|
Sunday, February 18, 2007
Kineforum Dewan Kesenian Jakarta (Artcinema) sudah beberapa pekan ini memutar film-film masa lalu. Setiap hari. Tiga film untuk satu pekan. Saya sempat menonton dua film karya Teguh Karya, Ibunda dan Cinta Pertama.Ibunda adalah bentuk film realis nomor wahid. Ceritanya sederhana, diperankan oleh aktor dan aktris yang bermain wajar, penuh detil yang halus tapi bermakna. Salah satunya adalah saat Alex Komang memberitahu akan menceraikan isterinya (Ayu Azhari). Sang ibu, Tuti Indramalaon, tidak bereaksi berlebih, hanya air mukanya yang berubah (bahkan matanya tidak melotot), melihat putra lainnya dan berkata lirih, "Apa?" Fuih, jauh sekali dengan gaya berangasan aktor sinetron. Bahkan adegan memadamkan lampu di pagi hari memiliki makna, bukan adegan usus buntu. Bagaimana dengan Cinta Pertama? Ini memang lebih dramatis. Lebih banyak tawa dan air mata, tapi tetap wajar. Yang paling memesona adalah wardrobenya. Kostum yang dibuat oleh Iry Supit ini memang cantik. Terutama baju Ade (Christine Hakim). Terkhusus yang dipakainya di kerta api, di awal film. Kemeja ketat, jins boot cut, sepatu putih berplatform tebal, dan sapu tangan sutra kuning yang diikat di leher. Luar biasa! Bahkan daster rumahan yang dipakai ibu Ade (Nani Wijaya) juga amat bagus. Untungnya, baju Slamet Raharjo tidak dibuat luar biasa, maklum dia adalah orang kampung. Pas. Ada juga yang mengganggu. Dalam Ibunda, adegan teater Alex Komang, meski penting untuk menggambarkan kehidupannya sebagai aktor debutan, agak berlebihan. Juga sulih suara untuk lagu-lagu di Cinta Pertama, yang seharusnya dibuat lebih wajar. Misalnya, saat Ade menyanyikannya dengan piano di ruang keluarga, rasanya Idris Sardi tak perlu menambahi musiknya dengan instrumen lainnya. Anyway, keduanya adalah film yang layak tonton, bahkan hingga saat ini. Keduanya menyuguhkan kewajaran.
Posted at 11:34 am by qaris
Permalink
Tuesday, January 16, 2007
hei norah menyanyilah karena langit malam sedang cerah
dan seperti balon sesat kaki kami siap melangkahi gemintang ya, ada juga rembulan yang membuat kami terjaga
Posted at 11:51 am by qaris
Permalink
Thursday, January 04, 2007
di sini
aku terbenam
kota hanya tinggal keriuhan.
tak ada gedung dan menara.
ada langit
dan awan bak pasukan berjuta
di sini
yang tersisa hanya aku
dan kesendirian
di sini
kata-kata kehilangan pesona
Posted at 08:18 pm by qaris
Permalink
orkestra senja yang senyap
senja ini aku memesan langit lembayung untukmu ketika mentari terkubur di balik barisan gedung angkuh ketika ia menyepuh emas pada gemawan dan... sebuah bintang menutup orkestra yang senyap dan... tiba-tiba aku bisa bahagia
(Terimakasih buat Melly untuk fotonya)
Posted at 07:54 pm by qaris
Permalink
Tuesday, December 26, 2006
Menghidupkan Dunia yang Hilang
 Dengan nada tinggi namun lirih, Kunthi mengutuki keponakannya, para
Kurawa. Mereka telah menolak ajakan damai Pandawa yang disampaikan
putranya, Kresna. "Sandhanganmu wis dudu kaendahan kang mbabar pasemon."
Busanamu sudah tak lagi tentang keindahan kemanusiaan. Begitu bait itu
selesai, gending ditabuh cepat, dan perang Baratayudha pun pecah.
Kamis,
7 Desember, adegan yang diambil dari lakon Tanding Gendhing itu
ditampilkan di aula Hotel Dharmawangsa yang mewah. Di hadapan 300
penonton yang rela membayar Rp 1 juta untuk selembar karcis.
Pertunjukan istimewakah?
Sepertinya begitu. Iwan Tirta,
perancang busana yang menggagas pagelaran itu, telah menyiapkannya
sejak 1961. Sejak ia mendatangi satu per satu abdi dalem keraton untuk
menanyakan motif batik klasik yang sudah punah. Sejak ia memelototi
foto hitam putih para penari Bedhoyo dari abad silam. Sejak ia mulai
merekonstruksi batik-batik kuno yang tak lagi dibuat.
Malam itu
adalah puncak dari usaha Iwan. Bukan hanya pada penciptaan kembali
batik kuno, tapi juga asesoris dari emas 24 karat yang bahkan kini tak
lagi dimiliki oleh keraton, kecuali dalam kondisi rapuh dan dipajang di
museum. Malam itu, Iwan merayakan keberhasilannya.
Ada Iwan, tapi tak ada peragaan busana dengan model yang melenggak-lenggok di atas cat-walk.
Kali ini Iwan ingin memamerkan busananya dalam cara yang berbeda.
Batik-batik hasil rekonstruksi itu ditampilkan lewat para penari
Serimpi Anglir Mendhung dan pemain langendriyan atau
opera Jawa klasik. Para penari itulah model Iwan kali ini. "Hanya
dengan cara itu, batik dapat mengeluarkan keindahan maksimalnya," kata
Iwan.
Lewat empat penari Anglir Mendhung---salah satu jenis
tari serimpi yang sudah langka---Iwan memamerkan batik bermotif Gagak
Seta. Sedang untuk sembilan pemain langendriyan, Iwan juga membuat
sembilan motif batik klasik, sesuai dengan karakter dan jabatan
tokohnya. Di antaranya Semen Gedhe Pradan yang dilapisi emas 24 karat
untuk Kresna, Poleng dengan kotak hitam-putih mirip papan catur untuk
Bima, dan Alas-alasan untuk Gendari dan Kunthi.
Iwan tak mau
tanggung-tanggung. Ia tak hanya menampilkan keaslian batik klasik, tapi
juga berkeras agar seluruh elemen pertunjukan itu dibuat seasli
mungkin. Untuk itu ia menggandeng pakar busana adat tradisional Jawa,
KRAy. S. Dirdjodiningrat, dan ahli keris Haryono Guritno.
Lewat
tangan KRAy. S. Dirdjodiningrat yang akrab disapa Bu Maktal inilah
batik-batik Iwan dipakaikan dalam bentuk aslinya, sesuai dengan
karakter, jabatan, dan kelas sosial pemakainya. "Kresna dan Duryudana,
misalnya," kata Bu Maktal. "Karena keduanya raja, maka harus didodoti
dengan cara Kampuhan Pradan dengan ekor kain yang lebih panjang dari
tokoh lain." Bahkan, sesuai dengan pakem, ia tak boleh menggunakan alat
apa pun, termasuk jarum pentul dan peniti, untuk mendandani penari
pria. "Hanya kain satu kain batik panjang dan seutas tali."
Demikian
juga dengan keris. Para penari memakai keris pusaka asli yang dipinjam
dari Museum Pusaka Taman Mini. Di sini, ahli keris Haryono bertugas
mencocokkan setiap keris dengan karakter pemakainya. Misalnya, Ladrang
Kagok Capu Kepala Rajamala yang runcing dan rigid dipakaikan ke sang
provokator perang, Sengkuni.
Bahkan panggung pun dibuat mirip
pendopo. "Karena pertunjukan Jawa harus bisa ditonton dari empat sisi,
bukan hanya dari depan seperti seni panggung Eropa," kata Iwan. Harum
melati, rajangan pandan, dan parutan kulit jeruk purut merebak.
Yang
sedikit keluar dari "pakem" adalah pembuatan tembang-tembang untuk
langendriyan yang tak lagi memakai model mocopat (tembang
pendek-pendek) yang biasa dipakai di langendriyan. Blacius Subono yang
menata musik juga memperlebar arena tebal volume. "Keluar dari pakem,
tapi tetap dengan warna tradisional," kata Blacius.
Di luar
improvisasi-improvisasi kecil, malam itu Iwan berhasil menghidupkan
kembali sepenggal dunia Jawa masa lalu. Merekonstruksi kembali kesenian
Jawa klasik dari berbagai dimensi: tekstil, tata busana, tata rias,
seni musik, tembang, dan tari.
Akhir bulan lalu, di sebuah
restoran bernuansa Jawa klasik. Ketika Jakarta mendung. Iwan
menyandarkan punggungnya yang lelah di kursi kayu "Dunia itu sudah
tidak kembali lagi," katanya. Di kursi sebelah, pria berusia 69 tahun
itu menggantungkan tongkat yang membantunya berjalan.
Qaris Tajudin (Majalah Tempo, edisi 17 Desember 2006)
Posted at 01:37 pm by qaris
Permalink
|
|