Wednesday, May 27, 2009
Setiap kali aku
merindu,
muncul ulat di kebun,
berjingkat dengan perut
melintasi daun jambu.
Sebentar juga dia
akan menelannya,
karena pada hijau daun,
mata waktu menitipkan kenangan.
Lama ia
istirah dalam duka,
berkemul dalam
air matanya sendiri.
Setelah duka didiamkan
ia mampu merobek jaring air mata,
menjadi kupu-kupu
dan terbang ke arahmu.
Satu rindu,
satu kupu-kupu,
mengindahkan hidupmu.
Semalam aku merindu,
begitu rindu.
Tetes air mata beribu,
keluar dari mataku,
berjingkat dengan perut,
menuju daun jambu.
Subuh…
tumpas sudah daun jambu
ribuan ulat menggelantung
di tulang-tulang daun yang kurus.
Seribu, rindu,
seribu kupu-kupu,
menderu ke arahmu.
Mereka terbang ke kamarmu,
menelusup
lewat jendela yang kau buka untuk embun,
lewat pintu yang kau buka separuh.
Menempel
pada kaca jendela yang kabur,
pada rekahan dinding,
cat yang terkelupas,
di atas seprei putih
yang kau ganti
setiap pagi.
Seribu rindu,
seribu kupu-kupu
menyesaki duniamu.
Kini kau tahu,
kenapa rindu
menyiksaku selalu.
Posted at 09:57 pm by qaris
Permalink
Tuesday, May 26, 2009
Di mana burung bersarang?
Di mana burung bersarang?
Pada pagi yang ditinggalkannya?
Atau pada senja yang didatanginya?
Mungkin di malam hari, ketika ia tidur padanya.
Tanyakan saja kepadanya.
Sudah.
Katanya, ia bersarang
pada siang,
dengan
terang yang memanggang,
ingin yang melukai,
rindu yang menderitakan.
Namun,
pada siang,
ia hidup dan merdeka.
Aku bersarang padamu,
karena kau bukan kebahagiaan pagi,
karena kau bukan ketenangan malam.
Kau adalah siang
yang
membakar
melukai
menderitakan.
Namun,
padamu,
aku hidup dan merdeka.
Posted at 01:15 am by qaris
Permalink
sungguh, kita tak pernah bicara
sepatah kata pun
sungguh, kita tak pernah menyapa
seuluk salam pun
tapi
sungguh, mata kita pernah bertatap
tak lepas sekedip pun
Posted at 01:13 am by qaris
Permalink
pagi sudah sampai
debu (juga kenangan tentangmu)
mengerak di atas daun, bekas embun semalam,
karena embun bukan hujan, selalu ada yang tersisa,
debu, duka
aku sudah sampai
debu (juga kenangan tentangmu)
masih menempel di jaketku, sepanjang perjalanan,
karena perjalanan bukanlah kematian, selalu ada yang tersisa
debu, duka
Posted at 01:12 am by qaris
Permalink
Elang datang
dengan sayap terentang:
Telah hilang
perempuan
bermata buah badam.
Halilintar
bergetar
bawa kabar:
Dia melompat pagar
dengan kaki gemetar.
Lalu,
semua tampak jelas bagiku.
Kau hanya ingin berlalu,
karena waktu
telah mengalahkanmu.
Bukan karena Karna telah menjemputmu.
Posted at 12:33 am by qaris
Permalink