"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, November 26, 2006
Gagalnya Konsep Negara Gagal




Judul: The Failed States: The Abuse of Power and The Asault on Democracy
Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Metropolitan Books
Cetakan: I, 2006
Tebal: 311 halaman























































































































































































Setelah Perang Dunia II, Amerika memakai teori negara gagal untuk menyerang negara lain. Sebuah konsep isapan jempol untuk menghalalkan langkah mereka mencari keuntungan.


Presiden George Walker Bush kena batunya. Pemilihan parlemen yang digelar bulan lalu menyadarkan dia bahwa keputusannya untuk menumbuhkan ketakutan rakyat Amerika dengan mengatakan ada teroris yang mengintai nyawa mereka di ujung dunia sana, tak berhasil membuatnya menjadi pahlawan dalam waktu lama. Setelah isu itu berhasil membuatnya terpilih kembali menjadi presiden pada pemilihan 2004, kini popularitasnya terjungkal. Partai Republik tempatnya berasal tak lagi dipercaya mewakili rakyat. Anggota parlemen sebagian besar diisi oleh Partai Demokrat yang memiliki citra lebih suka damai.

Namun sejatinya, kesalahan Bush, dan juga sejumlah presiden Amerika Serikat lainnya yang menyarakan perang, jauh lebih mendasar dari sekadar masalah popularitas. Noam Chomsky dalam The Failed States: The Abuse of Power and The Asault on Democracy mengingatkan, hal ini akan berujung pada kehancuran peradaban. "Seluruh sistem Amerika dalam masalah, karena bergerak menuju penghancuran nilai-nilai kesejajaran, kebebasan, dan demokrasi," kata Gar Alperovitz sebagaimana dikutip Chomsky.

Menurut pakar bahasa itu, semua ini disebabkan oleh diadopsinya pandangan tentang negara-negara gagal (failed states) oleh Amerika. Ada dua macam negara gagal dalam pandangan pemerintah Amerika. Pertama adalah negara yang tidak mampu atau tidak mau melindungi rakyatnya dari kekerasan atau bahkan kehancuran. Kedua adalah negara yang cenderung mengabaikan hukum internasional hingga tak ragu menebarkan kekerasan ke negara-negara lain, terutama Amerika.

Dalam sejarah modern Amerika, negara gagal dengan model pertama "membutuhkan" intervensi untuk menyelamatkan anak bangsanya. Ini seperti yang dilakukan Amerika di Haiti atau Somalia, di mana kekerasan ada di mana-mana dan negara tak berfungsi. Itulah juga kenapa Amerika mendukung masuknya Indonesia ke Timor Timur untuk menghentikan kericuhan dan perang saudara di negeri yang baru merdeka itu.

Untuk negara kedua, kata Chomsky, Amerika juga melakukan serangan. Bukan untuk menyelamatkan negara itu, tapi untuk menghancurkan ancaman terhadap Amerika dan kepentingannya. Irak dan Afganistan adalah contoh mutakhir yang paling tepat. Kedua negara itu oleh Amerika dianggap menyimpan ancaman. Sebuah negara tempat teroris internasional berpangkal dan pemilik nuklir yang bisa mengancam siapa pun. Tindakan harus dilakukan, apa pun risikonya.

Namun dalam penerapannya ada ambigu dalam menilai sebuah negara telah gagal atau tidak, terutama dalam menilai negara gagal versi pertama. Tidak semua negara yang mengancam hak publik dan tak mampu melindungi rakyatnya dari kekerasan akan diserang oleh Amerika Serikat. Misalnya Irak di masa lalu, saat Saddam Hussein membantai ribuan orang Kurdi dan Syiah, Chile saat dipimpin Pinochet, atau Aljazair ketika demokrasi diberangus dan kekerasan terjadi di setiap jengkal tanahnya karena pemilihan umum yang dimenangkan Front Islamique du Salut dibatalkan. Terhadap ambiguitas ini orang sering menuduh Amerika telah menerapkan standar ganda. Menghukum negara gagal yang mereka benci dan membiarkan negara gagal yang mereka sukai.

Dalam pandangan Chomsky, tak ada standar ganda. "Terminologi itu tak tepat. Lebih akurat jika yang dipakai adalah standar tunggal," tulis Chomsky dalam bukunya itu. Standar tunggal yang dimaksudnya adalah standar yang telah ditetapkan oleh nabi kapitalis, Adam Smith: "Semua untuk diri kita, dan tak ada yang tersisa untuk orang lain." Standar tunggal Amerika adalah: "apa yang menguntungkan untuk kami."

Standar ini, menurut Chomsky, ada di alam bawah sadar orang-orang Amerika, termasuk saat berbicara soal terorisme. "Mereka meneror kita dan klien kita, maka itu adalah iblis. Sedang teror kita kepada mereka tak pernah ada, kalau pun ada itu dilakukan dengan benar."

Dominasi standar tunggal dan konsep negara gagal itu mengakar dan mengalahkan logika sehat. Intelijen Amerika bukannya tidak tahu jika mereka menyerang Irak, maka terorisme akan semakin bermunculan. Chomsky mengutip pernyataan Kepala CIA George Tenet kepada Kongres Amerika Serikat pada Oktober 2002. Saat itu Tenet mengatakan bahwa menyerbu Irak akan membuat Saddam membantu kelompok teroris Islam mendapatkan senjata pemusnah massal untuk menyerang Amerika. Hal yang sama juga diperkirakan oleh National Intelligent Council. Menurut mereka, serangan ke Irak hanya akan meningkatkan dukungan terhadap ekstrimis Islam. Sentimen terhadap Amerika juga meningkat.

Namun perkiraan intelijen ini kalah kuat dibanding cara berpikir tentang negara gagal dan standar tunggal yang ada di kepala mereka. Perang terhadap teror tetap dilakukan dengan cara yang salah. Akibatnya dapat diduga, alih-alih teror berkurang, kebencian terhadap Amerika dan dukungan terhadap kelompok militan justru bertambah.

Chomsky juga mengambil Indonesia sebagai negara muslim terbesar untuk contoh kasus ini. Menurut survei pada 2000, 75 persen orang Indonesia memandang Amerika dengan positif. Angka ini berkurang menjadi 61 persen pada 2002, dan meluncur menjadi 15 persen setelah Amerika menyerang Irak.

Hal ini dikuatkan dengan studi yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) Amerika. Menurut mereka, seperti dikutip Chomsky, 85 persen militan asal Saudi yang ikut berperang di Irak adalah orang-orang baru yang muncul setelah invasi Koalisi Amerika ke Irak. Mereka tidak tercantum dalam daftar hitam pemerintah, bukan anggota Al-Qaidah, atau simpatisan teroris. Mereka teradikalkan, justru, oleh aksi Amerika.

Kegagalan pendekatan negara gagal ini semakin dibuktikan saat kita melihat eskalasi kekerasan di dunia dalam 20 tahun terakhir. Selama 23 tahun, dari 1980 hingga 2003, ada 315 aksi bom bunuh diri di seluruh dunia. Sebagian besar dilakukan oleh Macan Tamil dan disusul oleh gerakan pembebasan Palestina pada sepuluh tahun terakhir. Namun sejak Amerika menginvasi Irak, sejak 2003 hingga awal 2006, artinya kurang dari tiga tahun, sudah ada 400 aksi bom bunuh diri. Tidak hanya di Irak, tapi juga di seluruh dunia.

Meski tak disebutkan Chomsky, tapi perlu dicatat, peledakan besar di Indonesia seperti Bom Bali I, Bom Bali II, peledakan Marriot atau Kedutaan Besar Australia, semuanya dilakukan setelah Amerika menyerang Afganistan. Bush adalah "humas" Al-Qaidah yang handal. Ia dapat menaikkan simpati terhadap kelompok militan, jauh lebih baik dari yang pernah dilakukan oleh Usamah bin Ladin.

Selain soal bingkai berpikir yang sudah seperti itu, Amerika Serikat memang butuh musuh baru setelah Komunisme hancur. Sejumlah musuh diciptakan---termasuk narcoterrorism atau terorisme narkotika---namun terbukti itu semua tidak cukup handal untuk membuat rakyat Amerika ketakutan. Mereka sadar itu berbahaya, tapi tidak cukup berbahaya untuk membuat mereka berlindung di ketiak pemerintah.

Mencari musuh baru setelah Komunisme hilang adalah idiom lawas yang sudah berkali-kali dikunyah-kunyah oleh sejumlah pakar. Chomsky menambahkan hal baru. Sejak selesainya Perang Dunia II, alasan utama Amerika untuk menyerang negara gagal adalah untuk melindungi demokrasi. Namun setelah Uni Soviet hancur, masalah demokrasi tak laku lagi. Dalam sejumlah dokumen yang memaparkan justifikasi Amerika dalam menyerang Irak, tak satu pun menyebut kata demokrasi.

Memang, Bush masih membual tentang demokrasi saat menyerang Irak, tapi itu bukan jualan utamanya. Jajak pendapat yang dilakukan Gallup pada warga Irak menyatakan bahwa hanya 1 persen dari mereka yang yakin bahwa invasi ke Irak adalah untuk mengukuhkan demokrasi di negeri itu. Lalu untuk apa? Kembali lagi pada ideologi Adam Smith, semuanya adalah untuk keuntungan Amerika dan kliennya.

Hal yang sama, menurut Chomsky juga dilakukan oleh Paul Wolfowitz saat menjadi Duta Besar di Indonesia. Berdasarkan studi Jeffrey Winters, kehadiran Wolfowitz adalah untuk menyiapkan panggung untuk untuk kejatuhan ekonomi Indonesia pada 1997 yang mengakibatkan puluhan juta orang jatuh ke jurang kemiskinan. Menurutnya, Wolfowitz adalah satu-satunya duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia yang tidak peduli dengan masalah hak asasi manusia dan demokrasi. Pidato-pidato Wolfowitz lebih banyak tentang investasi dan stabilitas.

Meski berbeda isu---antara demokrasi dan keamanan---sesungguhnya apa yang dilakukan Bush tak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para pemimpin Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. "Di mana demokrasi cocok dengan kepentingan keamanan dan keuntungan ekonomi Amerika Serikat, maka Amerika Serikat akan mendukung demokrasi. Di mana demokrasi bertabrakan dengan kepentingan itu, Amerika akan tak acuh, bahkan menghindarinya."

Pada akhirnya, tak ada satu pun dalil yang dapat membenarkan teori negara gagal. Yang gagal adalah Amerika dalam menciptakan dunia yang lebih baik, bahkan untuk diri mereka sendiri.

Qaris Tajudin

Untuk artikel lengkap  buku-buku tentang Amerika pasca 11 September, baca di ruangbaca.com

Posted at 12:30 pm by qaris
Kasih Komentar  

Sunday, November 19, 2006
Melukis dengan Kata-kata


Jangan minta aku menghitung hidupku
peristiwa demi peristiwa sambung menyambung, puanku.

Masa-masa yang kulewati seperti
jutaan tahun

Perjalanan jauh memenatkan ranselku
Penat oleh punggung kuda dan peperangan

Tak ada payudara ... hitam atau putih
kecuali aku tanam di tanahnya panji-panjiku

Tak tersisa jengkal di tubuh molek
kecuali aku lewatkan di atasnya gerobakku

Aku turunkan beban di atas kulit perempuan
dan aku bangun piramida mimpi

Dan aku tulis puisi ... tak ada yang menyamai sihirnya
kecuali firman tuhan di Taurat

Dan hari ini aku duduk di atas atap perahuku
seperti pencuri ... aku mencari jalan selamat

Kuputar kunci harem ... maka tak kulihat
di bawah bayangan kecuali tengkorak orang mati

Mana perempuan tawananku? Mana budak-budakku?
Mana asap wangi yang menyesaki kamarku?

Hari ini mereka membalas dendam ...
Menghujaniku dengan hunjaman demi hunjaman

Aku seperti lampu jalanan, sobat
Aku menangis ... tak seorang pun melihat air mataku

Birahi pernah menjadi rumahku
Ia tak mampu menahan kesedihanku

Dan cinta ... semua seperti sama
seperti kemiripan daun-daun di hutan

Aku telah tua pada cinta
atau lelah oleh birahi

Semua jalan di depanku tertutup
Dan ringkasannya ... kutuliskan dalam kata-kata

N. Qabbani

Posted at 04:12 pm by qaris
Kasih Komentar  

Sayap Terkutuk


Aku bertemu Lucifer semalam
"Aku lebih percaya setan blau dan kuntilanak!"
"Tapi hanya aku yang memberimu sayap."
Ia mengerat punggungku
dan menacapkan pokok sayap ke dalamnya.
Mencabuti otot-ototku
dan mengikatnya pada sayap baruku.
"Kau membuatku kesakitan."
"Tak ada makan siang yang gratis,
bahkan untuk bekerja sama denganku."
"Aku tak mau menjadi hambamu."
"Lucifer tak punya sahaya.
Aku hanya memberimu kebebasan.
Terbanglah!"

Aku berputar di atas kegelapan,
mencari orang-orang tak beruntung.
Seorang gembel terbangun di depanku.
"Siapa kau, malaikat atau hantu?"
"Malaikat."
"Tapi sayapmu hitam."
"Ini karena polusi."
"Aku tak percaya."
"Apa yang membuatmu percaya?"
"Berbuat baiklah seperti malaikat."
"Aku tak bisa memberimu makan malam.
Malaikat tak punya duit."
"Kalau begitu kau iblis.
Semalam dia datang,
membantuku mencuri untuk makan malam,
karena iblis tak punya duit."

Aku berputar di atas kegelapan,
mencari orang tak beruntung.
Seorang pelacur mengedipkan mata padaku.
"Siapa kau, pelanggan atau tramtib?"
"Malaikat."
"Tapi mulutmu bacin."
"Aku belum bersikat gigi saat diangkat menjadi malaikat."
"Aku tak percaya.
Mulut bacin hanya milik pria penipu."
"Apa yang bisa membuatmu percaya?"
"Beri aku cinta."
"Malaikat tak boleh berperasaan. Kami tak punya cinta."
"Kalau begitu kau salah satu pelangganku.
Mungkin aku sedang mabuk.
Aku sudah lelah, kembalilah besok."

Aku berputar di atas kegelapan,
mencari orang tak beruntung.
Orang yang baru dirampok berteriak padaku.
"Siapa kau, polisi atau perampok?"
"Malaikat."
"Tapi matamu merah."
"Saat terbang, debu masuk ke dalam mataku."
"Aku tak percaya.
Hanya berandalan mabuk yang matanya merah."
"Apa yang membuatmu percaya?"
"Singkirkan kekejian dari dunia."
"Kejahatan selalu ada untuk keseimbangan dunia.
Hanya di surga kekejian musnah."
"Kalau begitu kau polisi,
mereka selalu berjanji,
tapi tak pernah menepati."

Aku berputar di atas kegelapan,
kutemukan diriku sebagai orang paling tak beruntung.

Q

Posted at 09:43 am by qaris
Kasih Komentar  

Friday, November 17, 2006
Kalau Saja Aku di Madrid

Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan begadang berdua
di kamar mungil
hanya kita berdua.
Dalam kegelapannya, kita saling mencari tangan
kita minum arak di cangkir kayu.
Kita menciptakan, mungkin, sebuah pulau
bebatuannya adalah emas
pepohonannya adalah emas
seorang ratu berkuasa di sana.

Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan melihat bagaimana Spanyol
menyala oleh api besar
api dari matamu.
Kita mengetahui nikmatnya tersesat di jalan-jalannya
sedang wajah kita di bawah hujan
Kita saling meremas jemari dan membuka hati
Dan kita tahu, di sini cinta memiliki kelezatan

Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan berakhir malam di kanisah
kita membawa lilin dan minyak
dengan kedamaian dan cinta
kita mengadu kepada-Nya
kita menengadahkan kepala kepada-Nya
semoga Ia, di tahun yang baru, wahai kekasih yang jauh
mengumpulkan kita setelah keterasingan
di sebuah rumah dindingnya cinta
yang atapnya cinta

Kalau saja aku di Madrid di malam tahun baru
kita akan memenuhi perapian dengan ranting warna-warni

Posted at 11:53 pm by qaris
Kasih Komentar  

Monday, November 06, 2006
Adaptasi

Oke, ini bukan seperti tulisan-tulisan lain di blog ini yang sok serius. Bukan juga ingin mencoba tulisan curahan hati ala blog. Saya cuma mau mencoba menulis apa yang saya rasakan setelah beberapa hari tidak menekan-nekan tuts papan kunci.

Hari ini saya baru masuk kerja setelah libur beberapa hari. Tak ada yang berbeda dari pagi-pagi sebelum libur. Tapi yang jelas berbeda dari hari-hari libur. Hari ini saya kembali harus bangun pagi setelah tidur yang singkat.

Semalam ada film yang menahan saya untuk tidur cepat: Great Expectations. Dulu sekali saya pernah menonton film dengan judul yang sama tapi dengan naskah yang masih asli. Masih hitam putih, maklum dibuat pada 1946. Disutradarai oleh David Lean, tidak banyak yang saya ingat dari film ini, kecuali scene-scene muram dan sedikit mengerikan.

Yang saya tonton semalam adalah versi adaptasinya, dibintangi oleh Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, dan Robert de Niro. Oke, pasti ada yang menganggap film adaptasi ini tidak lebih bagus dari aslinya. Tapi bagi saya, film ini jauh lebih menarik.

Pertama, karena alasan pribadi. Saya sedang berusaha mengadaptasi kisah-kisah klasik Indonesia dalam bentuk yang lebih modern. Tentu, banyak hal yang harus diubah agar cerita itu cocok dengan keadaan masa kini. Yang membingungkan adalah, sejauh mana batas-batasnya. Sejauh mana kita bisa melenceng dari naskah asli?

Great Expectations adaptasi yang ditulis ulang oleh Mitch Glazer dari naskah Charles Dickens ini mengubah banyak nama tempat (lebih Amerika) dan juga alur cerita. Banyak yang harus dikorbankan, tentunya. Bagi yang sudah membaca novel Dickens, adapatasi ini adalah pengkhianatan. Tapi bagi saya, adaptasi ini berhasil menghadirkan kembali spiritnya, meski dalam bentuk yang berbeda.

Alasan kedua, kenapa film adaptasi itu lebih menarik, karena memang saya kurang senang dengan film bersetting masa lalu. Kalau bisa dibuat adapatasinya, kenapa pula harus setia pada setting masa lalu?

Apa pun, yang jelas saya mendapatkan banyak pelajaran dari menonton film yang cuma dapat ponten 6,3 dari imdb.com itu. Hampir tidak ada batas untuk mengadaptasi sebuah kisah kuno. Kita bisa membuatnya menarik dengan memasukkan banyak plot dan scene baru. Meski itu akhirnya disebut pengkhianatan.

Omong-omong, saya gagal menuliskan apa yang saya rasakan di hari pertama kerja. Saya tetap menulis sesuatu yang hampir mirip beberapa tulisan lain di blog ini, ulasan tentang film. Mohon dimaklumi, itulah yang ada di pikiran saya sejak semalam.

Posted at 09:01 am by qaris
Kasih Komentar  

Previous Page Next Page