"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< June 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, June 18, 2005
jazz... and everyone’s happy


fugimundi
Erasmus Huis, Jakarta
17 Juni 2005

Eric Vloeimans (terompet),
Ernst Reijseger (cello),
dan Anton Goudsmit (gitar).
 


Ini benar-benar jazz. Kenakalan dan keisengan, serta semangat bermain kanak-kanak dicurahkan untuk membuat sebuah pertunjukan musik yang memukau. Semalam di Erasmus Huis, Jakarta, trio pemusik jazz asal Belanda, Eric Vloeimans (terompet), Ernst Reijseger (cello), dan Anton Goudsmit (gitar) memberi pelajaran baru tentang musik. 

Vloeimans meniup terompetnya dengan lembut, menghasilkan suara yang menenangkan. Tiba-tiba Reijseger membelokkan keseriusan dan kecantikan suara terompet itu dengan gesekan dan juga betotan pada cellonya yang nyeleneh. Goudsmit pun mengekor dengan petikan-petikan gitar yang membuat musik semakin lari dari partitur.

Jazz adalah musik kemerdekaan dan ketiganya mengerti benar akan  kemerdekaan itu. Mereka tidak hanya membebaskan bunyi dari not-not skor yang tertulis rapi di atas kertas, tapi juga membebaskan alat musik untuk mengeluarkan bunyi semaunya.

Rejseger adalah bintang dalam masalah ini. Di tangannya, cello tidak hanya digesek, tapi juga dipetik berdiri seperti kontra bas, dipetik dengan dipangku seperti bas elektrik, dan bahkan menjadi perkusi. Ia juga membuat cellonya seperti hidup, berjalan menaiki anak tangga sambil mengeluarkan bunyi dari benturan antara kaki cello dengan anak tangga.

Hanya bertiga dan mereka serasa orkestra lengkap. Cello Reijseger memberi suara musik klasik, trompet Vloeimans memberi atmosfir jazz 1950-an, dan gitar menghadirkan nuansa modern, bahkan rock.

Ketiganya memanjakan jiwa bermain kanak-kanak. Maklum, Reijseger adalah penyuka game elektronik yang luar biasa (dari kegemaran ini muncul lagu berjudul Prince of Tiberian) dan Vloeimans adalah fans Harry Potter (sebuah lagu juga lahir dari fanatisme ini).

Mengantuk menonton jazz? Oh jangan sampai. Trio ini tak kalah lucu dengan pelawak Trio Patrio. Ketiganya memiliki selera humor yang amat tinggi dan tidak malu untuk mengekspresikannya di atas panggung.

Meski demikian, di saat yang sama mereka benar-benar serius memainkan musiknya. Mendengar lagu demi lagu, mendengar mereka memainkan hanya tiga alat musik, membuat kita melambung. Trompet menyediakan permadani atau savanah tempat kenangan berlabuh, sedang cello yang digesek berjuang menyeret kita kembali ke kenangan masa lalu. Fuih... orgasme!


Posted at 09:14 am by qaris

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry