"Mirrors should think longer before they reflect,"
Jean Cocteau

Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berjusta. Ia berjusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia ngibul tentang timur dan barat.
Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk.

"The mirror crack'd
from side to side;
"The curse is come upon me,"
Alfred Tennyson

   

<< June 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, June 11, 2005
puisi kematian

Death in itself is nothing; but we fear
To be we know not what, we know not where.

Dryden

Semua orang ingin ke surga, tapi tak ada yang mau mati. Kita, dan juga sebagian besar orang di atas dunia ini amat takut akan kematian. Seperti kata Dryden, kita takut karena kematian adalah sesuatu yang tidak kita tahu, sesuatu yang misterius.

Tidak demikian dengan para penyair Jepang. Dari haiku (puisi pendek) yang mereka tulis menjelang kematian, kita tahu mereka melihat kematian secara berbeda. Seperti sebuah permulaan perjalanan yang berbeda. Perjalanan menuju arah matahari tenggelam di musim semi.

Para penyair Jepang dan juga para pendeta Zen memang terbiasa untuk menulis puisi menjelang kematiannya. Sangat pendek, hanya tiga sampai empat baris, tapi dapat mengungkapkan apa yang ada di kepala mereka saat elmaut datang menjemput.

***

Hai anak muda
jika kau takut mati,
matilah sekarang!
Mati cuma sekali,
kau tak akan mati lagi.
Hakuin (1685-1768)

Satu bulan
satu aku
jalan padang bertabur salju.
Shofu (1848)

Aku menulis, menghapus, menulis lagi
menghapus lagi, dan kemudian
bunga candu mekar.
Hokushi (1718)

Tahun ini aku ingin
melihat seroja
dari sisi lain.
Jakura (1906)

"Firdaus,"
aku bergumam, dalam tidur
dalam kelambu.
Chora (1776)

Kini musim semi telah datang
ke duniaku.
Selamat tinggal!
Bainen (1905)

Perjalanan ke barat
jalan yang dilalui semua orang:
padang bunga.
Baiseki (1716)

Selamat jalan--
Aku lewat saat
embun menyentuh rerumputan.
Banzan (1730)

Oh, aku tak peduli
ke mana awan musim gugur
berarak.
Bufu (1792)

Aku melewati
tahun berlalu--
hari ini batasnya.
Bunzan (1787)

Aku juga pernah melihat rembulan
dan kini, dunia
benar-benar milik kalian.
Chiyoni (1775)

Badai musim gugur:
aku tak punya urusan lagi
di dunia ini.
Ensetsu (1743)

Apa itu kematian?
Bebas, dari diriku sendiri
Ho! Ho!
Ensetsu (1743)

Tahun berakhir:
Aku tak meninggalkan hatiku
di belakang.
Hankai (1882)

Sejak aku lahir
aku harus mati
jadi...
Kisei (1764)

Hari ini
hidupku tercermin di
semarak pagi
Jomei
 

Posted at 03:40 pm by qaris

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry