"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, March 11, 2006
putih

Tertidur tenang
dengan kemilau putih
bibirmu masih menyudut
seperti kemarin
waktu aku terpesona

Ingin aku menyentuh
tapi tak pernah kulakukan
karena bukan begitu inginmu

Aku menulis puisi ini
tanpa melihat kata
karena begitulah
hal yang tak perlu dirumuskan

Posted at 06:13 pm by qaris
Kasih Komentar  

Saturday, December 31, 2005
pagi yang sempurna

ini pagi sedikit mendung
kopi hangat dan lagu sedih
jalanan sepi dan puisi tanpa huruf kapital
seharusnya, setiap pagi seperti ini
mengalir lembut tanpa kejutan
tanpa cinta dan amarah
kemudian siang datang bawa hujan
tanpa petir, cuma rintik
lalu sore tiba runtuhkan semua awan
malam menyapa, aku
terlentang menantang gemintang
adakah lagi pagi yang sempurna?

Posted at 04:06 pm by qaris
Kasih Komentar  

Tuesday, August 02, 2005
081


Aku tak bisa menulis puisi tentangmu
Entah, ini pertanda apa
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk mereka
yang tak rebah dalam hatiku.
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk
mereka yang cuma berkelebat seperti petir

Kucoba berkali-kali
Untuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarkan hatiku kini.
Tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarmu dengan tepat.

***

Tadi aku mengirim pesan terima kasih
Karena kau telah memberiku hari yang indah
Keindahan dari hal-hal sederhana
Terbaring, melihat foto di dinding
Berkisah cerita konyol
Duduk di lantai, memutar lagu sedih
Melihatmu berdandan
Melihatmu memakaikan maskara di mataku
Kamu tertawa, karena tak ada pria memakai maskara

Aku suka tawamu
Aku suka melihat bibirmu yang menyudut saat
bicara dengan emosi
Aku suka subangmu, putih, bulat, seperti cahaya gerhana


Posted at 11:06 am by qaris
Kasih Komentar  

Friday, July 08, 2005
yang terpendam

eulogy

Aku adalah seonggok kecemasan.
Kisahku yang sebenar
bukanlah dongeng yang kau ceritakan
dalam eulogy kematianku.
Kisahku adalah kisah pelepasan diri
dari rasa sakit tak terperi.
Tidak,
sebenarnya kisahku adalah
pencarian dunia tempatku berasal.


***

subuh 1

Aku mencintaimu di pagi hari
saat seluruh kenangan rebah.
Bayanganmu datang
mengganggu mimpi pagiku
Menghela-hela ingatan
dan membuatku terbangun
berkali-kali.

Aku mencintaimu saat
embun pergi dari punggung daun,
dan tikus-tikus kembali ke liang,
dan dunia memunggungi keromantisan.

Aku mencintaimu saat
kesadaran pupus
dan seluruh ruhku bergerak oleh
kenangan purba.

Aku mencintaimu dengan
seluruh kegelisahan yang kumiliki

Siang, kuburu kau
di rak-rak buku-buku,
lewat mesin pencari dunia maya,
di bait-bait puisi,
tapi kau telah hilang
bersama menguapnya embun.

***

subuh 2

Hah, akhirnya...
Pagi ini aku tak memimpikanmu
Semalam,
ya semalam,
aku telah menanammu dalam puisi.
Kau terkubur dan rebah
menjadi kata.

***

aku tahu

Aku tahu sekarang
Aku tak mencintaimu
Aku pun kini tak ingat wajahmu
Aku, ternyata
hanya mencintai bayang-bayang
Setiap bayang-bayang
yang berkelebat mendekatiku.

Aku mencintai mimpiku
kehampaanku
khayalanku.

***

 


Posted at 09:01 pm by qaris
Kasih Komentar  

Friday, July 01, 2005
autisme

Terus terang aku terlambat membaca novel ini. Jauh setelah orang-orang terperangah dengan gaya bertuturnya, jauh setelah novel ini dianugrahi sebagai karya sastra terbaik di Inggris. Tapi tak ada salahnya untuk telambat, daripada tidak sama sekali. 

Novel yang ditulis dengan kacamata seorang pengidap autisme (Christopher) ini amat menarik. Kita bisa mendalami apa yang ada di tempurung kepala seorang pengidap autisme. Bagaimana mereka  ternyata tidak memiliki imajinasi, tidak bisa membaca mimik muka seseorang, mengharuskan segalanya teratur (mirip dalam film Rainman, dibintangi Dustin Hoffman dan Tom Cruise), menyerap semua informasi secara serius seperti komputer, luar biasa cerdas pada satu hal, dan tidak paham metafora apalagi sastra.

Berawal dari kisah yang amat sederhana (keinginan Christopher untuk mengetahui pembunuh anjing Nyonya Sheere), novel ini bergulir menjadi sebuah petualangan mengasyikkan memasuki otak Christopher. Dengan bahasa yang amat sederhana, lugas, novel ini justru amat menggugah. Emosi dibangun bukan dengan kata-kata bersayap yang puitis (karena Christopher tak paham kata bersayap), tapi lewat keluguan. Terkadang lucu, meski Christopher tidak berniat melucu, karena dia tidak paham akan gurauan (Ia merumuskan humor dengan rumus matematika!).

Sedemikian kuatnya, hingga kita seakan-akan percaya bahwa novel ini dibuat oleh seorang penderita autisme.

Oh ya, bab-bab dalam novel ini tidak dinomori dengan nomor biasa (1,2,3 dan seterusnya), tapi dengan bilangan prima (2,3,5,7, dst). Menurut Christopher, hidup ini seperti bilangan prima: logis, tapi tak bisa dirumuskan dengan pasti dalam satu kaidah.


Posted at 03:43 pm by qaris
Komentar (1)  

Next Page