Baik sebagai penyair atau teoris puisi, dan juga sebagai pemikir dengan visi radikal untuk budaya Arab, Adonis telah memberi pengaruh pada masanya dan juga pada para penyair Arab muda. Namanya menjadi padanan untuk modernisme (hadatha). Ia memberontak semua aturan dan juga keyakinan yang ada di sana. Puisi-puisinya terasa begitu mengejutkan dan menantang kebudayaan.
***
Dialog
Siapa kau? Siapa yang kau pilih, oh, Mihyar?
Ke manapun kau pergi, selalu ada ngarai Tuhan atau Setan
sebuah ngarai datang, sebuah ngarai pergi.
Dan dunia adalah pilihan.
Aku memilih tak Tuhan atau pun Setan.
Keduanya punya dinding.
Keduanya menutup mataku.
Kenapa mengganti satu dinding dengan yang lainnya,
saat kebingunganku adalah kebingungan
seluruh pengetahuan?
***
Bahasa Dosa
Aku membakar warisanku, Aku berkata:
"Negeriku adalah perawan, dan tak ada pemakaman di masa mudaku."
Aku lebih penting dari Tuhan dan Setan
(jalanku melintasi jalan Tuhan dan Setan).
Aku menyeberangi bukuku,
dalam prosesi petir berkilat,
prosesi petir hijau,
berteriak:
"Setelahku tak ada Surga, tak ada Musim Gugur,"
dan punahlah bahasa dosa.
***
Yatim
Seorang pecinta berguling di kegelapan Neraka
sebagai batu, Aku.
Tapi aku berpendar.
Aku berkencan dengan para pendeta wanita
di ranjang dewa kuno.
Kata-kataku adalah prahara yang menderak-derak kehidupan,
dan percik api adalah laguku.
Aku adalah bahasa untuk dewa agar datang,
Aku adalah penyihir debu.
***
Kepada Sisyphus
Aku berjanji untuk menulis di atas air,
Aku berjanji untuk betah dengan Sisyphus
batu tanpa kata.
Aku berjanji untuk diam bersama Sisyphus
terdera demam dan bunga api,
dan mencari dengan mata buta
lembar terakhir
yang ditulis untuk musim gugur dan rumput
puisi tentang debu.
Aku berjanji untuk hidup bersama Sisyphus.
***
Wajah Perempuan
Aku tinggal di wajah seorang perempuan
yang tinggal dalam gelombang
terdampar oleh pasang
di pantai yang telah hilang pelabuhannya
dalam cangkangnya.
Aku hidup dalam wajah seorang perempuan
yang membunuhku,
yang ingin menjadi
suar padam
yang dalam darahku berlayar
menuju ujung terujung dari kegilaan.
***
Doa
Wahai Phoenix, Aku berdoa
bahwa kau tetap dalam abu,
bahwa kau tak memandang cahaya atau (matahari) terbit.
Kami tak juga mengalami malammu
tak berlayar menyeberangi kegelapan.
Wahai Phoenix, Aku berdoa
bahwa sihir mati,
rendezvous kita jadi
api dan debu.
Wahai Phoenix, Aku berdoa
bahwa kegilaan menjadi petunjuk kami.
***
Petunjuk untuk Perjalanan di Rimba Makna
Apa cermin itu?
Wajah kedua,
dan mata ketiga.
Apa pelangi itu?
Tubuh gemawan
dan tubuh matahari
saling berpelukan
mencumbu tubuh bumi.
Apa pantai itu?
Bantal untuk ombak yang penat.
Apa puisi itu?
Kanak-kanak
yang hidup dalam pelukan abadi.
Apa tenggelam itu?
Keringat yang mengucur dari
jasad mentari.
Apa mimpi itu?
Orang lapar yang tak cukup
mengetuk pintu kenyataan.
Apa bahagia itu?
Pertengahan jalan
di antara dua taman.
Apa ciuman itu?
Petikan seorang pria
untuk buah yang bukan miliknya.
Apa cakrawala itu?
Ruang yang bergerak
tanpa batas
Apa makna itu?
Awal ketanpa-maknaan
dan akhirnya.