretek
dan keparauan nat king cole

Posted at 09:39 am by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, February 25, 2007
bekal rindu

Aku bungkuskan langit malam berawan untukmu
Tak ada bintang
Cuma bunga api dari puntung yang kau banting
dan setumpuk setangan kertas basah

Aku bungkuskan langit malam berawan untukmu
Sebagai bekal rindu

Posted at 10:34 am by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, February 18, 2007
Karya Teguh Karya

Kineforum Dewan Kesenian Jakarta (Artcinema) sudah beberapa pekan ini memutar film-film masa lalu. Setiap hari. Tiga film untuk satu pekan. Saya sempat menonton dua film karya Teguh Karya, Ibunda dan Cinta Pertama.

Ibunda adalah bentuk film realis nomor wahid. Ceritanya sederhana, diperankan oleh aktor dan aktris yang bermain wajar, penuh detil yang halus tapi bermakna. Salah satunya adalah saat Alex Komang memberitahu akan menceraikan isterinya (Ayu Azhari). Sang ibu, Tuti Indramalaon, tidak bereaksi berlebih, hanya air mukanya yang berubah (bahkan matanya tidak melotot), melihat putra lainnya dan berkata lirih, "Apa?" Fuih, jauh sekali dengan gaya berangasan aktor sinetron. Bahkan adegan memadamkan lampu di pagi hari memiliki makna, bukan adegan usus buntu.

Bagaimana dengan Cinta Pertama? Ini memang lebih dramatis. Lebih banyak tawa dan air mata, tapi tetap wajar. Yang paling memesona adalah wardrobenya. Kostum yang dibuat oleh Iry Supit ini memang cantik. Terutama baju Ade (Christine Hakim). Terkhusus yang dipakainya di kerta api, di awal film. Kemeja ketat, jins boot cut, sepatu putih berplatform tebal, dan sapu tangan sutra kuning yang diikat di leher. Luar biasa! Bahkan daster rumahan yang dipakai ibu Ade (Nani Wijaya) juga amat bagus. Untungnya, baju Slamet Raharjo tidak dibuat luar biasa, maklum dia adalah orang kampung. Pas.

Ada juga yang mengganggu. Dalam Ibunda, adegan teater Alex Komang, meski penting untuk menggambarkan kehidupannya sebagai aktor debutan, agak berlebihan. Juga sulih suara untuk lagu-lagu di Cinta Pertama, yang seharusnya dibuat lebih wajar. Misalnya, saat Ade menyanyikannya dengan piano di ruang keluarga, rasanya Idris Sardi tak perlu menambahi musiknya dengan instrumen lainnya.

Anyway, keduanya adalah film yang layak tonton, bahkan hingga saat ini. Keduanya menyuguhkan kewajaran.

Posted at 11:34 am by qaris
Kasih Komentar  

Next Page