|
Saturday, March 11, 2006
Tertidur tenang
dengan kemilau putih
bibirmu masih menyudut
seperti kemarin
waktu aku terpesona
Ingin aku menyentuh
tapi tak pernah kulakukan
karena bukan begitu inginmu
Aku menulis puisi ini
tanpa melihat kata
karena begitulah
hal yang tak perlu dirumuskan
Posted at 06:13 pm by qaris
Permalink
Saturday, December 31, 2005
ini pagi sedikit mendung kopi hangat dan lagu sedih jalanan sepi dan puisi tanpa huruf kapital seharusnya, setiap pagi seperti ini mengalir lembut tanpa kejutan tanpa cinta dan amarah kemudian siang datang bawa hujan tanpa petir, cuma rintik lalu sore tiba runtuhkan semua awan malam menyapa, aku terlentang menantang gemintang adakah lagi pagi yang sempurna?
Posted at 04:06 pm by qaris
Permalink
Tuesday, August 02, 2005
Aku tak bisa menulis puisi tentangmu
Entah, ini pertanda apa
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk mereka
yang tak rebah dalam hatiku.
Mungkin karena,
puisi cintaku hanya untuk
mereka yang cuma berkelebat seperti petir
Kucoba berkali-kali
Untuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarkan hatiku kini.
Tak satupun
tak satupun
yang bisa menggambarmu dengan tepat.
***
Tadi aku mengirim pesan terima kasih
Karena kau telah memberiku hari yang indah
Keindahan dari hal-hal sederhana
Terbaring, melihat foto di dinding
Berkisah cerita konyol
Duduk di lantai, memutar lagu sedih
Melihatmu berdandan
Melihatmu memakaikan maskara di mataku
Kamu tertawa, karena tak ada pria memakai maskara
Aku suka tawamu
Aku suka melihat bibirmu yang menyudut saat
bicara dengan emosi
Aku suka subangmu, putih, bulat, seperti cahaya gerhana
Posted at 11:06 am by qaris
Permalink
Friday, July 08, 2005
eulogy
Aku adalah seonggok kecemasan.
Kisahku yang sebenar
bukanlah dongeng yang kau ceritakan
dalam eulogy kematianku.
Kisahku adalah kisah pelepasan diri
dari rasa sakit tak terperi.
Tidak,
sebenarnya kisahku adalah
pencarian dunia tempatku berasal.
***
subuh 1
Aku mencintaimu di pagi hari
saat seluruh kenangan rebah.
Bayanganmu datang
mengganggu mimpi pagiku
Menghela-hela ingatan
dan membuatku terbangun
berkali-kali.
Aku mencintaimu saat
embun pergi dari punggung daun,
dan tikus-tikus kembali ke liang,
dan dunia memunggungi keromantisan.
Aku mencintaimu saat
kesadaran pupus
dan seluruh ruhku bergerak oleh
kenangan purba.
Aku mencintaimu dengan
seluruh kegelisahan yang kumiliki
Siang, kuburu kau
di rak-rak buku-buku,
lewat mesin pencari dunia maya,
di bait-bait puisi,
tapi kau telah hilang
bersama menguapnya embun.
***
subuh 2
Hah, akhirnya...
Pagi ini aku tak memimpikanmu
Semalam,
ya semalam,
aku telah menanammu dalam puisi.
Kau terkubur dan rebah
menjadi kata.
***
aku tahu
Aku tahu sekarang
Aku tak mencintaimu
Aku pun kini tak ingat wajahmu
Aku, ternyata
hanya mencintai bayang-bayang
Setiap bayang-bayang
yang berkelebat mendekatiku.
Aku mencintai mimpiku
kehampaanku
khayalanku.
***
Posted at 09:01 pm by qaris
Permalink
Friday, July 01, 2005
|
Terus terang aku terlambat membaca novel ini. Jauh setelah orang-orang terperangah dengan gaya bertuturnya, jauh setelah novel ini dianugrahi sebagai karya sastra terbaik di Inggris. Tapi tak ada salahnya untuk telambat, daripada tidak sama sekali.
Novel yang ditulis dengan kacamata seorang pengidap autisme (Christopher) ini amat menarik. Kita bisa mendalami apa yang ada di tempurung kepala seorang pengidap autisme. Bagaimana mereka ternyata tidak memiliki imajinasi, tidak bisa membaca mimik muka seseorang, mengharuskan segalanya teratur (mirip dalam film Rainman, dibintangi Dustin Hoffman dan Tom Cruise), menyerap semua informasi secara serius seperti komputer, luar biasa cerdas pada satu hal, dan tidak paham metafora apalagi sastra. |

|
Berawal dari kisah yang amat sederhana (keinginan Christopher untuk mengetahui pembunuh anjing Nyonya Sheere), novel ini bergulir menjadi sebuah petualangan mengasyikkan memasuki otak Christopher. Dengan bahasa yang amat sederhana, lugas, novel ini justru amat menggugah. Emosi dibangun bukan dengan kata-kata bersayap yang puitis (karena Christopher tak paham kata bersayap), tapi lewat keluguan. Terkadang lucu, meski Christopher tidak berniat melucu, karena dia tidak paham akan gurauan (Ia merumuskan humor dengan rumus matematika!).
Sedemikian kuatnya, hingga kita seakan-akan percaya bahwa novel ini dibuat oleh seorang penderita autisme.
Oh ya, bab-bab dalam novel ini tidak dinomori dengan nomor biasa (1,2,3 dan seterusnya), tapi dengan bilangan prima (2,3,5,7, dst). Menurut Christopher, hidup ini seperti bilangan prima: logis, tapi tak bisa dirumuskan dengan pasti dalam satu kaidah.
Posted at 03:43 pm by qaris
Permalink
|
|