"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, May 20, 2006
Wayang



Pada punggung terbuka pelacur yang tidur tengkurap itu,

terdapatlah lukisan rajah seekor kuda yang berlari.
Suatu malam kuda itu melompat lewat jendela,
berlari ke luar kota, menuju padang terbuka.
Kitab Omong Kosong
, Seno Gumida Ajidarma


  Ketertarikan pertamaku pada kisah-kisah pewayangan adalah lewat komik RA Kosasih yang diterbitkan secara serial majalah anak-anak pada 1980-an awal. Masih lekat dalam ingatan bagaimana Bhisma tewas oleh panah Amba pada suatu senja. Wajah tuanya menggambarkan kesedihan luar biasa. Kosasih, dengan kesederhanaan komik hitam putihnya, mampu menghadirkan nyawa para tokohnya. Begitu berkarakter dan mampu tersimpan dalam otak selama puluhan tahun.

Mungkin karena aku tinggal di pesisir utara Jawa hingga tidak akrab dengan budaya Jawa yang satu ini. Bahasanya yang terlalu halus dan jarangnya orang menanggap wayang di tempatku adalah sebabnya. Akhirnya aku harus mengenal wayang lewat tangan kedua, tangan seorang komikus, bukan tangan seorang dalang.

Pertemuan kedua adalah lewat tulisan-tulisan Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir. Adegan-adegan Mahabarata begitu indah dilukiskan. Saya kira, di antara tulisan-tulisan GM dalam Catatan Pinggir yang kekal adalah serial wayangnya. Kisah Drupadi yang diseret pada rambutnya, gugurnya Bhisma di tangan mereka yang pernah ditimang-timangnya, kisah Destarastra, Karna yang meski berjuang untuk Kurawa namun memiliki semangat perjuangan dan perlawanan.

Selanjutnya aku terkesima pada cara Sindhunata mengkisahkan Ramayana dalam buku Anak Bajang Menggiring Angin. Begitu puitis dan indah.

Kosasih, GM, Sindhu, adalah dalang-dalang modern yang dapat menceritakan Mahabarat dan Ramayana dengan indah. 'Sabetan-sabetan' mereka adalah kata-kata puitis dan afektiv yang kuat. Tanpa wayang, tanpa layar, tanpa gamelan, mereka mampu menghadirkan kisah-kisah itu seperti nyata. Hingga aku membaca Kitab Omong Kosong karangan Seno Gumira Ajidarma.

Meski ditulis dua tahun lalu, namun baru belakangan ini aku membacanya. Dan aku yakin, daftar penulis wayang modern di atas harus ditambah seorang lagi. Tidak hanya cara penceritaan khas Seno yang ringan, tapi juga puisi-puisi yang dibubuhkan di semua tempat. Adaptasi di sana-sini, tapi itu tak terlalu mengganggu.

Posted at 05:54 pm by qaris

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry